KPK Telisik Dugaan Pengurangan Pajak Jhonlin Baratama

Nasional | rm.id | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:38
KPK Telisik Dugaan Pengurangan Pajak Jhonlin Baratama

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami penghitungan nilai pajak PT Jhonlin Baratama yang diduga tidak sesuai dengan penghitungan pajak dalam aturan perpajakan.

Hal itu didalami penyidik komisi antirasuah saat memeriksa dua saksi dari unsur swasta, Rabu (15/9). Kedua saksi, yakni Riskiana Novi Andriani dan Sugiyono, diperiksa untuk tersangka Agus Susetyo, konsultan pajak PT Jhonlin Baratama.

"Para saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan peran tersangka AS, yang diduga melakukan penghitungan nilai jumlah pajak yang tidak sesuai dengan penghitungan pajak sebenarnya sebagaimana aturan perpajakan," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri lewat pesan singkat, Kamis (16/9).

Penyidik KPK kemarin juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua saksi lainnya, yakni Vithe Vista Duriin Ulaan dan Ditya Permata Handayani. Namun, keduanya tidak memenuhi panggilan KPK. "Dilakukan penjadwalan ulang," imbuhnya.

KPK menetapkan enam tersangka dalam kasus korupsi pemeriksaan perpajakan tahun 2016 dan tahun 2017 pada Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Keenamnya adalah Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak periode 2016-2019 Angin Prayitno Aji dan mantan Kepala Subdirektorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak Dadan Ramdani.

Kemudian, konsultan pajak PT Bank PAN Indonesia (Bank Panin) Veronika Lindawati, konsultan pajak PT Gunung Madu Plantations, Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Maghribi, serta perwakilan PT Jhonlin Baratama, Agus Susetyo.

KPK menduga Angin dan Dadan menerima uang miliaran rupiah dari tiga perusahaan besar itu. Dari Bank Panin, keduanya menerima uang sebesar 500 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 5,39 miliar, dari kesepakatan atau komitmen sebanyak Rp 25 miliar melalui Veronika pada 2018.

Kemudian dari PT Gunung Madu Plantations, Angin dan Dadan menerima sebesar Rp 15 miliar melalui Ryan Ahmad dan Aulia Imran pada Januari-Februari 2018.

Sementara dari PT Jhonlin Baratama, sebesar 3 juta dolar Singapura atau sekitar Rp 39 miliar, melalui Agus Susetyo pada Juli-September 2019. [OKT]

Artikel Asli