Indikator Pandemi Membaik, Waspada Gelombang Ketiga

jawapos | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 12:52
Indikator Pandemi Membaik, Waspada Gelombang Ketiga

JawaPos.com Indikator pandemi nasional kian membaik. Per 14 September 2021, Satgas Penanganan Covid-19 mencatat kasus aktif nasional berkurang 83,92 persen dari puncaknya pada 24 Juli 2021. Saat itu total kasus aktif nasional mencapai 574.135 orang, sedangkan kemarin (15/9) tercatat tinggal 84.963 orang.

Per akhir Juli konsisten turun. Agustus juga turun terus. Sekarang sudah di bawah 100 ribu, kata Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah.

Selain itu, sudah tidak ada provinsi di Indonesia yang tingkat keterisian tempat tidur isolasi atau BOR-nya di atas 30 persen. Sementara itu, BOR ICU masih ada yang di atas 60 persen. Rerata BOR ICU dan isolasi nasional saat ini tercatat 13,38 persen. Dewi mengatakan, sejauh ini tren penurunan kasus aktif cukup stabil. Kalau ditarik garis linier ke bawah, bakal terjadi penurunan stabil di pekan-pekan mendatang, ujarnya.

Kendati demikian, cakupan vaksinasi masih harus ditingkatkan. Satgas mencatat total 118 juta orang sudah divaksin. Angka tersebut merupakan kumulatif dosis kesatu, kedua, dan ketiga. Namun, kumulatif vaksinasi dosis kesatu masih berkisar di angka 74 juta atau 35,92 persen dari target populasi. Sedangkan kumulatif vaksinasi dosis kedua berjumlah 42 juta atau 20,22 persen dari total sasaran vaksinasi, yakni 208 juta warga Indonesia.

Dewi menyatakan, kecepatan yang bisa dicapai dalam beberapa hari terakhir adalah 10 juta injeksi dalam waktu 8 hari. Masih banyak PR. Vaksinasi, 3M, dan 3T yang sempat menurun. Yang kita butuhkan saat ini adalah konsistensi meskipun kondisi cukup stabil, tuturnya.

Selain itu, dibutuhkan usaha bersama. Kedisiplinan individu maupun kolektif saat beraktivitas di ruang publik. Selama pandemi belum dicabut statusnya, berarti masih terjadi di seluruh dunia. Kita masih punya tantangan varian-varian baru juga. Kita masih harus waspada. Belum boleh lengah, tegas dia.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengungkapkan, meski data-data nasional menunjukkan perbaikan, perlu dicatat, hal itu dalam level makro. Di level daerah, bisa saja masih terjadi penularan yang cepat. Selama itu belum dapat dikendalikan, Indonesia belum bisa banyak bicara soal transisi ke epidemi atau endemi. Ini baru data nasional. Perlu melihat keseharian masyarakat. Kita perlu melihat, merasakan langsung, apa yang terjadi di lapangan. Kasus kesakitan maupun kematian yang sangat bervariasi antardaerah, paparnya.

Ujung dari performa pengendalian di level kabupaten/kota adalah konsistennya indikator-indikator pengendalian. Misalnya tes yang mencapai standar, tracing 1 per 15 kontak, serta penerapan 3T dan 3M yang kuat. Harus konsisten. Tidak boleh naik turun, ujarnya.

Per minggu pertama September, Indonesia memang sudah mencapai benchmark 1 orang dites per seribu populasi per minggu. Menurut Dicky, itu kali pertama setelah 1,5 tahun pandemi. Namun, selama tes tidak memadai dan banyak kasus tidak terdeteksi, benchmark tersebut tidak bakal berarti. Jadi, harus tercapai standar tesnya, 3M dan 3T-nya secara konsisten, baru dikatakan terkendali, ucap dia.

Setelah itu tercapai pun, lanjut Dicky, selama status pandemi belum dicabut WHO, masyarakat belum bisa beraktivitas dengan aman. Apalagi, saat ini ada berbagai varian baru yang muncul. Tanpa 3T yang kuat, kita menunggu bom waktu potensi gelombang ketiga masih bisa terjadi, ungkapnya.

Sementara itu, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksinasi bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengalokasikan vaksin Johnson & Johnson untuk masyarakat adat dan kelompok rentan. Vaksin jenis itu hanya memerlukan satu kali suntikan. Khususnya di luar Jawa, akan membuat vaksinasi lebih efisien karena tak perlu dua kali penyelenggaraan vaksinasi, tutur Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia Hamid Abidin.

Koalisi masyarakat, menurut Hamid, sudah bekerja membantu pemerintah melakukan vaksinasi bagi masyarakat adat dan kelompok rentan. Sejauh ini lebih dari 30 kabupaten/kota di sembilan provinsi sudah divaksin Covid-19. Dari pengalaman itu, menggelar vaksinasi di luar Jawa bukan hal yang mudah. Faktor jarak, kondisi jalan, hingga sarana transportasi bisa menyurutkan minat warga, ungkap dia.

Menurut Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi, vaksin Johnson & Johnson lebih cocok digunakan di daerah yang warganya tinggal jauh dari kota. Sebab, akses angkutan kendaraan minim. Vaksinasi untuk difabel juga perlu mendapat perhatian. Berdasar pengalaman vaksinasi bagi kalangan penyandang disabilitas di Bantul Agustus lalu, kata Rukka, dibutuhkan persiapan sangat panjang, tempat khusus, juru bahasa isyarat, dan tenaga pendamping tambahan.

Buyung Ridwan Tanjung, cofounder Organisasi Harapan Nusantara (Ohana), menjelaskan bahwa penyelenggara vaksinasi harus melakukan edukasi agar penyandang disabilitas mau divaksin. Lokasi vaksinasi juga tidak bisa asal pilih. Harus ramah bagi pengguna kursi roda, kruk, atau alat bantu lainnya. Belum lagi, tak semua penyandang disabilitas memiliki kendaraan, ujarnya.

Di bagian lain, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah menambah jumlah vaksinator. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah. Dengan begitu, daerah dapat memperbanyak sentra pelayanan vaksinasi dan bisa merealisasikan target vaksinasi harian.

Menurut Bambang, Kemenkes perlu melakukan pemerataan jumlah vaksinator di seluruh sentra vaksin di Indonesia, khususnya di wilayah yang masih rendah cakupan vaksinasinya. Mengingat hal itu penting dalam mempercepat proses pemberian vaksinasi Covid-19 guna mengejar kekebalan kelompok.

Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, mendesak Kemenkes dan dinas kesehatan di setiap daerah untuk melakukan evaluasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 secara berkala. Agar diketahui solusi dari setiap kendala atau hambatan yang terjadi pada pelaksanaan vaksinasi di masing-masing daerah, tuturnya.

Artikel Asli