BPIP: Ideologi Asing Antipancasila di Sekolah Jadi Tantangan

republika | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 11:01
BPIP: Ideologi Asing Antipancasila di Sekolah Jadi Tantangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prakoso, mengatakan, sejumlah tantangan besar menghalangi aktualisasi Pancasila dalam kehidupan pendidikan nasional. Menurut dia, fenomena seperti kehadiran ideologi asing yang anti terhadap Pancasila, intoleransi, eksklusivisme, kekerasan, dan bullying , masih kerap terjadi di lingkungan sekolah.

"Nampak menjadi bukti yang kuat yang perlu kita hadapi bersama. Untuk itu pendidikan Pancasila perlu masuk dalam kurikulum pendidikan saat ini," ujar Prakoso dalam webinar bertajuk Sinergi Mewujudkan Tenaga Pendidikan dan Pelajar Berkarakter Pancasila, Kamis (16/9).

Dia mengatakan, diperlukan peran tenaga pendidik dalam menghadapi tantangan pembinaan ideologi Pancasila kepada murid-murid. Khususnya memberikan pemahaman nilai-nilai Pancasila serta menjadi teladan bagi para peserta didik.

Prakoso menuturkan, untuk menghadapi sejumlah isu permasalahan yang besar tersebut, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memiliki peran yang sangat strategis sebagai institusi yang mempunyai tugas menghasilkan tenaga-tenaga pendidik di Indonesia. LPTK perlu menyiapkan para tenaga pendidik yang mampu memahami permasalahan isu strategis pembinaan ideologi Pancasila.

LPTK dapat memasukkan pembinaan ideologi Pancasila ke dalam substansi pelajaran calon tenaga pendidik. Khususnya dalam membentuk guru yang berkompeten, profesional, dan berkarakter Pancasila. "Peran guru sebagai agen pembumian Pancasila dalam pendidikan nasional, maka gotong-royong bersama dari seluruh pihak sangat diperlukan," kata Prakoso.

Dia berharap, nantinya guru dapat berperan membantu para peserta didik dalam pengekspresian potensi-potensi diri agar terarah secara positif dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Para murid sudah semestinya diberikan ruang yang luas untuk mengeksplorasi potensi diri dan berekspresi secara kreatif.

Artikel Asli