Tiongkok Hadapi Masalah Baru, Muncul Klaster Baru Covid-19 Imbas PTM

jawapos | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 08:52
Tiongkok Hadapi Masalah Baru, Muncul Klaster Baru Covid-19 Imbas PTM

JawaPos.com Pembelajaran tatap muka (PTM) di Putian, Provinsi Fujian, Tiongkok, berdampak luar biasa. Terjadi klaster penularan baru Covid-19 di kota tersebut yang berhubungan dengan anak-anak sekolah. Awalnya hanya guru dan siswa yang diuji Covid-19. Tapi, begitu kasus tidak terkendali, kini seluruh penduduk dites. Kota tersebut memiliki sekitar 3,2 juta penghuni.

Dilansir Agence France-Presse, pasien pertama yang dicurigai mengakibatkan wabah di Fujian adalah seorang pria yang baru kembali dari Singapura. Dia mengalami gejala penularan justru setelah dikarantina selama 14 hari. Di akhir masa karantina, hasil tesnya negatif.

Pria ini memiliki putra yang berusia 12 tahun. Bocah tersebut dan seorang temannya termasuk pasien awal yang terdeteksi pekan lalu. Kasus ini ketahuan tak lama setelah masa sekolah baru dimulai. Virus yang diduga didominasi varian Delta tersebut menyebar melalui ruang kelas dan menginfeksi lebih dari 36 siswa. Sebanyak 8 di antaranya adalah murid TK.

Ini persebaran terkait sekolah yang terbesar pertama sejak awal pandemi, ujar otoritas setempat.

Kini, total ada lebih dari 100 kasus di Fujian. Senin (13/9) lalu ada 59 kasus penularan lokal baru. Padahal, sehari sebelumnya, kasus baru hanya 22 saja. Sebagian besar kasus baru tersebut ada di Fujian.

Tiongkok sudah menginjeksikan lebih dari 2 miliar dosis vaksin Covid-19. Itu cukup untuk memvaksinasi sekitar 70 persen penduduknya. Namun, kasus di Putian tersebut menimbulkan kekhawatiran pada anak-anak yang masih rentan tertular dan belum divaksin.

Saat ini pemerintah setempat memerintahkan agar sekolah menghentikan PTM. Kota Xiamen yang dekat dengan Putian juga menerapkan aturan serupa. Mereka juga menghentikan layanan bus jarak jauh dan mengetes seluruh penduduknya.

Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok di Singapura juga memperingatkan penduduknya agar lebih waspada ketika bepergian ke negara tersebut. Mereka harus bersiap menghadapi kesulitan psikologis dan ekonomi jika pulang kembali ke Tiongkok.

Artikel Asli