Soal Mural Dan Poster Jokowi Asyik-asyik Aja

rm.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 08:05
Soal Mural Dan Poster Jokowi Asyik-asyik Aja

Apakah Presiden Jokowi terganggu dengan maraknya mural dan poster bernada satir dan kritik ke pemerintah? Jokowi menyatakan, biasa-biasa saja. Apakah Jokowi juga senang dengan penangkapan pembuat mural dan pembawa poster? Jokowi memastikan, tidak sreg.

Dua jawaban itu tersirat dari mulut Presiden saat ditanya maraknya penangkapan pembuat mural dan pembawa poster, saat bertemu dengan pemimpin redaksi media massa baik cetak maupun elektronik, di Istana Presiden, Jakarta, kemarin.

Saya sudah terbiasa dikritik, digitu-gituin, kata Jokowi, sambil menyebut kembali kalimat-kalimat hinaan yang pernah dilayangkan ke dirinya. Disebut PKI, planga-plongo, king of lip service , dan macam-macam, sudah nggak aneh lagi, katanya.

Jokowi mengaku, tak tersinggung, marah atau dongkol ketika melihat beragam kritik yang muncul lewat mural dan poster. Biarkan saja, kalau sudah anarkis, lain ceritanya, ucapnya, kasih penekanan dan pengecualian.

Kalau Bapak biasa-biasa saja, kenapa yang buat mural diburu dan pembawa poster ditangkapin Pak, apa itu perintah Bapak? Atau hanya ulah aparat di lapangan? Terkait hal ini, Jokowi menyatakan tak pernah memberikan perintah seperti itu. Kapolri juga tak pernah memerintahkan seperti itu.

Sudah saya tanya Kapolri, tak ada perintah begitu, kata Jokowi.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, pembuat mural Jokowi 404: Not Found di Tangerang, Banten, diburu polisi. Ada juga pembuat mural Jokowi tertutup masker, di Bandung, juga diburu polisi. Namun, belakangan perburuan terhadap pembuat mural itu, dihentikan. Pihak kepolisian hanya menghapus mural-mural tersebut.

Justru penangkapan terkait gambar Jokowi 404 Not Found , terjadi di Tuban, Jawa Timur. Tema mural yang viral di Tangerang itu, dijadikan gambar sablon di kaos dan diperjualbelikan. Yang ditangkap, yakni pembuat dan penjual kaos tersebut.

Selain mural, ada juga aksi pembawa poster saat kunker Jokowi, juga ditangkap. Pertama, terjadi di Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (7/9). Seorang peternak ayam petelur bernama Suroto, nekat membentangkan poster bertuliskan Pak Jokowi, bantu peternak dengan harga jagung yang murah,.

Akibat aksinya itu, Suroto langsung diamankan petugas kepolisian, berikut dengan poster yang dibawanya. Tapi, hanya berapa jam, dia dilepaskan. Terbaru, saat Jokowi berkunjung ke Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (13/9). Sejumlah mahasiswa UNS nekat membentangkan poster bertuliskan Pak tolong benahi KPK dan Tuntaskan pelanggaran HAM di masa lalu, ketika Jokowi sedang melintas. Akibat aksinya itu, 10 mahasiswa ditangkap polisi. Namun, beberapa jam kemudian, dilepaskan juga.

Jokowi ternyata mengetahui juga beragam mural itu. Juga soal poster-poster itu. Jokowi melihat biasa saja isinya.

Jokowi sama sekali nggak dendam, apalagi benci. Tadi, saya undang Pak Suroto, peternak telur dan para petani unggas lainnya ke sini, tutur Jokowi sambil menggerakkan jari telunjuknya.

Memang, sebelum bertemu dengan para pemred di sore hari, Jokowi terlebih dulu menerima Ketua Pinsar Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso, Ketua Koperasi Putera Blitar Sukarman, dan Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun di Istana Negara. Termasuk Suroto, peternak yang sempat bikin heboh karena bentangkan poster dan kemudian ditangkap.

Khusus ke Suroto, Jokowi ngorek-ngorek soal kasus penangkapan. Jokowi nanya, dibawa ke mana saat ditangkap. Suroto jawab: ke kantor Polisi. Jokowi nanya lagi: ditanya apa saja. Suroto menjawab: hanya nama, alamat rumah. Setelah itu, saya disuruh pulang, kata Jokowi menirukan jawaban Suroto selanjutnya.

Suroto memang jadi bintang di pertemuan Jokowi dengan para asosiasi peternak, kemarin. Foto-foto Jokowi dan Suroto juga tampil khusus di situs Setkab, juga para petinggi Istana. Misalnya, Juru Bicara Kepresidenan, Fajdroel Rachman yang ikut memposting pertemuan Jokowi dan Suroto lewat akun media sosial milikya.

Suroto begitu senang bisa menginjakkan kaki di Istana dan bertemu Jokowi. Dia menceritakan kesannya, juga kasusnya. Awalnya, peternak ayam petelur ini sempat tak percaya. Ketika pada Selasa (14/9) pagi, ia mendapat kabar untuk segera berangkat ke Jakarta, menemui Jokowi.

Saya kaget, ah ini pasti bohonglah. Ternyata, ya betul, ungkapnya, dengan rasa haru, di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Yang pertama dilakukan Suroto ketika bertemu Jokowi adalah minta maaf. Karena ia merasa, gara-gara aksi nekatnya itu, telah membikin repot semuanya. Tapi, respons Jokowi, di luar dugaan.

Pak Jokowi mengatakan, wah ndak apa-apa. Justru itu bagus. Kalau ndak ada saya, Pak Jokowi ndak akan tahu apa permasalahan yang terjadi di rakyat. Kadang kan laporannya ndak nyampe, tuturnya, meniru ucapan Jokowi.

Aspirasi yang sebelumnya disuarakan di poster, yakni agar peternak mendapatkan harga jagung yang wajar, langsung dikabulkan Jokowi. Sesuai dengan yang disuarakan di posternya. Bukan murah, tapi wajar. Kalau murah, saya merugikan rekan saya yang petani, ucap Suroto.

Ia kemudian meluruskan simpang-siur bunyi poster yang dibentangkan itu. Dalam banyak berita yang beredar, isi posternya kurang dua kata di ujungnya, yakni telur murah.

Sekali lagi, poster itu tulisannya begini: Pak Jokowi, bantu peternak jagung dengan harga wajar. Telur murah. Itu yang lengkap, jelasnya.

Pegiat asosiasi peternak ayam petelur di Kota Blitar itu mengaku nekat membentangkan poster, karena sudah terjepit. Sementara upaya mengadu ke Dinas Perdagangan, hingga Kementerian Pertanian belum membuahkan hasil.

Karena saya percaya, satu-satunya orang di Indonesia yang saat ini bisa menolong peternak ya Pak Jokowi. Ndak ada tendensi politik apa-apa ya. Murni karena saya sebagai peternak, tandas Suroto. [SAR]

Artikel Asli