Biografi Singkat Abdurrahman Wahid, Tokoh Agama dan Mantan Presiden Indonesia

limapagi.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 07:20
Biografi Singkat Abdurrahman Wahid, Tokoh Agama dan Mantan Presiden Indonesia

LIMAPAGI - Biografi singkat Abdurrahman Wahid, atau biasa disapa akrab sebagai Gus Dur. Beliau merupakan tokoh Muslim sekaligus pernah menjadi Presiden Indonesia yang ke-4, menggantikan Presiden sebelumnya, BJ Habibie.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940. Ia merupakan cucu dari Pahlawan Nasional yang terkenal pada masanya, KH. Hasyim Asy'ari.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi mengenai tokoh yang pernah memimpin Republik Indonesia.

Biografi Singkat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

(yayasantajululum)

Abdurrahman Wahid merupakan putra pertama dari keenam bersaudara. Bisa dibilang, Gus Dur lahir di kalangan keluarga yang terhormat dalam komunitas Islam.

Ayahnya bernama KH Wahid Hasyim, beliau merupakan putra dari seorang Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, KH. Hasyim Asy'ari.

Sedangkan ibunya bernama Hj. Solichah, beliau merupakan putri dari KH. Bisri Syansuri, seorang pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur.

Abdurrahman Wahid memiliki nama lahir Abdurrahman Addakhil, kata Addakhil yang artinya Sang Penakluk.

Namun sayangnya kata Addakhil tidak cukup dikenal dan akhirnya berganti menjadi Wahid.

Lalu, nama Gus Dur tercipta karena beliau lahir di lingkungan pesantren. Nama Gus Dur merupakan panggilan khas dan terhormat di lingkungan pesantren kepada seorang anak Kyai, yang berarti Abang atau Mas.

Pada akhir masa perang, tahun 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dikarenakan ayahnya yang pada saat itu diangkat menjadi Menteri Agama.

Ketika di Jakarta, Gus Dur sering diajarkan oleh ayahnya untuk membaca buku non-muslim, sejarah dan koran, dengan tujuan memperluas ilmu pengetahuannya.

Pada bulan April 1953, Gus Dur dan ayahnya pergi ke Sumedang, Jawa Barat untuk menghadiri pertemuan Nahdlatul Ulama dengan mengendarai mobil.

Namun nasib malang menimpanya, ia dan ayahnya mengalami kecelakaan dalam perjalanannya dan membuat ayahnya meninggal dunia.

Biodata Abdurrahman Wahid

Nama Abdurrahman Wahid
Panggilan Gus Dur Tempat dan Tanggal Lahir Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 Wafat Jakarta, 30 Desember 2009 Agama Islam Orang Tua Ayah: KH. Wahid Hasyim

Ibu: Hj. Solichah
Pasangan Sinta Nuriyah Anak Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari Gelar Mantan Presiden Republik Indonesia ke-4

Masa Kecil dan Pendidikan Abdurrahman Wahid

Setelah kematian sang ayah, pada tahun 1954, Gus Dur melanjutkan pendidikannya dan masuk Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Yogyakarta.

Ketika di Yogyakarta, ia juga belajar mengaji dengan KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan juga tinggal di sana.

Pada tahun 1957, Gus Dur telah lulus di SMEP tersebut dan melanjutkan pendidikannya di Magelang, tepatnya di Pondok Pesantren Tegalrejo yang dibimbing oleh KH. Chaudhary.

Di sana, Gus Dur menunjukkan bakatnya sebagai murid yang cerdas. Bahkan, ia hanya menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo dalam waktu dua tahun saja (harusnya empat tahun).

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Tegalrejo, pada tahun 1959 ia pindah ke Jombang untuk melanjutkan lagi pendidikannya, tepatnya di Pondok Pesantren Tambakberas.

Gus Dur juga mendapat pekerjaan pertamanya di sana sebagai guru, menjadi ustad dan juga sebagai jurnalis majalah, seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Karena kecerdasannya, pada tahun 1963 Gus Dur berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar.

Dalam berbahasa Arab, Gus Dur sangatlah mahir, tetapi ia tetap harus mengambil kelas di Madrasah Aliyah untuk mempelajari tentang Islam dan bahasa Arab.

Kemudian Gus Dur berhasil lulus dari kelasnya di Madrasah Aliyah. Pada tahun 1965, ia banyak mempelajari ilmu tentang Islam dan bahasa Arab.

Setelah itu, ia melanjutkan lagi pendidikannya di Universitas Baghdad dan lulus pada tahun 1970. Selanjutnya Gus Dur pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya.

Sayangnya ia ditolak di Universitas Leiden, karena pendidikannya ketika di Universitas Baghdad kurang diakui.

Perjalanan Karier Abdurrahman Wahid

Ketika pulang ke Jakarta, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Organisasi tersebut terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES kemudian mendirikan sebuah majalah Prisma dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut.

Selain bekerja di LP3ES, Gus Dur juga sering mengunjungi pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Dengan tujuan untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah.

Bahkan, Gus Dur juga mendalami kariernya di bidang jurnalis, seperti menulis majalah serta surat kabar. Dan artikelnya tersebut diterima dengan baik dan mulai ia kembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Lalu pada tahun 1977, bergabung ke Universitas Hasyim Asy'ari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam dan juga Universitas ingin agar Gus Dur mengajak subjek tambahan seperti syariat Islam dan misiologi.

Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Indonesia ke-4

(wikipedia) Abdurrahman Wahid Presiden Indonesia ke-4

Pada tahun 1998, banyak orang dari organisasi NU berharap pada Gus Dur untuk membentuk partai politik.

Pada tahun yang sama, Gus Dur menanggapi ide tersebut dan menyadari, bahwa membentuk partai politik.

Kemudian pada 7 Februari 1999, Partai Kebangkitan Bangsa secara resmi terbentuk dan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan Presiden.

Pada tahun yang sama, partai PKB turut serta dalam pemilihan pemilu legislatif. Lalu PKB kalah suara dengan PDIP.

Saat itu PDIP memiliki kursi mayoritas penuh, lalu membentuk aliansi dengan PKB, yang dipimpin oleh Gus Dur.

Pada bulan Juli, Amien Rais membentuk poros tengah, yaitu koalisi partai-partai muslim.

Pada 20 Oktober 1999, MPR mengadakan perkumpulan untuk mencari Presiden baru. Kemudian, Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden Indonesia ke-4 dengan perolehan 373 suara.

Pada masa pemerintahannya, Gus Dur membentuk suatu kabinet Persatuan Nasional yaitu kabinet koalisi dari berbagai partai politik, seperti PDIP, PKB, Golkar, PPP dan PAN.

Akhir Hayat Abdurrahman Wahid

Pada 30 September 2009, Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Penyebabnya karena komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama. Menurut adik dari beliau, Salahuddin Wahid, Gus Dur meninggal akibat sumbatan pada arteri.

Artikel Asli