Guru Bosowa School Terbitkan Buku

republika | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 07:31
Guru Bosowa School Terbitkan Buku

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR Para guru Bosowa School -- yang terdiri dari Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) Bogor, Bosowa Al Azhar Cilegon ( BAC), Sekolah Alam Bosowa Makassar dan Bosowa School Makassar menulis dan menerbitkan buku.

Ada dua buku yang diterbitkan, yakni antologi cerpen Breakout Rooms: Sebuah Antologi Ruang-ruang Hati , dan kumpulan artikel Sejuta Asa Pendidikan Kita.

Buku Breakout Rooms: Sebuah Antologi Ruang-ruang Hati memuat 18 cerpen. Sedangkan buku Sejuta Asa Pendidikan Kita memuat 20 artikel yang mengupas pengalaman para guru Bosowa School dalam mengajar dan mendidik, khususnya di masa pandemi Covid-19.

Direktur Bosowa School Asrul Hidayat dalam kata sambutan pada dua tersebut mengemukakan, literasi merupakan salah satu pilar pendidikan yang ada di Bosowa School. Dengan pilar literasi ini, Bosowa School mengajak seluruh warga sekolah, baik guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat untuk tidak hanya sekadar membaca dan menulis, namun mencakup ketrampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam berbagai media yang ada.

Untuk para pendidik khususnya guru-guru yang ada di Sekolah Bosowa, kegiatan literasi ini adalah sebagai bentuk pengembangan dan aktualiasi diri, belajar hal-hal baru dan mampu menuliskan dan menerapkannya ke dalam berbagai media, ujar Asrul Hidayat.

Deputi Akademik Pengembangan Kurikulum Bosowa School. Eko Aryanto mengatakan hal senada. Literasi merupakan salah satu pilar pendidikan yang ada di Bosowa School. Karena itu kami mendorong para guru Bosowa School, baik yang ada di Bogor, Cilegon maupun Makassar untuk menulis pengalaman, pemikiran mupun imajinasi mereka dalam bentuk tulisan, baik berbentuk artikel maupun certa pendek. Tulisan-tulisan tersebut lalu kami terbitkan dalam bentuk buku kumpulan artikel dan antologi cerpen, kata Eko dalam rilis yang diterima Republika.co.id , Rabu (15/9).

Ia menambahkan, Bosowa School akan mengadakan dua acara. Yakni, meet and greet dengan penulis pada akhir September 2021, dan grand launching buku dalam rangka momentum Bulan Bahasa pada Oktober 2021. Acara ini sebagai apresiasi untuk para guru yang sudah menulis dan menyemangati guru-guru lainnya yang belum menulis untuk segeras menulis artikel atau cerpen yang akan diterbitkan pada edisi-edisi berikutnya, papar Eko.

Head Division Kurikulum dan Literasi Bosowa School, Lies Rahmawati mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, Bosowa School sudah aktif di bidang literasi. Baik di kalangan guru maupun murid.

Jenis buku yang wajib dibaca oleh guru mencakup buku sejarah Rasul dan sahabat, penunjang kegiatan pendidikan, buku agama, dan buku penunjang hobi.

Para guru diharuskan membaca buku kemudian mereka menulis resumenya dan mempresentasikannya. Sebelum pandemi, jumlah buku yang wajib dibaca, diresume dan dipresentasikan sebanyak satu judul dalam sebulan atau 12 judul dalam setahun. Setelah pandemi, dan pembelajaran dilakukan secara online, untuk sementara waktu jumlah buku yang wajib dibaca, diresume dan dipresentasikan secara online dikurangi menjadi enam judul dalam setahun, kata Lies.

Ia menambahkan, setelah kegiatan literasi tersebut membaca dan menulis resume buku berjalan beberapa tahun, timbul pemikiran untuk mendorong pada guru Bosowa School menulis. Literasi itu artinya membaca, menyimak dan menulis. Kalau selama ini para guru membaca, menyimak dan menulis resume buku karya orang lain, mengapa mereka tidak menulis buku sendiri? Itulah yang menginspirasi kami untuk mendorong para guru Bosowa School menulis buku, tuturnya.

Untuk itu, Bosowa School mengadakan webinar tentang menulis yang diiikuti oleh para guru Bosowa School di Bogor, Cilegon dan Makassar. Setelah itu, pembuatan WA Group dan pendampingan. Sampai akhirnya terkumpul untuk tahap pertama sebanyak 20 artikel dan 18 cerpen.

Ke depan, kami harapkan buku pertama dan kedua karya para guru Bosowa School ini akan diikuti dengan buku-buku berikutnya. Tidak hanya itu, kami juga mendorong para siswa Bosowa School untuk menulis dan menerbitkan buku. Paling tidak, tiap semester ada minimal satu buku karya guru dan satu buku lagi karya siswa Bosowa School yang diterbitkan, ujar Lies.

Artikel Asli