KPK Kantongi Informasi Transaksi Janggal Dugaan Pencucian Uang Mantan Bupati Kutai Kartanegara

inewsid | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 07:00
KPK Kantongi Informasi Transaksi Janggal Dugaan Pencucian Uang Mantan Bupati Kutai Kartanegara

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengantongi informasi dugaan transaksi janggal mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari. Laporan dugaan transaksi mencurigakan tersebut diperoleh dari Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI).

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, segera menindaklanjuti data-data tersebut. KPK, kata dia akan menelaah terlebih dahulu sebelum dijadikan barang bukti dalam penyidikan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Rita Widyasari.

"Terkait laporan tersebut, informasi yang kami terima benar telah diterima bagian persuratan KPK. KPK memastikan akan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat tersebut dengan lebih dahulu melakukan verifikasi dan telaah terhadap data laporan tersebut," kata Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Kamis (16/9/2021).

Dia mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam membantu KPK memberikan data-data, maupun temuan yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Menurutnya, KPK membuka selebar-lebarnya pintu pelaporan bagi masyarakat jika mempunyai bukti valid terkait dugaan tindak pidana korupsi para penyelenggara negara.

"Kami sangat mengapresiasi pihak- pihak yang terus gigih berperan dalam upaya pemberantasan korupsi dimaksud," ucapnya.

Sebelumnya, Koordinator MAKI Boyamin Saiman menyerahkan laporan transaksi keuangan mencurigakan diduga terkait TPPU Rita Widyasari. Laporan tersebut diduga berisikan data-data aliran keuangan Rita Widyasari.

Dia mengungkapkan, transaksi mencurigakan itu dilakukan oleh beberapa perusahaan rentang waktu 2018-2020. Transaksi mencurigakan itu menggunakan mata uang asing yang diyakini mencapai puluhan miliar rupiah.

"Saya melaporkan pada KPK sebagai transaksi mencurigakan. Saya belum bisa menyampaikan ini dipakai untuk apa, tapi setidaknya cara-caranya yang tidak normal," kata Boyamin di Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Artikel Asli