ACT Dan MUI Berikan Bantuan Operasional Untuk 1.000 Dai Terdampak Covid-19

rm.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 07:07
ACT Dan MUI Berikan Bantuan Operasional Untuk 1.000 Dai Terdampak Covid-19

Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan 'Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia' dengan tujuan memuliakan para Dai dan mengurangi beban ekonomi, khususnya di masa pandemi Covid-19. Melalui gerakan ini, ACT akan memberikan biaya operasional kepada 1.000 Dai.

"Nilainya Rp 1 juta per Dai untuk tahap awal, berserta bantuan pangan dan air," ujar Pembina ACT Ahyudin di Jakarta, Rabu (15/9).

Menurutnya, para dai juga akan diberikan permodalan untuk menopang kegiatan ekonomi rumah tangganya. "Pemberian gaji bagian menghormati kepada para dai. Memang seharusnya kita memposisikan terhormat para dai," ujar Ahyudin.

Dampak Pandemi Covid-19, khususnya aspek ekonomi, juga dirasakan para dai atau penceramah. Kondisi ini disampaikan Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis.

Dia mengatakan umat Islam atau dermawan harus peka. Jangan sampai pada Dai itu sampai meminta-minta bantuan. Dengan kondisi tersebut, Nafis menyambut baik gerakan nasional sejahterakan Dai Indonesia oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Nafis menyampaikan gerakan tersebut merupakan kolaborasi antara ACT dengan MUI. ACT bertugas sebagai lembaga pengelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) serta wakaf dari masyarakat.

Sedangkan MUI nantinya menyiapkan data dai di bawah naungan mereka yang terdampak pandemi Covid-19. Untuk tahap awal bantuan dana operasional itu diberikan kepada seribu dai.

Nafis mengatakan dirinya menyaksikan langsung bagaimana para dai, penceramah, guru ngaji, serta penjaga masjid atau marbot terdampak pandemi Covid-19. Mulai dari kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dapur sampai keperluan lainnya.

"Para daitidak akan sampai meminta-minta bantuan di tengah kesulitan akibat pandemi. Begitupun ketika tampil di hadapan umat, para dai yang sejatinya kesulitan itu tetap tampil meyakinkan untuk menjaga kehormatan sebagai dai. Tetapi kitanya yang harus peka, ujar Nafis.

Nafis berharap program serupa juga bisa dilakukan oleh lembaga lain atau bahkan pemerintah. Para dai, penceramah, marbot masjid, guru ngaji, dan lainnya. Sehingga mereka tetap bisa hidup sejahtera di tengah pandemi Covid-19. [ NOV ]

Artikel Asli