Biografi Singkat Tjipto Mangoenkoesoemo, Dokter dan Tokoh Pergerakan Kemerdekaan

limapagi.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 06:20
Biografi Singkat Tjipto Mangoenkoesoemo, Dokter dan Tokoh Pergerakan Kemerdekaan

LIMAPAGI - Biografi singkat Tjipto Mangoenkoesoemo, beliau merupakan seorang dokter dan juga merupakan seorang tokoh Pergerakan Nasional.

Tjipto Magoenkoesoemo atau Cipto Mangunkusumo lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 4 Maret 1886. Beliau merupakan putra tertua dari Mangunkusumo, seorang priyayai rendahan dalam struktur masyarakat Jawa.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi mengenai pahlawan pergerakan kemerdekaan Indonesia, sekaligus seorang dokter.

Biografi Singkat Tjipto Mangoenkoesoemo

(archive.ivaa-online)

Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan salah satu tokoh pendiri Indische Partij , bersama dengan Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).

Mereka bertiga juga terkenal dengan sebutan Tiga Serangkai. Organisasi tersebut didirikan dengan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan kolonial Belanda.

Meskipun kedua rekannya mengambil jalur di bidang pendidikan, Tjipto Mangoenkoesoemo berjuang di bidang politik dengan menjadi anggota Volksraad .

Biodata Tjipto Mangoenkoesoemo

Nama Tjipto Mangoenkoesoemo
Panggilan Cipto Mangunkusumo Tempat dan Tanggal Lahir Jepara, Jawa Tengah, 4 Maret 1886 Wafat Jakarta, 8 Maret 1943 Agama - Orang Tua - Pasangan - Anak - Gelar Pahlawan Nasional

Masa Kecil dan Pendidikan Tjipto Mangoenkoesoemo

Pendidikan pertama yang dijalani olehnya yaitu di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Tjipto dikenal oleh teman dan gurunya sebagai anak yang cerdas.

Saat bersekolah di STOVIA, Tjipto bahkan menerima julukan dari gurunya, yaitu Een begaafd leerling atau murid yang berbakat.

Namun, ada beberapa peraturan di STOVIA yang mengganjal di hati Tjipto. Misalnya, seperti semua siswa Jawa dan Sumatera yang bukan beragama Kristen, diharuskan menggunakan pakaian tradisional di sekolah.

Menurutnya, peraturan tersebut merupakan bentuk perwujudan politik kolonial Belanda yang arogan dan melestarikan feodalisme.

Karena biasanya, pakaian tradisional seperti itu hanya digunakan oleh pribumi yang berpangkat tinggi, seperti Bupati.

Tjipto Mangoenkoesoemo menyampaikan keluhannya tersebut dalam tulisannya pada De Locomotief , yang merupakan surat harian kolonial yang berkembang pada masa itu.

Dalam tulisannya tersebut, Tjipto mengkritik hubungan feodal maupun kolonial yang dianggap tidak pantas pantas. Akibatnya, karena kritik tersebut, Tjipto diperingatkan dari pemerintahan.

Selain tulisan, Tjipto juga melakukan protes dengan cara bertingkah melawan arus. Seperti larangan memasuki sociteit bagi bangsa Indonesia dengan orang-orang asing.

Berdirinya Organisasi Boedi Oetomo

Organisasi Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908, hal tersebut mendapatkan sambutan baik dari Tjipto, dan ia menjadi salah satu anggota Boedi Oetomo.

Jati diri politik Tjipto mulai terlihat saat Kongres Pemuda pertama yang diadakan oleh Boedi Oetomo di Yogyakarta.

Sayangnya tidak berjalan lancar, pada saat itu terjadi konflik antara Tjipto Mangoenkoesoemo dengan Radjiman Wedyodiningrat.

Tjipto menginginkan Boedi Oetomo sebagai organisasi politik yang terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan Radjiman menginginkan Boedi Oetomo sebagai gerakan untuk kebudayaan yang bersifat Jawa.

Akhirnya, Tjipto mengalah dan mengundurkan diri dari Organisasi Boedi Oetomo yang saat itu ia sedang diangkat sebagai pengurus.

Indische Partij

(wikipedia) Tiga Serangkai

Setelah meninggalkan Boedi Oetomo, Tjipto mencoba membuka praktik kedokteran di daerah Solo, Jawa Tengah.

Kehadirannya di sana membuahkan hasil dan berhasil dalam memberantas wabah pes di Malang pada tahun 1911.

Karena jasanya tersebut, Dokter Tjipto mendapatkan penghargaan yaitu Bintang Emas. Penghargaan tersebut diberikan oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Meskipun sukses di dunia kedokteran, Tjipto tetap berjalan di jalur politik dan tidak meninggalkannya.

Perhatiannya dalam dunia politik semakin menggebu-gebu setelah bertemu dengan Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat.

Kedekatan mereka bertiga akhirnya dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai. Kemudian pada tahun 1912, mereka bertiga mendirikan Indische Partij .

Indische Partij merupakan organisasi yang mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia-Belanda, tanpa memandang apapun.

Pada tahun 1913, Belanda sedang memperingati 100 tahun kemerdekaannya di Perancis, bahkan peringatan tersebut dirayakan secara besar-besaran.

Namun menurut Tjipto, perayaan tersebut adalah sebuah penghinaan terhadap rakyat Bumi Putera yang sedang dijajah.

Lalu, dalam harian De Express , Tjipto menulis sebuah artikel yang mendukung Suwardi untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda.

Tulisannya ternyata membuat pemerintah Belanda tidak terima, akhirnya Tjipto dan Suwardi dipenjarakan. Lalu pada 18 Agustus 1913, Tiga Serangkai tersebut dibuang ke Belanda.

Pada tahun 1914, Tjipto diperbolehkan pulang ke Jawa karena alasan kesehatan. Sepulangnya, ia bergabung dengan Organisasi Insulinde.

Insulinde merupakan organisasi perkumpulan yang menggantikan Indische Partij pada saat itu.

Pengasingan hingga Akhir Hayat Tjipto Mangoenkoesoemo

(djangki.wordpress) Makam Tjipto Mangoenkoesoemo

Selama di Insulinde, Tjipto melancarkan propaganda di sana. Akibat propaganda yang dilakukan oleh Tjipto, pada tahun 1915 anggota Insulinde yang awalnya 1.009 menjadi 6.000 pada tahun 1917.

Hingga pada tahun 1919, jumlah anggota Insulinde meningkat drastis hingga 40.000.

Lalu pada 18 Mei 1918, Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat). Tapi menurut Tjipto, terbentuknya Volksraad merupakan kesempatan untuk dijadikannya tempat untuk menyatakan kritiknya, terutama pada urusan sosial dan politik.

Kemudian pada tanggal 25 November 1919, Tjipto berpidato di Volksraad .

Dalam pidato tersebut, Tjipto mengemukakan persoalan tentang Sunan dan residen dalam menipu rakyat. Saat itu, pemerintahan kolonial Belanda menilai Tjipto sangat berbahaya.

Akhirnya, Tjipto diusir ke daerah yang tidak bisa berbahasa Jawa pada 15 Oktober 1920.

Pembuangan Tjipto ke daerah-daerah tersebut, ternyata masih bisa membahayakan pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian Dewan Hindia-Belanda mengusulkan untuk membuang Tjipto ke Kepulauan Timor.

Lalu, pada tahun yang sama, Tjipto dibuang ke daerah yang berbahasa Jawa tapi masih di Pulau Jawa, yaitu Bandung.

Saat berada di Bandung, ia membuka praktik dokter selama tiga tahun dan juga ia bertemu dengan kaum nasionalis yang lainnya dan lebih muda, yaitu Soekarno.

Pertemuan mereka tersebut adalah alasan terbentuknya Algemeene Studieclub (klub kuliah umum) yang didirikan pada tahun 1923.

Pada tahun 1927, Algemeene Studieclub akhirnya berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Selama pengasingan, penyakit asma Tjipto kambuh, lalu ia diminta untuk menandatangani perjanjian, bahwa dirinya dapat pulang ke Jawa dengan melepaskan hak politiknya.

Tapi Tjipto Mangoenkoesoemo menegaskan, lebih baik mati di Banda daripada harus melepaskan hak politiknya.

Akhirnya ia dipindahkan ke Bali dan selanjutnya dipindahkan lagi ke Sukabumi pada tahun 1940. Setelah itu, penyakit asma yang ia derita mulai parah dan Tjipto wafat pada 8 Maret 1943.

Jenazahnya tersebut dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Ambarawa, Jakarta. Sebagai bentuk penghargaan, pada 17 Agustus 1964 pemerintah Indonesia mengabadikan namanya sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.

Lalu pada 19 Desember 2016, Pemerintah Indonesia mengeluarkan pecahan uang logam Rp.200 yang baru dengan wajah dari Tjipto Mangoenkoesoemo.

Artikel Asli