Groundbreaking Pabrik Industri Baterai Kendaraan Listrik Bye-bye… Era Kejayaan Komoditas Bahan Mentah

rm.id | Nasional | Published at Kamis, 16 September 2021 - 06:30
Groundbreaking Pabrik Industri Baterai Kendaraan Listrik Bye-bye… Era Kejayaan Komoditas Bahan Mentah

Presiden Jokowi melakukan peletakan batu pertamaatau groundbreaking pabrik industri baterai kendaraan listrik yang dibangun PT HKML Battery Indonesiadi Karawang, Jawa Barat, kemarin.

Jokowi didampingi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Investasi/Kepala Badan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Eks Wali Kota Solo itu mengatakan, nilai investasi pabrik tersebut mencapai 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp 15,68 triliun.

Ini pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia, bahkan pertama di Asia Tenggara, ungkap Jokowi.

Jokowi memastikan, hadirnya pabrik baterai listrik ini sekaligus menandakan era kejayaan komoditas bahan mentah akan berakhir. Indonesia akan keluar dari jebakan pengekspor bahan mentah.

Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Jokowi yakin dalam 3 tahun sampai 4 tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel. Seperti baterai lithium dan baterai kendaraan listrik.

Nilai tambah akan meningkat 6-7 kali lipat kalau nikel jadi sel baterai. Kalau jadi mobil listrik, nilainya bertambah 11 kali lipat, ucap Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini berharap, pembangunan pabrik ini ikut mendongkrak daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Langkah itu sekaligus menjadi penanda agar Indonesia terlepas dari ketergantungan impor.

Bolak-balik Ke Korsel

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bercerita soal sulitnya meloloskan negosiasi proyek pembangunan pabrik sel baterai mobil listrik dengan LG Energy Solution Ltd. Dia sampai harus bolak balik ke Korea Selatan (Korsel) tujuh kali dan mengganti draf nota kesepahaman puluhan kali.

MoU ( Memorandum of Undertanding )-nya dibuat 21 kali draf. Tujuh kali ke Korea baru bisa teken MoU. Luar biasa sekali negosiasinya, ungkap Bahlil.

Kendati begitu, Bahlil menegaskan, pembangunan ini melibatkan pengusaha nasional di daerah dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Ini konsep investasi hilirisasi terintegrasi yang pertama karena baterainya itu dari BUMN, tambangnya yang mayoritas. Smelter-nya dibangun di Maluku Utara. Di situ dekat dengan bahan baku, jelasnya.

Bahlil memastikan, pembangun pabrik ini bakal dikebut. Tahun 2022 diharapkan sudah bisa produksi.

Paling lambat Mei 2022 sudah produksi. Sudah paten. Insya Allah sudah produksi kita, ucapnya.

CEOLG Energy Solution Jonghyun Kim mengatakan, baterai yang akan diproduksi menggunakan teknologi baru nickel, cobalt, manganese dan aluminum. Dengan begitu, pembuatan baterai itu akan menggunakan 90 persen nikel katoda.

Kim juga menganggap, lokasi di Karawang adalah posisi terbaik untuk membangun pabrik. Apalagi wilayah tersebut memiliki 5 klaster industri, yaitu mobil, elektronik, bahan bangunan, makanan dan jasa logistik.

Dia akan aktif menggunakan pabrik bersama tersebut, sebagai basis utama menuju pasar kendaraan listrik global di luar pasar ASEAN.

Indonesia akan selangkah lebih dekat untuk membangun rantai pasokan kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia, ujar Kim.

Untuk diketahui, pemerintah meneken MoU dengan LG Energy Solution pada 18 Desember 2020. MoU ditandatangi setahun setelah Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Investasi, meneken nota kesepahaman pada proyek hilirisasai industri kendaraan listrik bersama Hyundai Motor Group.

LG bersepakat membentuk konsorsium dengan Hyundai Motor Group. Perusahaan asal Korea Selatan itu membentuk perusahaan patungan atau joint venture untuk membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik.

Dalam pelaksanaannya, konsorsium LG dan Hyundai juga bermitra dengan konsorsium BUMN melalui PT Industri Baterai Indonesia ( Indonesia Battery Corporation /IBC).

Konsorsium IBC itu beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara. IBC juga bermitra dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. [KPJ]

Artikel Asli