Biografi Singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Pemimpin Kesultanan Yogyakarta

limapagi.id | Nasional | Published at 15/09/2021 14:20
Biografi Singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Pemimpin Kesultanan Yogyakarta

LIMAPAGI - Biografi singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, seorang pemimpin Kesultanan pertama setelah Indonesia merdeka di Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki nama lahir yaitu Gusti Raden Mas Dorodjatun. Beliau lahir di Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) pada 12 April 1912.

Berikut ini tim Limapagi akan membahas tentang sejarah serta biografi seorang pemimpin Kesultanan di Yogyakarta pertama setelah Indonesia merdeka.

Biografi Singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX

(wikidata)

Sebagai keluarga bangsawan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan seorang putra dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara.

Beliau lahir pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Ngayogyakarta Hadiningrat (sekarang Yogyakarta).

Karena lahir dari keluarga Kesultanan, Sri Sutan Hamengkubuwono IX diangkat menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta ke-9 pada 18 Maret 1940.

Biodata Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Nama Gusti Raden Mas Dorodjatun
Panggilan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Tempat dan Tanggal Lahir Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta), 12 April 1912 Wafat Washington DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 Agama - Orang Tua

Ayah: Sri Sultan Hamengkubuwono VIII

Ibu: Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara

Pasangan - Anak - Gelar Pahlawan Nasional/Pemimpin Kesultanan Yogyakarta

Masa Kecil dan Pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Ketika berumur 4 tahun, Hamengkubuwono IX tinggal pisah dengan keluarganya. Pendidikan pertama yang dijalani di Europeesche Lagere School (ELS) di Yogyakarta.

Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya Hoogere Burgerschool (HBS) di Semarang HBS Bandung pada tahun 1925.

Setelah menamatkan pendidikannya di HBS, ia melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Rijkuniversiteit (Universitas Leiden) di Belanda.

Sejarah diangkat Menjadi Sultan Yogyakarta

Gusti Raden Mas Dorodjatun merupakan anak keturunan Sultan. Pada 18 Maret 1940, beliau diangkat menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta ke-9 dengan gelar Ngarsa Dalem Sampyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Snapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat .

Sebagai Raja Kesultanan, beliau sangat menentang penjajah Belanda dan bertujuan untuk mendorong Kemerdekaan Indonesia.

Beliau juga mendorong agar daerah yang ia pimpin, yaitu Yogyakarta agar mendapat predikat Istimewa dengan cara bernegosiasi dengan Pemerintah Indonesia.

Perjuangan Hamengkubuwono IX untuk Indonesia

(dpadjogja)

Ketika Indonesia sudah merdeka, keadaan perekonomiannya sangat buruk. Penyebabnya yaitu pihak Belanda memblokade ekonomi perdagangan dengan luar negeri.

Akhirnya, Hamengkubuwono IX ikut berperan dengan menyumbangkan 6 juta Gulden untuk Pemerintahan, kehidupan para pemimpin serta pegawai Pemerintahan yang lain.

Kemudian terjadilah perundingan Renville pada tanggal 19 Desember 1948. Kolonial Belanda melakukan Agresi Militer yang ke-2 untuk menyerbu Yogyakarta.

Pada akhirnya, Hamengkubuwono IX ditangkap Belanda, karena gelarnya tersebut takut mengancam keberadaan Belanda di Yogyakarta.

Bersamaan dengan kejadian tersebut, para tokoh bangsa seperti Soekarno, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir ditangkap Belanda serta diasingkan ke Pulau Bangka.

Pihak Belanda pernah melakukan negosiasi dengan Hamengkubuwono IX untuk bekerjasama, namun ditolak.

Pada akhirnya, Hamengkubuwono IX menuliskan sebuah surat, yang berisi meletakkan jabatan sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan diikuti oleh Sri Paku Alam.

Tujuannya agar masalah keamanan di wilayah Yogyakarta menjadi beban tentara Kolonial Belanda.

Sementara itu, Sultan tetap bergerak di belakang dalam memperjuangkan kemerdekaan. Hamengkubuwono IX diam-diam membantu para pejuang Indonesia dengan cara memberi bantuan logistik.

Selain itu, beliau juga memberikan tempat perlindungan bagi kesatuan-kesatuan TNI di lingkungan keraton.

Setelah banyaknya perjuangan, akhirnya pada 27 Desember 1949, ketika di Belanda berlangsung penyerahan kedaulatan, lalu Istana Merdeka juga terjadi penyerahan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda kepada Pemerintahan RIS.

Setelah kejadian tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono IX kembali mendapatkan kepercayaan untuk menerima penyerahan kedaulatan sebagai Wakil dari Pemerintahan RIS.

Akhir Hayat Sri Sultan Hamengkubuwono IX

(yogyes)

Pada saat di Amerika Serikat, pada tanggal 2 Oktober 1988, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menghembuskan nafas terakhirnya di George Washington University Medical Center, Washington DC.

Setelah itu, jenazahnya dikebumikan di pemakaman para Sultan Mataram di Imogiri, Kapubaten Bantul, DI Yogyakarta.

Itulah biografi singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai keturunan darah bangsawan, beliau tetap optimis dengan tujuannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menjadi Raja yang bijak.

(Sumber: Wikipedia)

Artikel Asli