Modali Pembebasan Lahan, Tertipu Rp 47,1 Miliar

jawapos | Nasional | Published at 15/09/2021 13:48
Modali Pembebasan Lahan, Tertipu Rp 47,1 Miliar

JawaPos.com Lily Yunita menawarkan kerja sama kepada Lianawati Setyo untuk mendanai pembebasan tanah atas nama H Djabar di Osowilangun. Tanah itu disebut telah dibeli Rp 800 ribu per meter oleh Rahmad Santoso dari ahli waris.

Jaksa penuntut umum Rahmad Hari Basuki dalam dakwaannya menyebutkan, untuk pengurusan dari pethok menjadi sertifikat di Jakarta, dibutuhkan biaya Rp 2 juta per meter. Terdakwa Lily meyakinkan bahwa urusan itu akan beres hanya dalam waktu 2,5 bulan.

Selain itu, kerja sama tersebut dijamin aman karena dia bersama adik dan mamanya juga berinvestasi di dalamnya. Dia mengaku sudah ada calon pembeli yang berniat membeli tanah tersebut Rp 3,5 juta per meter. Lily juga berjanji membeli pabrik Lianawati seharga Rp 1 juta per meter.

Lianawati tertarik dengan tawaran tersebut. Lily memintanya menyetor Rp 6,5 miliar. Dia berjanji mengembalikan Rp 8 miliar. Dia melalui adiknya juga memberikan cek Rp 8 miliar kepada Lianawati agar lebih meyakinkan. Berselang dua pekan, Lily kembali meminta Rp 20 miliar lagi. Alasannya, dana untuk pengurusan tanah kurang. Lianawati juga dijanjikan keuntungan Rp 14,7 miliar dari penjualan tanah seluas 9,8 hektare.

Uang Rp 20 miliar pun ditransfer Lianawati. Lily lantas menyerahkan cek Rp 34,7 miliar kepada Lianawati. Setelah itu, Lily terus meminta uang kepada Lianawati hingga beberapa kali untuk tambahan dana yang kurang. Modusnya sama. Setelah uang disetor, Lily akan memberikan cek kepada Lianawati. Hingga akhirnya, total uang yang disetor mencapai Rp 47,1 miliar.

Berselang lima bulan, Lily meyakinkan Lianawati dengan mengirim gambar-gambar letak tanah, surat pethok, surat pendaftaran tanah, denah, dan peta letak tanah. Dia mengaku bahwa eksekusi tanah telah berhasil. Setelah itu, Lianawati berniat mencairkan tujuh cek dari Lily. Ternyata tidak dapat dicairkan karena saldo tidak cukup atau rekening tutup, terang jaksa Hari.

Berdasar keterangan lurah Tambak Osowilangun, di lokasi yang dimaksud tidak pernah ada pembebasan lahan berdasar buku tanah klasiran. Pethok 397 atas nama Djabar pada 1959 juga tidak pernah tercatat.

Hingga kini, uang itu tidak pernah dikembalikan kepada Lianawati. Uang itu dicuci Lily. Salah satunya dipinjamkan ke kantor Rahmad yang bergerak di jasa bidang hukum. Nilainya mencapai Rp 13,5 miliar. Bilangnya uang dari warisan. Saya tidak tahu (kalau dari Lianawati, Red), ujar Rizky Tri Andrianto, karyawan bagian keuangan di kantor tersebut, saat bersaksi.

Uang Rp 10,5 miliar di antaranya ditransfer Lily ke rekeningnya. Selain itu, Rahmad disebut pernah meminjam Rp 500 juta kepada Lily untuk membeli jam tangan Rolex. Pinjaman uang itu juga tercatat.

Sementara itu, Lily mengaku telah meminjamkan uang kepada Rahmad. Namun, dia tidak tahu persis nilainya. Sebagian uang itu juga sudah dikembalikan.

Pengacara Lily, Ade Dharma, menolak berkomentar saat dimintai konfirmasi seusai sidang. Meski begitu, dia mengakui bahwa uang yang dipinjamkan kepada Rahmad berasal dari Lianawati.

Artikel Asli