Perkara Pengadaan Benih Jagung 2017, Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Dua Rekanan

suarantb | Nasional | Published at 15/09/2021 03:30
Perkara Pengadaan Benih Jagung 2017, Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Dua Rekanan

Mataram (Suara NTB) Upaya dua rekanan terdakwa korupsi pengadaan benih jagung tahun 2017 lepas dari dakwaan tidak terpenuhi. Majelis hakim menolak eksepsi yang diajukan. Sidang terdakwa Aryanto Prametu dan Lalu Ikhwanul Hubby dilanjutkan ke pemeriksaan perkara.

Ketua majelis hakim Catur Bayu Sulistyo membacakan putusan sela pada sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram Selasa, 14 September 2021. Sidang pertama digelar untuk terdakwa Direktur PT Sinta Agro Mandiri. Menyatakan keberatan terdakwa tidak dapat diterima, ucapnya. Sebab itu persidangan dilanjutkan ke pemeriksaan perkara. Hakim memerintahkan jaksa penuntut umum untuk menghadirkan saksi-saksi.

Alasan hakim menolak eksepsi itu antara lain, dakwaan jaksa penuntut umum sudah disusun secara lengkap, jelas, dan cermat dengan mencantumkan data diri terdakwa. Tindak pidana, bagaimana dilakukan, ketentuan pidana, dan uraian peristiwa sudah diuraikan secara lengkap sehingga tidak menimbulkan kesulitan, kata Catur.

Hal itu berdasarkan eksepsi terdakwa yang menyebut dakwaan jaksa tidak lengkap karena tidak menjelaskan peran pihak lain yang diduga juga ikut terlibat. Seperti calon proyek Diahwati, Karo Adpem dan LPBJP Swahip yang berperan membentuk kelompok kerja penunjukkan PT SAM sebagai pelaksana. Juga peran mantan Kabid Tanaman Pangan Distanbun Provinsi NTB L M Syafriari dan pejabat pembuat komitmen Ida Wayan Wikanaya. Kemudian CV Tani Tandur, produsen benih asal Kediri, Jawa Timur yang membuat surat dukung abal-abal untuk memuluskan kontrak PT SAM.

Demikian juga soal klaim Aryanto bahwa perkara ini masuk ranah keperdataan. Karena Aryanto sedang berperkara wanprestasi terkait perjanjian pembelian benih jagung dengan Diahwati. Keberatan tidak beralasan karena sudah masuk pokok perkara sehingga harus dibuktikan dalam pemeriksaan perkara, imbuh Catur.

Putusan yang sama terhadap eksepsi yang diajukan Direktur PT WBS Lalu Ikhwanul Hubby. Hakim menolak eksepsi tersebut. Alasannya sama, dakwaan jaksa penuntut umum sudah cermat, lengkap, dan jelas serta pada pokok eksepsi lainnya masuk pokok perkara. Catur kemudian menunda sidang untuk dilanjutkan lagi pada Selasa, 28 September 2021. Jaksa penuntut umum diperintahkan untuk menghadirikan saksi-saksi.

Aryanto sebelumnya didakwa korupsi pengadaan benih jagung 487,85 ton benih jagung. Direktur PT SAM ini mendapatkan kontrak pengadaan Rp17,25 miliar melalui penunjukkan langsung mantan Kadistanbun Provinsi NTB Husnul Fauzi. Dalam pelaksanaannya hanya 10 ton yang jelas varietasnya. Tetapi pejabat pembuat komitmen Ida Wayan Wikanaya tetap membayar proyek ini 100 persen. Dari proyek yang dikerjakan PT SAM ini, BPKP Perwakilan NTB menghitung kerugian negara sebesar Rp15,43 miliar.

Sementara PT WBS yang dikendalikan Lalu Ikhwanul Hubby mendapat kontrak senilai Rp31,76 miliar untuk pengadaan 849,9 ton benih jagung. Husnul Fauzi juga mengatur penunjukkan langsung PT WBS melalui Ida Wayan Wikanaya. Benih yang didatangkan PT WBS tidak seluruhnya memenuhi syarat spesifikasi dan sertifikat, serta sudah kedaluarsa. Berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan NTB, kerugian negara yang timbul mencapai Rp11,92 miliar. (why)

Artikel Perkara Pengadaan Benih Jagung 2017, Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Dua Rekanan pertama kali tampil pada SuaraNTB.

Artikel Asli