Soal “Semua Agama Benar Di Mata Tuhan” Dudung Pasti, Niatnya Baik

rm.id | Nasional | Published at 15/09/2021 07:45
Soal “Semua Agama Benar Di Mata Tuhan” Dudung Pasti, Niatnya Baik

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Dudung Abdurachman lagi jadi sorotan. Gara-garanya, dia meminta, anak buahnya tidak fanatik berlebihan terhadap agama. Menurut dia, semua agama benar di mata Tuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Dudung saat melaksanakan kunjungan kerja ke Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) 9/Lang-Lang Bhuana Kostrad, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (13/9).

Dudung datang didampingi Inspektur Kostrad Mayjen Ilyas Alamsyah, Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1 Kostrad Mayjen Dedy Kusmayadi, Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapok Sahli) Pangkostrad Brigjen Ardi Heri, para Asisten Kaskostrad, Kepala Penerangan Kostrad, dan Kepala Hukum (Kakum) Kostrad.

Di depan anggota personel Yon Zipur 9 Kostrad dan ibu Persit, Dudung mengatakan, di masa pandemi Covid-19, semua pihak sebaiknya selalu mengutamakan pola pikir postif mengenai kesehatan. Hal itu karena sumber dari sakit, salah satunya berasal dari pola pikir.

Dudung pun mengimbau kepada seluruh prajurit agar selalu bersyukur, apapun pangkat yang didapatkan saat ini. Menurut dia, semua manusia pasti mempunyai masalah masing-masing.

Lalu, Dudung juga menyampaikan pesan kepada prajurit agar cermat dalam menyikapi berita yang beredar, terutama di media sosial. Eks Panglima Kodam Jaya itu mengingatkan, prajurit jangan mudah mengirim berita yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam kesempatan itu, Dudung juga meminta, jajarannya menghindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan, ujar Dudung.

Terakhir, Dudung juga menekankan, dalam setiap melaksanakan latihan ataupun tradisi masuk satuan harus profesional dan proporsional. Dudung meminta tradisi prajurit baru dilakukan secara tegas, namun tidak kasar.

Pernyataan Dudung soal jangan fanatik berlebihan agama pun langsung ramai dibahas warganet. Akun @Hilmi28 mempertanyakan apa yang yang dimaksud fanatik berlebihan agama.

Assalamualaikum Pak Dudung, mohon dijelaskan fanatik berlebihan terhadap agama itu seperti apa? Lalu semua agama benar di mata Tuhan? Harusnya ditambahkan, sesuai ajaran agamanya masing-masing, cuitnya.

Akun @adv_supyadi mempertanyakan, kapasitas Dudung soal agama. Jangan membatasi hak seseorang selama itu tidak melanggar aturan. Karena fanatik berlebihan terhadap agama selama tidak melanggar aturan itu sah-sah saja, ujarnya.

Akun @jojoe_gaza mengingatkan Dudung untuk berhati-hati jika bicara soal agama. Setiap orang menyakini dengan sangat agama yang dianut, Dudung harus hati-hati berucap jika tidak paham yang akan diucapkan!!

Bagaimana tanggapan Muhammadiyah soal pernyataan Dudung ini? Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas menganggap, niat Dudung baik. Yakni sebagai pemeluk agama yang berbeda, tetap diminta hidup rukun dan damai di republik ini. Hanya saja, tidak harus menyatakan semua agama benar di mata Tuhan.

Kata Anwar, setiap agama punya Tuhan, kitab suci, orang suci, dan tempat suci. Jadi yang harus kita lakukan bukanlah menyatakan bahwa agama yang berbeda-beda itu adalah sama. Tapi bagaimana kita bisa menganjurkan kepada para pengikut dari agama yang berbeda-beda tersebut ada toleransi, pesan Anwar.

Toleransi inilah yang penting dilakukan. Sebab, kata Anwar, perbedaan dari masing-masing agama dan keyakinan harus dihormati dan saling dimengerti.

Sementara, Rois Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Iskandar justru menganggap, agama itu harus fanatik. Namun, orang beragama harus toleran. Jadi beda, antara agama dengan umat beragama. Jika tidak ada fanatisme, maka tidak ada keyakinan.

Dalam agama, pastinya harus ada keyakinan dong. Tapi, umatnya harus saling menghormati perbedaan dan harus saling menghargai sebagai umat, terangnya.

Iskandar paham apa maksud Dudung. Tujuannya dalam rangka menciptakan bangsa yang tidak terbelah karena agama. Lagipula, agama tidak boleh membelah bangsa ini dalam konteks kebangsaan sebagai warga yang terdiri dari berbagai macam latar belakang agama harus bersatu.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo mengatakan, semua agama punya nilai luhur. Itu harus dihormati semua orang. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa juga memuat nilai-nilai universal yang baik bagi semua orang, tidak hanya bagi sebagian orang.

Meski begitu, Benny menekankan, pernyataan Dudung harus ditempatkan sesuai konteks dia berbicara. Dudung sedang berbicara di depan prajuritnya, bukan di forum lain. Publik perlu memahami konteks ini.

Pangkostrad ingin menegakkan kembali Sapta Marga, menggairahkan nilai-nilai keagamaan universal yang berpihak pada kemanusiaan, tidak membeda-bedakan suku dan agama karena kita bersaudara, kata dia. [MEN]

Artikel Asli