Tak Dengarkan Musik Agar Hafal Alquran Bukan Teroris!

republika | Nasional | Published at 15/09/2021 06:59
Tak Dengarkan Musik Agar Hafal Alquran Bukan Teroris!

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar terorisme yang kini mengajar di Universitas Nanyang Singapura, Nur Huda Ismail, mengatakan sikap skeptis dengan mengaitkan kepada santri yang tak mau mendengarkan musik sangat tak bisa dimengeri. Apalagi kemudian itu disikapi sebagai sikap yang terkait atau menjadi awal dari calon teroris.

''Itu sikap berlebihan dan hanya akan menimbulkan Islamphobia yang akut di negara kita. Memang ada sekompok Islam yang suka itu, lazimnya ada di kelompok yang berpaham salafi. Tapi kelompok Islam lain yang lagi belajar menghafal Alquran juga banyak bersikap begitu. Ini dilakukan untuk menjaga hafalannya,'' kata Nur Huda Ismail dalam perbincangan dengan Republika Rabu pagi, (15/9).

Huda yang merupakan alumni Pesanren Ngruki dan mendapat gelar doktor di Univeritas Monash Australia dengan disertasi soal terorisme itu mengatakan dalam soal menghapal Alquran memang ada pesan dari Imam Nawawi. Imam ini mengatakan kalau ingin bisa dan mudah menghafal Alquran maka telinga dipergunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik-baik saja.

''Nah, kalau para santri itu menyamakan hal-hal tak layak didengarkan oleh telinga sebagai cara untuk menghapal Alquran itu musik, ya pilihan mereka. Hak asasi mereka. Jadi jangan dipandang sinis,'' tegasnya.

Mengapa tidak bisa disikapi secara nyinyir? Huda mengatakan kalau sudah menjadi sindirian atau nyinyir maka hanya akan menimbilkan masalah. Sikap ini hanya menimbulkan perpecahan sosial saja.

''Negara dan pemerintah atau lembaga agama harus memberi tahu dan mencegahnya. Itu hanya sikap gak suka musik kok. Itu selera. Untuk jadi seorang teroris banyak sekali macam tahapannya. Gak bisa dari satu sisi indikasi saja. Sekali lagi sikap ini hanya menjadi Islamphobia. Ini berlebihan,'' tegasnya.

Selasa malam lalu,Pengamat terorisme UI, Al Chaidar Abdurrahman Puteh, mengatakan sikap dan pernyataan yang menghubung-hubungkan tindakan santri menutup telinga saat akan melakukan vaksinasi jangan dipandang berlebihan. Apalagi kemudian dikatait-kaitkan dengan pernyataan mereka sebagai calon anggota teroris, Taliban, ISIS, Alqaeda, dan sejenisnya.

''Itu tuduhan ngaco. Apa-apan kok menarik-narik pada soal teroris. Di situ yang benar itu tindakan konservatisme biasa yang berangkat dari kultur santri biasa. Lazimnya mereka santri tahfidz (pengahafal Alquran) bisa. Mereka memang menjaga sekali pendengarnya agar setoran bacaan yang dihapalnya tak hilang,'' kata Al Chaidar yang kini tengah berada di Univeritas Leiden Belanda untuk melakukan penelitian tentang Darul Islam, kepadaRepublika, Selasa (14/9).

Alchaidar menyebut dan mengkaitkan para santri dengan terorisme itu tanda adanya dan kuatnya sikap Islamphobia. Bahkan sudah sangat berlebihan. Para santri jelas disudutkan.

''Di kampung saya di Aceh banyak santri di berbagai dayah (pesantren) yang bersikap seperti itu. Mereka biasa saja dan bukan teroris atau ketika dewasa menjadi terorisme. Tindakan konservatif tak terkait dengan indikasi asal muasal terorisme pada seseorang.''

''Saya kira wajar saja bila mereka tutup telinga. Sebab, saya dengarkan juga musik yang diputar saat santri berada itumemang tidak bagus alias jelas. Berisik. Jadi janganover simplicit,'' tegasnya.

Bagi bangsa Indonesia, sikap berlebihan dengan menuding soal-soal konservatisme terkait dengan terorisme malah akan berakibat negatif. Akan ada pihak yang merasa hak asasinya dikurangi.''Para santri itu misalnya, mereka kan merasa berhak itu kuping-kuping dia kok yang lain ikut pada ribut. Perkara tidak mau dengar bunyi atau musik ini dan itu kan haknya. Mengapa mereka diganggu,'' ujarnya.

Tak hanya itu, Chaidar juga menyatakan sangat menyayangkan bila simplikasi santri yang menutup telinga kala mendengarkan musik itu terkait tanda awal teroris tersebut dikatakan oleh pihak politisi. Ini karena pernyataan dia akan menimbulkan efek panjang dan menyakiti kaum santri yang kini masih bersikap seperti itu karena adanya satu keperluan dan pemahaman.

''Saya ngenes saja. Sebab, konservatisme berbeda dengan sikap dukungan kepada terorisme. Apalagi dalam Islam mendengarkan musik hukumnya terjadikhilafiahatau diperdebatkan. Yang jelas mendengarkan musik itu hukumnya mubah,'' katanya lagi.

Apakah ciri tak mau mendengarkan musik itu misalnya sebagai ciri pendukung gerakan Darul Islam yang tengah ditelitinya? Al Chaidar menjawab juga tidak. Orang atau pengikut Darul Islam misalnya tidak mendengarkan musik karena tidak ada asupan soal itu. Dan kalau musiknya dianggap bagus mereka bersedia saja.

''Sekali lagi, jangan terlalu gampang simplikasi masalah. Ini termasuk Islamophobia yang akut,'' tegasnya.

Artikel Asli