Investasi Tembus Rp 92,3 Triliun Sistem Aplikasi KEK Dorong Pengusaha Tanamkan Modal

rm.id | Nasional | Published at 15/09/2021 06:47
Investasi Tembus Rp 92,3 Triliun Sistem Aplikasi KEK Dorong Pengusaha Tanamkan Modal

Pengembangan sistem aplikasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berhasil mendorong pengusaha menanamkan modalnya di Indonesia. Dengan aplikasi ini, pelaku usaha mendapatkan kemudahan dalam fasilitas fiskal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, upaya penguatan industri dan jasa dapat dilakukan melalui pengembangan KEK.

Sebab itu, Lembaga National Single Window (LNSW) bersama Sekretariat Dewan Nasional (Sekdenas) KEK, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengembangkan sistem aplikasi KEK.

Badan dan pelaku usaha di KEK melakukan kegiatan pemasukan, perpindahan dan pengeluaran barang wajib menggunakan sistem aplikasi KEK, dengan prinsip dokumen tunggal melalui sistem elektronik, kata Airlangga dalam webinar Kebijakan, Implementasi dan Manfaat Kawasan Ekonomi Khusus Sebagai Strategi Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional, kemarin.

Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan, sistem itu juga terintegrasi dengan sistem informasi persediaan berbasis komputer. Standardisasi serta pertukaran data Sistem Indonesia National Single Window (SINSW), dengan Sistem Komputer Pelayanan Bea dan Cukai. Serta, integrasi SINSW dengan sistem perpajakan.

Sistem Aplikasi KEK memberikan kemudahan bagi badan usaha dan pelaku usaha memperoleh fasilitas KEK, ucap Airlangga.

Pada Agustus 2021, pemerintah mencatat penggunaan sistem aplikasi KEK terdiri dari pemasukan profil badan usaha/pelaku usaha sebanyak 129 profil.

Terdapat 11 dokumen pengajuan masterlist dengan nilai barang mencapai Rp 740 miliar. Dan terdapat 65 dokumen Pengajuan Pemberitahuan Jasa KEK. Dengan nilai transaksi jasa mencapai Rp 1,21 triliun.

Hingga saat ini, pemerintah telah menetapkan 19 KEK yang terdiri dari 11 KEK industri dan 8 KEK pariwisata. Dari 19 KEK tersebut, 12 KEK telah beroperasi dan 7 KEK dalam tahap pembangunan.

Berdasarkan hasil evaluasi Sekdenas KEK, realisasi investasi dalam pembangunan kawasan pada 19 KEK telah mencapai Rp 19,52 triliun.

Investasi pembangunan kawasan tersebut, secara akumulatif meningkatkan kinerja investasi 19 KEK hingga Juli 2021 mencapai Rp 92,3 triliun. Dengan realisasi investasi pelaku usaha sebesar Rp 32,76 triliun.

Lalu, hingga Juli 2021, telah terdapat 166 pelaku usaha/investor yang menanamkan modalnya di KEK. Dan telah menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 26.741 orang. Serta menciptakan ekspor Rp 3,66 triliun pada tahun 2021.

Dibutuhkan komitmen dan profesionalisme badan usaha pembangunan dan pengelolanya dalam mengelola KEK. Ini dilakukan untuk memenuhi target yang telah disepakati dengan Dewan Nasional KEK, ujar Airlangga.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, permasalahan yang sering terjadi pada proyek KEK di Indonesia karena kurangnya persiapan infrasruktur.

Itu yang membuat investor tidak tertarik berinvestasi pada pembangunan KEK, katanya.

Menurut Heri, infrastruktur dasar, akses tranportasi dan konektivitas logistik harusnya lebih dahulu disiapkan. Agar investor mudah jika ingin beroperasi dan melakukan kegiatan produksi. Kenyataannya, persiapan infrastruktur masih banyak yang belum lengkap.

Ini kan suatu kawasan yang harusnya isinya lengkap. Baik infrastruktur dasar, akses transportasi, konektivitas logistik. Jadi, jika investor ingin produksi, mudah mendatangkan bahan baku dan menjual produknya ke pasar, ujarnya.

Heri melihat, tidak sedikit KEK yang justru masih terkendala masalah lahan. Masih banyak pihak pengusul KEK, baik dari Pemerintah Daerah atau badan usaha, yang belum memastikan ketersediaan lahan. [KPJ]

Artikel Asli