DI Yogyakarta Klaim Sudah Vaksin 92 Persen Pelaku Parekraf

republika | Nasional | Published at 15/09/2021 06:17
DI Yogyakarta Klaim Sudah Vaksin 92 Persen Pelaku Parekraf

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mulai melakukan uji coba pembukaan tiga destinasi wisata. Mulai dari Tebing Breksi di Kabupaten Sleman, Gembira Loka Zoo di Kota Yogyakarta dan Hutan Pinus Asri Mangunan di Kabupaten Bantul.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mengatakan, percepatan vaksinasi terus dilakukan, termasuk pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf). Hingga saat ini, vaksinasi terhadap parekraf sendiri sudah mencapai 92 persen di DIY.

Setidaknya, kata Singgih, 92 persen vaksinasi pelaku parekraf menyumbang percepatan pencapaian herd immunity di DIY. Di DIY sendiri, secara keseluruhan vaksinasi dosis pertama sudah hampir mencapai 70 persen.

Pihaknya juga terus menggelar vaksinasi wisata dan sudah ke-34, Selasa (14/9). Perluasan vaksinasi juga dilakukan kepada keluarga dan lingkungan sekitar dari pelaku parekraf tersebut.

"Ini adalah prestasi yang selalu kemudian kita dorong semua pihak untuk melakukan percepatan vaksinasi. Kita akan menggelar lagi vaksin wisata series ini, kita menyasar terus sampai habis," kata Singgih, Selasa (14/9).

Terkait dengan uji coba pembukaan destinasi wisata di DIY, ketiganya sudah mendapatkan sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE). CHSE sendiri, katanya, salah satu syarat bagi destinasi pariwisata untuk dapat melakukan uji coba.

"Saya berharap tiga tempat wisata yang diuji cobakan betul-betul punya komitmen untuk menegakkan aturan dan saya berharap nanti ada penambahan alokasi uji coba yang dibuka di DIY," ujarnya.

Selama dilakukannya uji coba, ada dua sistem yang harus diterapkan. Seperti sistem reservasi melalui Visiting Jogja mengingat destinasi wisata hanya dapat menampung 25 persen pengunjung dari kapasitas yang ada dan skrining pengunjung menggunakan aplikasi PeduliLindungi .

"Dua hal ini bersifat wajib dilakukan, apabila tidak maka sudah pasti pengunjung tidak akan bisa mengakses tempat wisata," tegas Singgih.

Artikel Asli