Pengawasan Pintu Masuk Negara Harus Diperketat

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 15/09/2021 00:01
Pengawasan Pintu Masuk Negara Harus Diperketat

JAKARTA - Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander K Ginting, menegaskan setiap pintu masuk menuju negara Indonesia harus terus diperhatikan dan diperketat. Ini harus dilakukan sebagai bentuk upaya pencegahan masuknya varian baru Covid-19 ke Tanah Air.

"Karena banyak varian-varian baru yang masuk ke dalam variant of concern (VOC) atau variant of interest (VOI) itu banyak dari luar, sehingga memang pintu-pintu masuk dari luar ini harus benar-benar diperketat," kata Alexander dalam acara bertajuk Percepatan Vaksinasi, Solusi Jitu Cegah Virus Baru, yang terpantau secara daring di Jakarta, Selasa (14/9).

Alexander mengatakan pengetatan penjagaan di tiap pintu masuk tersebut tidak boleh hanya dilakukan di bandara saja, tetapi penting pula untuk memperhatikan jalur laut yakni melalui pelabuhan.

Pemantauan pada pelabuhan, kata dia, perlu dilakukan baik pada pelabuhan yang bersifat resmi ataupun pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di suatu daerah.

"Bandara memang selama ini sudah baik. Ada karantina sampai 8 x 24 jam dan ini bisa kita pertimbangkan untuk diperpanjang, berdasarkan karakteristik dan dinamika yang ada di lapangan, demikian juga pelabuhan yang ada di laut," ujar dia.

Terus Memantau

Hal tersebut perlu dilakukan sebagai langkah untuk terus memantau perkembangan mutasi virus SARS-CoV-2 yang kini sedang berkembang menjadi berbagai jenis varian baru seperti varian Mu, varian Delta, dan varian C.1.2.

Ia menjelaskan virus SARS-CoV-2 merupakan sebuah virus yang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga akan mudah menular kepada manusia akan terus mengalami mutasi. Selain memperketat jalur kedatangan, penting bagi setiap pihak untuk terus mematuhi protokol kesehatan dan terus menggencarkan 3T ( testing, tracing , dan treatment ) serta vaksinasi.

"Mutasi dan varian itu akan ada terus, ini memang harus menjadi kewaspadaan kita. Karena itu yang mencegah adalah diri kita sendiri. Jadi, sepanjang kita bisa menerapkan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker dan vaksinasi ini akan memberikan proteksi," kata Alexander.

Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, menyampaikan Indonesia konsisten mencatatkan penurunan kasus selama delapan minggu berturut-turut. "Kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan hingga 88,9 persen dibandingkan puncak kedua pada Juli," ujar Wiku.

Menurut Wiku, penurunan jumlah kasus Covid-19 itu tercapai karena kerja sama pemerintah yang bergerak cepat menyusun kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), serta seluruh lapisan masyarakat yang kooperatif dalam menerapkan kebijakan pemerintah.

"Langkah-langkah yang diambil adalah begitu kasus meningkat pemerintah langsung menetapkan kebijakan PPKM yang dilanjutkan dengan pembatasan yang lebih ketat atau PPKM level 1-4 yang dilaksanakan pada 26 Juli hingga saat ini," paparnya.

Selain itu, ia menambahkan, pemerintah juga mengatur perjalanan, baik dalam negeri maupun luar negeri yang dievaluasi setiap pekannya, dan disesuaikan dengan perkembangan kasus dan dinamika yang terjadi di masyarakat.

Wiku mengatakan penurunan kasus Covid-19 nasional juga didukung dari respons cepat dalam peningkatan kesiapan fasilitas kesehatan. "Itu menjadi modal utama dalam menghadapi lonjakan kasus," ucapnya.

Ia mengemukakan jumlah tempat tidur di rumah sakit rujukan saat ini telah mencapai 116.939 tempat tidur. Kemudian, terdapat juga lebih dari 20.000 tempat tidur di tempat isolasi terpusat di seluruh Indonesia.

Di samping itu, kata dia, pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan dengan memanfaatkan dokter internship dan perawat yang belum uji kompetensi dengan supervisi perawat senior turut berkontribusi dalam penurunan kasus Covid-19 nasional.

Untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus, Wiku mengatakan pemerintah akan terus meningkatkan laju vaksinasi nasional hingga mencapai 10 juta per 10 hari sejak Agustus 2021.

Artikel Asli