Mengenal 5 Tokoh Pahlawan dari TNI AL: Ada Laksamana RE Martadinata hingga Sersan Usman

inewsid | Nasional | Published at 14/09/2021 12:34
Mengenal 5 Tokoh Pahlawan dari TNI AL: Ada Laksamana RE Martadinata hingga Sersan Usman

JAKARTA, iNews.id - TNI Angkatan Laut (AL) merupakan salah satu garda terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beragam kisah kepahlawanan patut dibaca untuk menjadi tauladan bagi penerus bangsa.

Menjadi garda terdepan di perairan Indonesia, merupakan jalan yang ditempuh orang-orang terpilih berikut ini. Setidaknya ada lima pahlawan dari TNI AL yang rela berkorban nyawa untuk membela kedaulatan Indonesia.

Berikut ini data dari Historia-Buletin Kesejarahan TNI AL seperti dilihat, Selasa (14/9/2021):

1. Laksamana R Eddy Martadinata

Laksamana Laut R Eddy Martadinata atau lebih dikenal dengan sebutan RE Martadinata lahir di Bandung, 29 Maret 1921. Dia gugur akibat kecelakaan pesawat di Riung Gunung, Jawa Barat, tanggal 6 Oktober 1966 pada usia 45 tahun.

Martadinata merupakan tokoh ALRI yang turut serta merintis kelahiran TNI AL. Dia adalah lulusan Sekolah Pelayaran Zeevaart School di Surabaya pada zaman penjajahan Belanda.

Saat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang disahkan Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945, selanjutnya disusul dengan kelahiran BKR Laut pada tanggal 10 September 1945 di tanah Pasundan RE Martadinata juga turut membentuk BKR Laut Jawa Barat di bawah pimpinan Aruji Kartawinata.

Dia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Operasi pada Mabes ALRI di Yogyakarta, dan sebagai Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya (KDMS). Kemudian menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut periode tahun 1959-1966 menggantikan R Subiyakto.

2. Laksamana Muda Jos Soedarso

Laksamana Muda Josaphat Soedarso atau lebih dikenal dengan nama Jos Soedarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, lahir pada 24 November 1925. Dia gugur di Laut Aru, tanggal 15 Januari 1962 pada usia 36 tahun.

Dia adalah seorang pahlawan nasional yang gugur di medan tugas, tepatnya di atas KRI Macan Tutul dalam Pertempuran Laut Aru pada masa perjuangan Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda.

Kecintaan dan kepeduliannya yang besar terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dibuktikannya sampai titik darah penghabisan. Jos Soedarso telah gugur secara terhormat sebagai kusuma bangsa dalam sebuah pertempuran laut yang tidak seimbang.

Pengorbanannya yang besar telah menjadi momentum pembakar semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

3. Sersan Usman dan Kopral Harun

Sersan Usman Djanatin bin H. Ali Hasan lahir di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 18 Maret 1943. Dia gugur meninggal di Singapura tanggal 17 Oktober 1968 pada usia 25 tahun.

Dia adalah salah satu dari dua anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) atau Korps Marinir yang ditangkap di Singapura bersama Kopral Harun saat terjadinya konfrontasi dengan Malaysia.

Bersama dengan seorang anggota KKO AL lainnya bernama Harun, dia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada bulan Oktober 1968 dengan tuduhan meledakkan gedung MacDonald House di pusat kota Singapura pada tanggal 10 Maret 1965.

Usman Djanatin adalah prajurit sejati yang gugur sebagai martir dalam rangka membela bangsa dan negara, serta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Kopral Harun

Kopral Harun Said lahir di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tanggal 4 April 1947. Dia gugur di Singapura tanggal 17 Oktober 1968 pada usia 21 tahun.


4. Laksamana Muda John Lie

Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma atau lebih dikenal sebagai John Lie lahir di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 9 Maret 1911. Dia gugur tanggal 27 Agustus 1988 pada usia 77 tahun adalah salah seorang perwira tinggi TNI AL dari etnis Tionghoa.

Awalnya bekerja sebagai mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM lalu bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI.

Pada masa Perang Kemerdekaan RI, John Lie secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda dengan membawa hasil bumi ke Singapura untuk dibarter dengan senjata sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.

Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal cepat kecil yang legendaris bernama The Outlaw. Kemudian di Port Swettenham Malaya, John Lie juga mendirikan naval base yang menyuplai bahan bakar, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada bulan Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda dan meninggal dunia pada tanggal 27 Agustus 1988 serta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Artikel Asli