PPKM Level 1, Suntikan Dosis I Harus 70 Persen dan Lansia 60 Persen

jawapos | Nasional | Published at 14/09/2021 11:55
PPKM Level 1, Suntikan Dosis I Harus 70 Persen dan Lansia 60 Persen

JawaPos.com Evaluasi pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) periode 613 September menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kasus aktif per kemarin (13/9) turun di bawah angka 100 ribu. Berbagai kota, terutama di Jawa-Bali, juga menunjukkan penurunan level.

Kemarin Satgas Covid-19 mencatat kasus aktif saat ini tinggal 99.696 orang.

Pertumbuhan kasus konfirmasi harian juga turun ke angka terendah, yakni 2.577 orang.

Secara nasional, kasus konfirmasi positif turun hingga 93,9 persen. Khusus Jawa-Bali turun hingga 96 persen dari titik puncak pada 15 Juli lalu.

Pada periode PPKM minggu lalu, Provinsi Bali berhasil turun dari level 4 ke level 3. Dengan demikian, di antara 11 kota/kabupaten yang masih berstatus level 4 pada minggu lalu, saat ini jumlahnya berkurang menjadi hanya 3 kota/kabupaten. Hal ini merupakan buah dari kerja sama semua pihak yang telah bersama-sama berhasil menjaga kondusivitas PPKM, kata Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut menyatakan, penurunan tersebut jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan. Situasi Covid-19 membaik begitu cepat di Jawa-Bali. Di sisi lain, kecepatan vaksinasi dan implementasi PeduliLindungi serta protokol kesehatan masih tertinggal, ungkap dia.

Soal vaksinasi, data Kementerian Kesehatan menyebutkan, 41 juta dosis vaksin yang saat ini ada di stok provinsi dan kabupaten/kota belum disuntikkan. Hal itu disayangkan mengingat animo masyarakat sangat tinggi untuk vaksinasi.

Karena itu, kata Luhut, pada masa perpanjangan PPKM berikutnya, yakni 1320 September, progres dan cakupan vaksinasi akan dimasukkan sebagai indikator penurunan level daerah. Kabupaten/kota harus mencapai setidaknya 50 persen target cakupan vaksinasi dosis pertama dan 40 persen cakupan target lansia untuk bisa turun dari level 3 ke level 2.

Sementara itu, untuk mencapai level 1 yang dinyatakan mendekati normal, cakupan vaksinasi dosis pertama harus mencapai 70 persen. Kemudian, cakupan vaksinasi lansia harus mencapai 60 persen. Untuk kota-kota yang saat ini berada di level 2, akan diberikan waktu selama dua minggu untuk dapat mengejar target di atas. Jika tidak bisa dicapai, akan dinaikkan status levelnya, tegas Luhut.

Di sisi lain, meski tren membaik, ada kekhawatiran bahwa penurunan level di berbagai kota mengakibatkan banyak euforia dari masyarakat. Terutama kedisiplinan dalam implementasi protokol kesehatan dan penggunaan aplikasi PeduliLindungi. Hal itu dikhawatirkan bisa mengundang gelombang berikutnya dari Covid-19. Perlu kewaspadaan kita semua sekali lagi. Karena terdapat peningkatan kasus konfirmasi atau angka kematian di beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Semarang, terang Luhut.

Luhut mengatakan, di beberapa wilayah terjadi peningkatan mobilitas yang cukup masif. Terutama di beberapa lokasi wisata seperti Pantai Pangandaran yang dipenuhi pengunjung dari kawasan Bandung Raya, Tasikmalaya, dan Jabodetabek. Hal itu berpotensi mengakibatkan persebaran kasus impor bagi daerah tersebut. Apalagi jika diperparah dengan lemahnya penerapan protokol kesehatan.

Misalnya, tingkat okupansi hotel di kawasan wisata Pangandaran yang mendekati penuh. Hal itu tentu berlawanan dengan ketentuan-ketentuan mengenai kapasitas hotel yang diperbolehkan. Saya mendorong pemerintah daerah melakukan tindakan tegas terhadap segala bentuk pengabaian peraturan mengenai PPKM ini, katanya.

Perjalanan internasional juga terus diperketat untuk mencegah masuknya varian baru. Syarat perjalanan internasional dari luar negeri adalah wajib full vaksinasi, tes PCR, karantina selama delapan hari, dan pembatasan pintu masuk untuk kemudahan pengawasan.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan memaparkan rencana untuk menghadapi perubahan situasi dari pandemi menjadi endemi Covid-19. Kendati saat ini jumlah kasus sudah menurun, Kemenkes tetap mengantisipasi kenaikan kasus lagi dan adanya varian baru virus yang masuk.

Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR kemarin, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan dua skenario yang disiapkan. Skenario pertama dijalankan jika jumlah kasus stabil dan cenderung membaik. Yakni, rata-rata kasus sekitar 5 ribu per hari atau 1,9 juta per tahun. Sementara itu, skenario kedua diterapkan apabila terjadi lonjakan dengan estimasi 3,9 juta kasus per tahun dari yang tercatat saat ini.

Untuk menghadapi kemungkinan itu, Kemenkes berencana meningkatkan testing. Skenario pertama ditarget 28 juta tes dan skenario kedua 58 juta tes.

Tingkat vaksinasi, isolasi, dan perawatan juga ditingkatkan, tetapi berlaku sama untuk kedua skenario. Perawatan kalau skenario A ada 20 persen dari 1,9 juta kasus. Kalau skenario B itu 20 persen dari 3,9 juta kasus, jelas Budi.

Kemudian, isolasi gejala ringan ditargetkan 80 persen dari jumlah kasus. Sementara itu, target vaksinasi ditetapkan 77 persen dari populasi untuk kedua skenario.

Budi juga menjamin akan merapikan prosedur testing di seluruh fasilitas kesehatan dengan laboratorium, terutama puskesmas. Diupayakan hasil tes bisa keluar sebelum dua hari. Seluruh puskesmas akan kita latih kembali, akan kita pastikan sistemnya, disederhanakan agar pelaporan bisa lengkap, lanjutnya.

Pada kesempatan lain, Budi menyatakan bahwa virus ini cepat bermutasi. Sejak muncul pada Desember 2019, sampai sekarang virus SARS CoV-2 terus bermutasi. Ada varian Alpha, Gamma, hingga Delta. Varian Delta terus menjalar ke pelosok dunia sehingga membuat lonjakan kasus di berbagai negara, katanya.

Pemerintah memantau perkembangan virus Covid-19 di dunia. Menurut Budi, pemerintah berupaya mencegah masuknya virus varian impor itu. Pemerintah perkuat pintu masuk Indonesia dan melakukan karantina, ujar Budi.

Selain itu, memperkuat laboratorium yang dapat melakukan whole genome sequencing atau menentukan urutan DNA, dalam hal ini SARS CoV-2. Sudah ada 21 jaringan laboratorium di Indonesia, ujarnya.

Budi juga mendapat arahan dari Presiden Joko Widodo untuk percepatan vaksinasi. Sebanyak 169 juta dosis sudah diterima Kemenkes. Lalu, 157 juta dosis diterima daerah. Sebanyak 3 juta dosis disimpan untuk stok nasional, ucap Budi.

Provinsi yang tingkat vaksinasinya kurang akan mendapat perhatian. Menkes, panglima TNI, dan Kapolri terus mendorong pemerintah daerah yang belum maksimal. Provinsi yang suntik pertamanya di bawah 20 persen yaitu Lampung, Sumatera Barat, Maluku Utara, dan Papua, tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, evaluasi PPKM di luar Jawa masih akan diberlakukan selama dua pekan, yakni hingga 20 September. Selain itu, Presiden Joko Widodo memberikan arahan agar mencegah masuknya varian baru melalui berbagai pintu, baik darat, laut, maupun udara. Presiden meminta pos-pos perbatasan agar terus dijaga. Vaksinasi juga terus didorong, ujarnya.

Airlangga menuturkan, distribusi vaksinasi terus dilakukan. Terutama untuk kabupaten/kota yang capaian vaksinasinya di bawah 20 persen.

Artikel Asli