Digitalisasi Pasar dan Pembatasan Sosial

lombokpost | Nasional | Published at 14/09/2021 08:15
Digitalisasi Pasar dan Pembatasan Sosial

B ERBAGAI aturan pemerintah mengenai pembatasan sosial baik berskala besar, mikro maupun komunitas yang mengharuskan masyarakat mengurangi kegiatan diluar rumah dan berkerumum menyebabkan pasar trandisional mulai sepi.

PPKM darurat baru-baru ini juga menambah daftar panjang keluhan pedagang dengan memburuknya penjualan mulai dari penurunan omzet hingga penutupan lapak. Pasar rakyat atau pasar tradisional mulai tergeser keberadaan sejak pusat perbelanjaan seperti swalayan dan minimarket masuk hingga ke pelosok desa. Bahkan, ketika menjamurnya supermarket diberbagai kota besar dimana terjadi persaingan yang tajam antara pengelola asing dengan pengelola lokal, korban nyatanya adalah pasar tradisional.

Tawaran produk-produk bermutu dengan harga murah dan kenyamanan menyebabkan pasar tradisional terpaksa kehilangan pelanggan. Swalayan dan minimarket mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dari produk kemasan, sayur-sayuran, buahan segar dan produk hewani secara eceran. Memiliki sistem pelayanan mandiri, performance dan penataan produk yang menarik menambah nilai positif yang membedakannya dengan pasar tradisional.

Seiring perkembangan teknologi digital, kondisi pasar tradisonal semakin pesimis. Melalui e-commerce proses berbelanja secara elektronik aktivitas jual beli menjadi lebih mudah. Maraknya tindakan tersebut oleh berbagai aplikasi platform digital yang menawarkan kemudahan bertransaksi pedagang dan pembeli tanpa bertatap muka langsung hampir diminati sebagian besar penduduk Indonesia.

Terutama dari generasi milenial dan Gen Z yang merupakan separuh penduduk Indonesia sebesar 53,81 persen dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia. (BPS, 2020). Sebagai inisiatif baru dari imbas pandemi dan terobosan perekonomian untuk mempertahankan daya beli masyarakat tetap hidup, aktivitas online sudah sepatutnya menjawab keresahan masyarakat.

Sayangnya media e-commerce ataupun platform digital belum sepenuhnya diakomodir pelaku di dalam pasar trandisional. Jangankan meningkatkan keuntungan penjualan, cara memanfaatkan aplikasi digitalnyapun belum tentu diketahui oleh pedagang maupun pembeli. Menurut data BPS tahun 2018 jaringan internet/wifi yang dimiliki pasar tradisonal masih sangat rendah atau hanya sebesar 9,06 persen.

Sebagian besar juga tidak memiliki kantor pengelola, yang memiliki masih sekitar 37,58 persen. Gambaran lainnya setengah dari jumlah pasar tradisional di Indonesia telah berdiri lebih dari 25 tahun yang lalu. Sedangkan yang berusia kurang dari 10 tahun hanya 18, 06 persen. Lantai terluas dari pasar juga masih ada yang menggunakan tanah maupun kayu. Sebaliknya dari sudut konsumen hasil survei Nielsen Media Research Indonesia yang dilakukan pada Juni 2020 menyebutkan sebanyak 58 persen masyarakat lebih memilih berbelanja bahan makanan segar di pasar tradisional.

Padahal, kontribusi pasar tradisionalmemiliki peranan yang sangat strategissebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan sumber Pendapatan Asli daerah (PAD). Antara lain; mendorong potensi wilayah tersebut dengan menjadi wadah yang dimanfaatkan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memasarkan hasil pertanian, perkebunan maupun industri rumah tangga lainya.

Perilaku tawar menawar yang tidak dimiliki oleh pasar modern menjadi ciri khas, nilai sosial budaya dan daya tarik tersendiri. Dan jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan dan toko modern, komoditas pertanian harganya relatif lebih murah. Serta terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi masyarakat sekitar sebab dominasi sebaran pasar tradisional dan mudah dijangkau hampir setiap lapisan masyarakat.

Revitalisasi dan Digitalisasi Pasar Tradisional

Mempertimbangkan berbagai aturan dan kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi seharusnya fungsi pasar bisa menjadi kekuatan baru pertumbuhan ekonomi lokal. Penyebaran virus corona antar wilayah akan bisa ditekan jika persediaan kebutuhan konsumen dapat disediakan wilayah setempat hingga level terkecil. Pemenuhan kebutuhan barang yang tidak bisa dilakukan karena karantina wilayah akan menciptakan kreativitas dan inovasi baru untuk menumbuhkan industri-industi mikro dan kecil di masyarakat.

Untuk mewujudkannya, penguatan terhadap pasar perlu dibenahi dengan penataan dan manajemen pasar tradisional yang menarik, sehat dan memenuhi harapan konsumen. Tujuannya agar pasar tradisonal bisa menjadi favorit masyarakat untuk berbelanja layaknya mall atau pasar modern. Kinerja pasar sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat dan peredaran uang di wilayah tersebut juga dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Agar tercapai kondisi yang diharapkan, Revitalisasi pasar tradisional yang sudah dilakukan sejak tahun 2015 perlu dievaluasi kembali. Revitalisasi harus menyesuaikan keinginan dari konsumen dengan penjaminan standar kesehatan sehingga segera memulihkan perekonomian daerah.

Hal ini sejalan dengan perilaku masyarakat pada masa pandemi Covid-19 (BPS, 2021) mengambarkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan secara umum sudah cukup baik tetapi tingkat kepatuhan masyarakat sekitarnya dalam menerapkan protokol kesehatan masih sangat rendah.

Khususnya dalam hal memakai satu masker dan dua masker doubel, cuci tangan dengan sabun/hand sanitizer dan menjaga jarak minimal 2 meter sehingga banyak yang mengurangi frekuensi perjalanan selama PPKM Darurat. Gerakan ke kantor, sekolah, tempat ibadah dan fasilitas umum seperti pasar juga dihindari. Meskipun selama PPKM diberlakukan mayoritas penduduk merasa jenuh.

Oleh sebab itu, Pemerintah harus dapat merumuskan strategi yang tepat untuk pengembangan pasar tradisional. Peremajaan pasar dan percepatan pembangunan di sektor perdagangan melalui revitalisasi dicerminkan tidak hanya dalam bentuk pelayanan dan bangunan fisik.

Tetapi lebih ke pelaksanaan protokol kesehatan yang diterapkan, tidak hanya sekedar himbauan atau anjuran saja.Kebersihan dan kesehatan salah satu hal yang harus diutamakan antara lain menghilangkan kesan kumuh dan kurang higienis. Menjaga jarak antar pedagang, desain yang layak, penempatan zonasi yang pas agar tidak menimbulkan penumpukan dan kerumunan serta standar prokes harus tersedia dan dipatuhi oleh seluruh pelaku pasar. Sehingga konsumen akan tertarik berkunjung ke pasar tradisional.

Dalam hal ini pemerintah sangat perlumelibatkan atau menyerahkan revitalisasi dan pengelolaan ke pihak ketiga/swasta. Sebab jika hanya ditangani oleh pemerintah prosesnya bisa jadi lambat karena membutuhkan anggaran yang besar, minimnya kemampuan PAD, realokasi dan refocusing anggaran yang saat ini lebih diprioritaskan untuk mengatasi dampak pandemi covid.

Menempatkan kerja sama dengan pihak swasta dinilai lebih baik sebab keuntungan yang didapat bagi pemerintah daerah lebih optimal.Selain itu, pentingnya melakukandigitalisasi pasar guna meningkatkan pangsa pasar dan kinerja pasar tradisional dengan mewujudkan infrastruktur teknologi.

Salah satunyamengandeng perusahaan startup agar mekanisme pasar yang lebih modern melalui perdagangan daring, mengurangi mobilitas dan peningkatan penggunaan cara pembayaran non tunai. Nantinya pemerintah setempat bisa jadi akan mendapat royalti disamping pemanfaatan dan fungsi pasar yang optimal.

Akhirnya, eksistensi pasar tradisional sebagai pondasi dasar perekonomian dapat diangkat dan dibangkitkan dan pedagangpun akan mampu bertahan dan meraih keuntungan yang lebih baik. (*)

Artikel Asli