Mantan Penyidik KPK Didakwa Terima Suap Rp5,1 Miliar dari Eks Bupati Kukar

limapagi.id | Nasional | Published at 13/09/2021 14:31
Mantan Penyidik KPK Didakwa Terima Suap Rp5,1 Miliar dari Eks Bupati Kukar

LIMAPAGI - Mantan Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Stepanus Robin Pattuju didakwa menerima suap dari sejumlah pejabat untuk pengurusan kasus. Salah satunya, suap Rp5.197.800.000 dari eks Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari.

Jaksa penuntut umum (JPU) KPK Lie Putra Setiawan mengatakan, pada Oktober 2020, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin mengenalkan Rita kepada Stepanus. Selang seminggu kemudian, Stepanus bersama seorang pengacara bernama Maskur Husain datang ke Lapas Kelas IIA Tangerang menemui Rita.

Stepanus menyampaikan dirinya merupakan penyidik KPK dengan memperlihatkan kartu identitas penyidik KPK, serta memperkenalkan Maskur Husain sebagai pengacara.

"Pada saat itu, terdakwa dan Maskur Husain meyakinkan Rita Widyasari bahwa mereka bisa mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK terkait TPPU dan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Rita Widyasari, dengan imbalan sejumlah Rp10 miliar," kata Lie di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin, 13 September 2021.

Lie menyampaikan, apabila pengembalian aset berhasil, Maskur meminta bagian 50 persen dari total nilai aset. Maskur menyampaikan, bahwa lawyer fee Rp10 miliar tersebut lebih murah daripada yang biasanya dia minta.

"Di mana, hal tersebut bisa karena ada terdakwa yang sebagai penyidik KPK bisa menekan para hakim PK, dan akhirnya Rita Widyasari setuju memberikan kuasa kepada Maskur Husain," katanya.

Setelah itu, Rita menghubungi Azis guna menginformasikan komunikasi dirinya dengan Stepanus dan Maskur Husain. Pada 20 November 2020, narapidana kasus korupsi hak penggunaan lahan di Kecamatan Tenjojaya, Sukabumi, Jawa Barat, Usman Effendi mentransfer uang Rp3 miliar ke Maskur.

Uang itu sebagai pembayaran lawyer fee dari Rita Widyasari. Uang itu juga sebagai bentuk menindaklanjuti perjanjian Usman dengan Rita pada 16 November 2020, yang menyebutkan pinjaman uang akan diganti dua kali lipat oleh Rita Widyasari.

Penggantian uang itu juga dengan jaminan satu sertifikat tanah atas nama Dayang Kartini (ibu dari Rita) seluas 140m di Jalan Suryalaya III
No. 42C Bandung, Jawa Barat.

Selain itu, Rita juga menyerahkan dokumen atas aset kepada Stepanus dan Maskur berupa satu unit Apartemen Sudirman Park Tower A Lt.43 Unit C di Jakarta Pusat dan sebidang tanah beserta rumah yang terletak di Jalan Batununggal elok I No.34, Bandung.

Pada 27 November 2020, Rita menandatangani surat kuasa kepada Maskur terkait permohonan PK dan mencabut kuasa kepada penasihat hukum sebelumnya.

Sejak Januari 2021 hingga April 2021, Rita kemudian memberikan uang kepada Stepanus melalui transfer dari rekening bank Mandiri atas nama Adelia Safitri ke rekening BCA atas nama Riefka Amalia.

"Dengan jumlah keseluruhan Rp60,5 juta. Bahwa selain itu, terdakwa juga menerima uang sejumlah SGD 200.000 atau senilai Rp2.137.300.000 untuk mengurus perkara Rita Widyasari," ucap Lie.

Uang itu diambil Stepanus bersama Agus Susanto dari rumah dinas Azis Syamsuddin di Jalan Denpasar Raya 3/3 Jakarta Selatan. Sebagian hasil penukaran valuta asing tersebut yaitu Rp1,5 miliar diberikan Stepanus kepada Maskur di Apartemen Sudirman.

"Bahwa uang yang diperoleh terdakwa dan Maskur Husain terkait kepentingan Rita Widyasari adalah sejumlah Rp5.197.800.000. Di mana, terdakwa memperoleh Rp697.800.000, sedangkan Maskur Husain memperoleh sejumlah Rp4,5 miliar," tutur Lie.

Atas tindakannya, Stepanus Robin dan Maskur didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo padal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi pada 20 September 2021. Hal ini karena, Stepanus Robin tak mengajukan nota keberatan atau eksepsi.

Artikel Asli