Rumah Mewah Panglima Perang Afghanistan Disita Taliban

republika | Nasional | Published at 13/09/2021 14:17
Rumah Mewah Panglima Perang Afghanistan Disita Taliban

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Taliban telah mengambil alih rumah mewah milik panglima perang dan buronan mantan Wakil Presiden Afghanistan Abdul Rashid Dostum di Kabul. Vila mewah itu dituding merupakan hasil dari korupsi endemik selama bertahun-tahun.

Sepanjang koridor tak berujung dengan karpet hijau apel yang tebal, seorang anggota Taliban muda tertidur di sofa, senapan Kalashnikovnya bersandar padanya. Dia adalah bagian dari detail keamanan pribadi Qari Salahuddin Ayoubi yang merupakan salah satu komandan paling kuat dari rezim baru Afghanistan. Ayoubi menempatkan kompi 150 orangnya di mansion pada 15 Agustus.

Lampu gantung kaca besar tergantung di aula yang luas, sofa empuk yang besar melengkapi labirin lounge dan kolam renang dalam ruangan dilengkapi dengan ubin pirus yang rumit. Bahkan tempat ini menawarkan sauna, pemandian uap Turki, dan gym lengkap.

Di salah satu sayap rumah besar itu, para pejuang Taliban bersantai di rumah kaca tropis besar seluas beberapa ratus meter persegi di bawah atap kaca besar. Meski tempat mewah ini telah jatuh ke tangan Taliban, kepala rumah tangga yang baru menjelaskan bahwa anak buahnya tidak akan terbiasa dengan kemewahan.
"Islam tidak pernah menginginkan kita memiliki kehidupan mewah," kata Ayoubi menyinggung jika kemewahan datang di surga, kehidupan setelah kematian.

Pemilik mansion, Dostum, adalah sosok terkenal dalam sejarah Afghanistan. Dia seorang mantan penerjun payung, komandan komunis, panglima perang dan wakil presiden. Dostum secara luas diduga mendapat untung besar dari korupsi dan penggelapan yang mendiskreditkan pemerintahan sebelumnya.

Beberapa pejabat secara ilegal mengambil tanah untuk membangun rumah mewah di satu lingkungan. Bangunan megah milik Dostum akan bertahan, hanya saja, menurut Ayoubi, rezim baru tidak akan membiarkan kemewahan seperti itu dibangun dengan keuntungan yang tidak diinginkan di masa depan. "Kami berpihak pada orang miskin, katanya.

Artikel Asli