Eks Penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju Didakwa Terima Suap Rp11,5 Miliar

limapagi.id | Nasional | Published at 13/09/2021 12:56
Eks Penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju Didakwa Terima Suap Rp11,5 Miliar

LIMAPAGI - Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Stepanus Robin Pattuju didakwa menerima suap sebesar Rp11,5 miliar dari sejumlah pihak. Suap berasal dari Wali Kota Tanjungbalai nonaktif M Syahrial, hingga Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin.

"Menerima hadiah atau janji berupa uang dengan jumlah keseluruhan Rp11.025.077.000 dan USD 36.000 atau setidak-tidaknya sejumlah itu," kata jaksa penuntut umum (JPU) KPK Lie Putra Setiawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin, 13 September 2021.

USD 36.000 setara Rp513.946.800. Dengan demikian, total suap yang diterima Robin seluruhnya mencapai Rp11,5 miliar.

Jaksa Lie kemudian merincikan asal uang suap tersebut. Dari M Syahrial sebesar Rp1.695.000.000, serta dari Azis Syamsuddin dan Wakil Ketua Umum PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Aliza Gunado sebesar Rp3.099.887.000 dan USD 36.000 atau setara Rp513.946.800.

Selanjutnya dari Wali Kota Cimahi nonaktif Ajay Muhammad Priatna sebesar Rp507.390.000 dan dari narapidana kasus korupsi hak penggunaan lahan di Kecamatan Tenjojaya, Sukabumi, Jawa Barat, Usman Effendi sebesar Rp525 juta.

"Dan Rita Widyasari (eks Bupati Kutai Kartanegara) sejumlah Rp5.197.800.000," ungkap Lie.

Lie berujar, suap itu diberikan mereka agar Stepanus Robin dan seorang pengacara bernama Maskur Husain membantu perkara mereka di KPK.

Lie menyampaikan, Stepanus merupakan penyidik KPK sejak 15 Agustus 2019. Dia ikut bertugas melakukan penyidikan atas tindak pidana korupsi yang ditangani KPK bersama penyidik lainnya.

Pada 2 Juli 2020, Riefka Amalia, adik dari teman Stepanus membuka rekening tabungan BCA atas permintaan dan demi kepentingan Stepanus. Kartu ATM rekening tersebut dipegang Stepanus dan Riefka Amalia dapat mengakses rekening tersebut dengan layanan aplikasi M- banking.

"Selain itu, terdakwa (Stepanus) juga mencari lokasi (safe house) guna tempat bertemu terdakwa dengan Maskur Husain dan pihak lain untuk melakukan serah-terima uang," ucapnya.

Atas tindakannya, Robin dan Maskur didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo padal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi pada 20 September 2021. Hal ini karena, Stepanus Robin tak mengajukan nota keberatan atau eksepsi.

Artikel Asli