Eks Penyidik KPK Ancam Bos PT Tenjo Jaya "Senin Nggak Dibayar, Bapak Tersangka…"

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 13:59
Eks Penyidik KPK Ancam Bos PT Tenjo Jaya "Senin Nggak Dibayar, Bapak Tersangka…"

Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) asal Polri, Stepanus Robin Pattuju, didakwa menerima suap dari lima pihak berperkara di komisi antikorupsi dengan jumlah keseluruhan Rp 11.025.077.000 dan 36 ribu dolar AS (Rp 513 juta). Salah satunya, dari Direktur PT Tenjo Jaya, Usman Effendi. Kejadian itu terjadi pada awal Oktober 2020.

"Bertempat di Puncak Pass, Usman Effendi meminta bantuan terdakwa (Robin) agar dirinya tidak dijadikan tersangka oleh KPK," ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK Lie Putra Setiawan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/9).

Jaksa Lie mengatakan, saat itu, Robin sudah mencari Usman sebelum pertemuan di Puncak terjadi. Tujuannya, untuk memberitahu keterlibatannya dalam kasus kalapas Sukamiskin, Bandung.

Saat itu Usman Effendi disebut akan dijadikan tersangka oleh KPK. Robin mencari celah untuk meraup keuntungan.

"Terdakwa (Robin) lalu menyampaikan kepada Usman Effendi kalau dirinya dan tim dapat membantu Usman Effendi dengan imbalan sejumlah Rp 1 miliar," imbuhnya.

Mendengar nominal itu, Usman keberatan. Dia menganggap jumlahnya terlalu besar. Robin dan Usman kemudian bernegosiasi untuk menurunkan harga. Akhirnya, keduanya sepakat dengan angka Rp 525 juta. Tapi ada syaratnya, sebanyak Rp 350 juta harus cepat dibayar.

"Tidak harus sekali bayar lunas. Yang penting masuk dananya hari Senin, karena jika hari Senin tidak dibayar, bapak akan dijadikan tersangka pada ekspos pada hari Senin jam 16.00," ujar Lie, menirukan perkataan Robin kepada Usman.

Setelah mengatakan itu, Robin langsung memberikan nomor rekening ke Usman. Pada Minggu, 4 Oktober 2020, Robin kembali mengingatkan Usman tentang pembayarannya melalui telepon.

"Bahwa kemudian sejak tanggal 6 Oktober 2020 sampai dengan 19 April 2021, Usman Effendi mentransfer uang ke rekening BCA milik Riefka Amalia melalui rekening Bank Mandiri nomor 1330007721988 miliknya maupun rekening BCA nomor 0541235131 atas nama Yayan Heryanto dengan jumlah keseluruhan Rp 525 juta," tutur Lie.

Uang tersebut dibagi dua dengan pengacara Maskur Husain. Robin menerima Rp 252,5 juta. Sementara itu, Maskur mendapatkan Rp 272,5 juta.

Selain dari Usman, Robin dan Maskur juga menerima uang dari Wali Kota Tanjungbalai Muhamad Syahrial sejumlah Rp 1.695.000.000. Kemudian, dari Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan politikus Partai Golkar Aliza Gunado sejumlah Rp 3.099.887.000 dan 36 ribu dolar AS (Rp 513 juta).

Lalu, dari Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna sejumlah Rp 507.390.000; Dan terakhir, dari mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari sejumlah Rp 5.197.800.000. Jadi, total uang yang diterima Robin dan Maskur Husain sebesar Rp 11.538.374.001.

Atas perbuatannya Robin disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP. [OKT]

Artikel Asli