Positivity Rate Turun di Bawah Standar WHO

jawapos | Nasional | Published at 13/09/2021 12:01
Positivity Rate Turun di Bawah Standar WHO

JawaPos.com Dalam beberapa hari terakhir, tingkat kasus konfirmasi positif Covid-19 ( positivity rate ) turun hingga mencapai angka 3 persen. Angka itu jauh lebih baik dari standar WHO, yakni 5 persen.

Kemarin (12/9) satgas Covid-19 mencatat, positivity rate harian mencapai 3,05 persen. Sementara itu, dalam interval mingguan, periode 511 September 2021, angkanya tercatat 4,23 persen. Artinya, angka kepositifan konsisten berada di bawah 5 persen selama seminggu terakhir.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan, saat ini terjadi tren penurunan kasus di kawasan Afrika, Asia Tenggara, dan Mediterania Timur. Namun, di kawasan Benua Amerika, justru kasus mengalami kenaikan. Kita bersyukur Indonesia salah satu negara yang terus mengalami tren penurunan, ujarnya.

WHO mencatat, kasus Covid-19 secara global telah mencapai 223 juta dan angka kematian melebihi 4,6 juta orang. Jumlah kasus baru relatif stabil dalam satu bulan terakhir.

Beberapa hari terakhir, lanjut Retno, positivity rate nasional berhasil turun di bawah angka 5 persen yang merupakan ambang batas WHO. Padahal, pada Juli lalu, positivity rate hampir mendekati 40 persen.

Menurut WHO, negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi mengalami pemutusan korelasi antara kenaikan kasus dengan tingkat kematian. Artinya, meski terjadi lonjakan kasus, tapi tidak diikuti dengan kenaikan rawat inap dan kematian. Hal ini membuktikan bahwa vaksin bekerja, jelas Retno.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dilalui. Menlu memastikan diplomasi Indonesia terus bergerak agar kebutuhan vaksin nasional dapat terpenuhi.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, menurut catatan satgas, Indonesia mengalami penurunan kasus hingga 74 persen dari puncak kasus yang terjadi sebelumnya. Namun, dia mengingatkan kewaspadaan harus selalu dijaga. Mengingat perkembangan virus Covid-19 masih cukup dinamis. Virus akan terus bermutasi selama virus masih ada di tengah masyarakat, baik pada skala lokal maupun global, jelasnya.

Sementara itu, pada 7 September 2021, BPOM telah memberikan EUA kepada vaksin Janssen dan vaksin Convidecia yang dikembangkan CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology. Janssen dan Convidecia menjadi vaksin ke-8 dan ke-9 yang mendapatkan EUA dari Badan POM pada tahun ini. Dua vaksin tersebut menyusul tujuh vaksin lain yang telah mendapatkan EUA lebih awal, yaitu Sinovac, vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sputnik V.

Terkait vaksinasi, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono meminta pemerintah daerah bisa ngebut. Dalam dua bulan terakhir, vaksin Covid-19 yang diterima Indonesia sudah cukup banyak. Bahkan, kedatangan vaksin terus berlangsung hingga Desember.

Jika dihitung dari awal kedatangan vaksin hingga tahap ke-56 yang tiba pada Sabtu (11/9), Indonesia telah memiliki 232 juta dosis vaksin. Bulan ini harapannya bisa menyuntikkan 2 juta dosis vaksin per hari, ungkap Dante.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah vaksinasi untuk lansia. Dante meminta pemerintah daerah memiliki terobosan. Kami juga perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar tidak ada yang tertinggal dalam program vaksinasi ini, ungkapnya.

Selain itu, Dante meminta masyarakat tidak memilih vaksin apa yang digunakan.

Menurut dia, vaksin terbaik adalah vaksin yang ada saat ini. Jika menunda vaksinasi, dampaknya akan lebih parah pada kondisi tubuh jika terkena Covid-19. Ada ribuan anak yang kehilangan orang tuanya karena Covid-19, katanya.

Terkait jumlah kasus aktif dan angka kematian akibat Covid-19 yang menurun, dia meminta tidak disikapi dengan sembrono. Masyarakat tetap diminta waspada. Caranya dengan mematuhi protokol kesehatan. Untuk itu, kita harus mematuhi kebijakan protokol kesehatan yang sudah dikeluarkan pemerintah karena bertujuan untuk kebaikan kita bersama, ucap dokter spesialis penyakit dalam itu.

Menurut dia, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) juga diterapkan untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan kasus.

Artikel Asli