Jubir Satgas Covid UNS Kasih Catatan Soal Testing Tracing Dan Positivity Rate

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 10:59
Jubir Satgas Covid UNS Kasih Catatan Soal Testing Tracing Dan Positivity Rate

Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS Solo, Dr. Tonang Dwi Ardyanto menyampaikan kritik dan pandangannya terhadap situasi Covid saat ini. Terutama dari sisi testing dan tracing, yang masih harus terus digenjot.

"Jumlah tes yang terlaporkan kemarin adalah 124 ribu. Sebanyak 37 ribu di antaranya tes PCR. Sisanya yang berjumlah 87 ribu adalah tes antigen. Ini terbalik. Seharusnya, sebagian besar PCR. Antigen hanya untuk melengkapi," kata Tonang via laman Facebook-nya, Senin (13/9).

Dari 37 ribu PCR secara nasional itu, sebanyak 53 persen atau19,5 ribu testingdilakukan di DKI. Artinya, yang 17,5 ribu itu terbagi pada 33 propinsi lainnya.

Gambaran ini mendekati rata-rata harian selama ini, dimana memang sering terjadi bahwa sekitar 1/3 sampai 1/2 jumlah tes PCR itu ada di DKI. Apalagi, setelah semakin marak penggunaan tes antigen.

Di DKI, sesuai aturan zona A dari Kementerian Kesehatan,setiap hasil antigen harus dikonfirmasi dengan PCR.

Dalam sepekan terakhir, jumlah tes di DKI mencapai 10 kali lipat standar WHO.

Angka positivity rate di DKI dalam sepekan terakhir adalah 1,8 persen. Sementara angka positivity rate nasional, mencapai 10,4 persen.

"Secara statistik, laporan 1,8 persenlebih realiable atau bisa diandalkan, karena berbasis kapasitas testing yang mencukupi. Namun untuk positivity rate nasional, perlu dikaji benar dan hati-hati dimaknai," tutur Tonang.

Tonang juga menyampaikan beberapa catatan, terkait capaian DKI. Pertama, yang dites tidak hanya warga DKI.

"Bila kita anggap bahwa total yang beraktivitas di Jakarta adalah 2 kali lipat jumlah pemegang KTP Jakarta, maka kapasitas testing PCR di Jakarta masih 5 kali lipat standar WHO. Bahkan, seandainya 3 kali lipat pun jumlahnya, masih tercapai 3,3 kali standar WHO. Murni PCR, tanpa menyertakan tes antigen," papar Tonang.

Secara nasional, kapasitas PCR rata-rata adalah 1 kali standar atau justru di bawahnya. Capaian tertinggi adalah 119 ribu, atau 3 kali standar WHO pada tanggal 15 Juli 2021 saat puncak kasus.

"Sekali itu saja. Karena setelahnya,cenderung terus menurun. Pernah, bahkan hanya separuh dari target minimal. Itu pun sekali lagi, yang 1/3 atau 1/2 cakupannya ada di DKI.Saat itu, PCR di DKI hampir 15 kali lipat standar WHO. Mirip dengan pola di India," terang Tonang.

Kedua, sebagian tes PCR yang dilaporkan di DKI itu adalah untuk skrining. Atau dilakukan pada orang-orang yang tidak terindikasi gejala dan kontak erat.

Kalau 75 persendi antaranya diasumsikanbenar-benar untuk skrining saja, maka testing di DKI masih 2,5 kali lipat dari standar WHO.

Bila asumsi yang sama diterapkan ke angka nasional, maka proporsi untuk skrining ini semakin memperkecil jumlah PCR, yang benar-benar untuk tujuan diagnostik.

Tonang pun lantas mengilustrasikan pernyataan"orang se-kecamatan X itu ganteng semua".

Menurutnya, disana ada tuntutan data yang representatif. Baik secara jumlah, maupun dalam cara memiliih sampel. Kalau datanya memadai, baru orang mau menerima simpulan survei tersebut.

"Analisis ini, bukan untuk mengajak orang tidak bersyukur, atau semangat kita mengendur. Analisis ini untuk mengajak kita, agar jangan tergesa-gesa takabur. Bagi saya, lontaran dari negara tetangga bahwa "mari mencontoh Indonesia yang kasusnya cepat sekali turun", adalah nyemoni," beber Tonang.

"Dalam filosofi Jawa, nyemoni itu artinya mengkritik tajam, spesifik, tapi secara halus. Sehingga, seolah justru seperti memuji. Mari tetap terus bersyukur, sambil menahan diri, tidak tergesa-gesa takabur," pungkasnya. [HES]

Artikel Asli