PPKM Diprediksi Tetap Jadi Opsi Pemerintah Tangani Covid-19

republika | Nasional | Published at 13/09/2021 11:25
PPKM Diprediksi Tetap Jadi Opsi Pemerintah Tangani Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Kesehatan Masyarakat dari Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dr Hermawan Saputra memprediksi kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tetap menjadi opsi pemerintah menangani Covid-19. Keputusan kelanjutan atau berakhirnya PPKM akan disampaikan pemerintah pada Senin (13/9).

Hermawan mengamati masih ada sebagian daerah yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 walau ada sebagian yang kasusnya turun. "PPKM itu tetap akan jadi pilihan, karena skala nasional itu tidak sama satu daerah dengan daerah yang lain. Ada daerah yang masih level 4, ada daerah yang level 3, bahkan ada level 2. Tapi kehati-hatian itu sangat penting," kata Hermawan kepada wartawan, Ahad (12/9).

Hermawan merekomendasikan supaya pemerintah tidak tergesa-gesa melonggarkan aktivitas masyarakat. Ia memantau dua pekan terakhir aktivitas masyarakat cukup terbuka seperti tempat pelayanan publik, perkantoran, arus lalu lintas kembali ramai. Ia khawatir hal itu bisa saja berdampak negatif bagi pengendalian pandemi.

"Pelonggaran ini harus dimaknai kehati-hatian yang luar biasa, tidak sama ritme satu daerah dengan daerah lain," ujar Hermawan.

Hermawan meminta masyarakat dan dunia usaha menyikapi penurunan kasus Covid-19 dengan bijak. Ia mengingatkan tetap ada potensi kasus Covid-19 melonjak lagi bila tidak waspada. "Jangan sampai ada kenaikan kasus yang signifikan. Jangan sampai ada varian baru yang lolos. Kita tahu ada varian Mu. Jangan sampai menjadi tantangan seperti Delta yang Juni-Juli sudah luar biasa," ujar dia.

Hermawan merujuk sejumlah negara seperti Amerika dan Australia kembali mengalami peningkatan kasus Covid-19. Amerika walaupun warganya sudah divaksin, namun tetap potensi kenaikan kasusnya tinggi karena ada varian baru dan pelonggaran di mana-mana. "Jadi, dunia tetap waspada. WHO pun belum cabut status pandemi. Indonesia tidak boleh euforia," sebut Hermawan.

Selain itu, Hermawan mendesak pemerintah menambah kapasitas testing dan tracing . Menurut Hermawan, perlu testing kepada komunitas masyarakat yang berisiko. "Tapi masyarakat juga harus berperilaku yang baik. Tetap protokol kesehatan walaupun ada relaksasi pelonggaran, tidak boleh excuse , tidak boleh mumpung," tegas Hermawan.

Diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat positivity rate harian Covid-19 di Indonesia terus menurun. Positivity rate Covid-19 di Indonesia sempat 51,62 persen pada Juni 2021. Namun pada Ahad (12/9) positivity rate berada di angka 3,05 persen. Sedangkan kasus positif Covid-19 bertambah 3.779. Sebanyak 9.401 orang sembuh dari Covid-19. Hingga saat ini total 3.918.753 orang telah sembuh dari Covid-19.

Artikel Asli