Catatan di Hari Kunjung Perpustakaan

lampung.rilis.id | Nasional | Published at 13/09/2021 10:50
Catatan di Hari Kunjung Perpustakaan

PERPUSTAKAAN tanpa adanya pembaca, ibarat tubuh tanpa nyawa. Perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang memberikan interaksi antara pembaca (pemustaka) dengan sumber informasi melalui buku-buku yang dibaca. Dengan demikian semakin banyak kunjungan orang yang membaca buku, maka menjadi tolak ukur bahwa sebuah perpustakaan telah berhasil melakukan peran dan fungsinya dalam membangun peradaban.

Namun mari kita lihat realita di lapangan, banyak perpustakaan baik itu perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan komunitas, perpustakaan sekolah dan perpustakaan manapun saat ini seperti mati suri. Padahal petugasnya ada, anggaran operasionalnya juga baik-baik saja. Bahkan di beberapa tempat malah ada pembangunan fisik gedung perpustakaan dengan jumlah dana yang wah.

Sepengamatan saya, belakangan ini kecil sekali aktivitas kunjungan pemustaka yang sengaja datang ke perpustakaan. Faktornya banyak sekali. Di antaranya yakni minimnya konten perpustakaan yang itu-itu saja. Hanya berisi deretan buku yang disusun rapi pada display dan rak-rak besi.

Pengelolaan yang standar dan pasif juga turut mempengaruhi minat masyarakat untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Masyarakat kita kini cenderung tertarik dengan hal-hal yang out of the box, tertarik pada hal-hal yang bersifat kebaruan serta di luar kelaziman pada umumnya.

Coba saja di perpustakaan disediakan kafe plus cemilan gratis, pasti banyak yang berkunjung. Atau coba saja perpustakaan mendesain konsep alam dalam tata ruang yang sejuk, nyaman dan asri dengan dilengkapi sarana wifi. Pasti banyak sekali yang akan berkunjung. Lembaga atau pengelola perpustakaan memang harus dituntut kreatif dan inovatif di tengah perkembangan teknologi.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di era digitalisasi mudah sekali mengakses bahan bacaan. Tidak harus melalui buku fisik tapi bisa juga melalui e-book. Membaca buku tidak perlu susah-susah datang ke perpustakaan, sambil tidur di kamar pun bisa membaca di ponsel android, gadget, laptop dan lainnya.

Efisiensi dan kemudahan membaca buku yang ditawarkan oleh berbagai perangkat teknologi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan. Jika pengelolaannya tidak aktif, kreatif dan inovatif, seiring berjalannya waktu maka perpustakaan hanya akan menjadi kuburan buku. Apalagi ditambah situasi pandemi Covid-19 yang membuat ruang gerak serba terbatas.

Perpustakaan dalam amanat Undang-Undang No. 43 tahun 2007 tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar atau tempat membaca buku saja, tapi juga sebagai wahana rekreasi.

Fungsi rekreasi yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat yang menghibur bagi pemustakanya. Secara alamiah jika seseorang merasa terhibur, maka minatnya akan kuat untuk berulangkali merasakan kesenangan dari hiburan yang diperolehnya.

Lalu, bagaimanakah agar masyarakat pemustaka merasa senang dan merasa rekreasi di perpustakaan? Tentu metode dan cara yang digunakan oleh pengelola perpustakaan beragam dan bervariasi. Salah satunya bisa dengan menghadirkan musik dalam suasana membaca. Musik di sini bukanlah musik full audio yang bergema di ruangan yang justru malah menghilangkan esensi dasar perpustakaan, namun musik yang digunakan adalah musik klasik yang didengar melalui perangkat headset, sehingga suasana perpustakaan tetap nyaman dan aman.

Suherman, seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan bahwa jenis musik klasik dengan ketukan tertentu yang selaras dengan detak jantung manusia memiliki efek yang dapat memperkaya pikiran dan menambah kecerdasan.

Dalam penelitiannya, hal itu disebabkan karena musik merupakan salah satu makanan penting dari otak kanan. Selama ini proses membaca hanya memfungsikan otak kiri yang bersifat linier, logis dan matematis. Adanya musik yang respons otak kanan maka terjadi keseimbangan kerja otak. Penggunaan otak yang tidak seimbang akan menimbulkan kelelahan dan kejenuhan.

Pada dasarnya banyak metode yang bisa dikreasikan agar perpustakaan tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan.

Perpustakaan juga dapat bertransformasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk mencari prolem solving dalam kehidupan kemasyarakatan. Perpustakaan bukan lagi menjadi barang ekslusif milik kalangan tertentu saja, tapi juga milik siapapun yang ingin belajar apapun.

Program perpustakaan berbasis inklusi sosial juga sudah tidak asing lagi, yakni program pelibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan perpustakaan yang menyasar berbagi lini sektor. Mulai dari pendidikan, pertanian, kesehatan, pariwisata, sosial dan budaya bisa dilakukan lewat perpustakaan.

Intervesi pemerintah melalui Perpusnas RI dalam hal ini telah membuat program perpustakaan berbasis inklusi sosial yang diberikan kepada perpustakaan desa di seluruh Indonesia pada empat tahun terakhir.

Dikutip dari laman www.perpusnas.go.id, tahun 2021 Perpusnas memberikan bantuan program transformasi perpustakaan kepada 450 desa berupa hibah buku 1000 eks dan komputer 3 unit. Jumlah itu tentu masih jauh dari kata ideal apabila dibandingkan dengan jumlah desa yang ada di Indonesia ini. Saya kira program tersebut juga akan sia-sia saja jika tidak diiringi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia pengelola perpustakaannya.

Konsep dasar literasi yang mencangkup enam dimensi literasi antara lain literasi baca-tulis, literasi sains, literasi numerasi, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya kewargaan juga bagian yang terintegrasi di dalam perpustakaan.

Literasi memiliki arti sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, memahami dan menganalisa dalam rangka pemecahan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini bisa kita dapati dalam panduan Gerakan Literasi Nasional yang diinisasi oleh Kemendikbud.

Literasi juga dipakai oleh Kemkominfo melalui program webinar siberkreasi yang diselenggarakan maraton di berbagai daerah dengan melibatkan partisipasi tokoh lokal dan nasional dengan tujuan sosialisasi praktik baik literasi digital.

Artinya, kegiatan membaca yang pemaknaannya diperluas dalam frasa literasi, kini tidak hanya milik perpustakaan saja. Kementerian, lembaga, kantor dan instansi mulai menggunakan isu literasi sebagai salah satu program kegiatannya. Literasi kemudian seperti barang seksi yang bisa dijadikan object bahan program dan bahan agenda yang bernilai bagi stakeholder. Meskipun seksi tapi semoga tak kehilangan esensi.

Pada level Lampung, sebenarnya kita sudah punya produk hukum yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Lampung yang secara normatif mengatur kebijakan peningkatan budaya literasi yakni Perda No. 17 tahun 2019.

Namun pada tataran implementasi, Perda ini belum cukup mampu mengakomodir kebutuhan para relawan dan pelaku literasi di kabupaten/kota se-Lampung yang bergerak sporadis. Karena masih terdapat kepala daerah di tingkatan kabupaten/kota yang tidak serius dalam menjalankan Perda Literasi ini.

Pada pasal 4 ayat 1, secara eksplisit menyatakan bahwa kegiatan peningkatan budaya literasi dilakukan melalui Tim GLD (Gerakan Literasi Daerah) yang terbentuk secara struktural mulai dari provinsi, kabupaten, hingga kecamatan. Tugas GLD cukup kompleks yang meliputi penyediaan ruang publik saran baca, perluasan akses sumber bacaan, penguatan fasilitator literasi dan lain-lain.

Faktanya, hanya sekian kabupaten saja yang menerapkan Tim GLD ini. Ada juga yang sudah membentuk tim GLD tapi hanya nama saja tanpa terlihat wujud kerjanya. Alasannya pun klise dan mudah ditebak. Tidak ada anggaran. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin perpustakaan akan maju.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan, 14 September. (*)

Artikel Asli