Saat Tiongkok Makin Akrab dengan Taliban, Prancis Tolak Jalin Hubungan

jawapos | Nasional | Published at 13/09/2021 09:03
Saat Tiongkok Makin Akrab dengan Taliban, Prancis Tolak Jalin Hubungan

JawaPos.com Tiongkok makin menunjukkan keakraban dengan Taliban yang kini berkuasa di Afghanistan. Teranyar, Pemerintah Tiongkok memberikan bantuan kepada Afghanistan berupa 3 juta dosis vaksin Covid-19 dan bantuan kemanusiaan lainnya senilai 200 juta yuan atau sekitar Rp 441 miliar.

Bantuan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, dalam pertemuan virtual dengan beberapa menteri luar negeri negara sahabat pada pekan lalu. Pertemuan itu guna membahas isu Afghanistan setelah pembentukan pemerintahan baru Taliban. Bantuan kemanusiaan 200 juta yuan tersebut, termasuk makanan, obat-obatan, dan peralatan untuk musim dingin.

Di satu sisi, Tiongkok mendesak Taliban untuk bertindak aktif dalam memerangi teroris dan menyerukan kepada semua pihak untuk memperkuat kontrol perbatasan guna mengeliminasi kelompok teroris yang hendak melarikan diri dari Afghanistan.

Wang juga menekankan kepada Amerika Serikat dan sekutunya agar bertanggung jawab memberikan bantuan ekonomi dan kemanusiaan kepada rakyat Afghanistan karena merekalah yang membuat masalah di negara yang berbatasan langsung dengan Daerah Otonomi Xinjiang.

Sekitar 30 persen penduduk Afghanistan berlatar belakang etnis Tajik. Suku ini terbesar kedua di Afghanistan setelah suku Pashtun yang diperkirakan mencapai 40 persen. Suku Tajik juga banyak ditemui di Xinjiang.

Tiongkok sangat berkepentingan dengan Taliban untuk memerangi kelompok teroris Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM). Gerakan itu beberapa kali berupaya memisahkan Xinjiang yang banyak dihuni etnis minoritas Muslim Uighur dari Tiongkok.

Sementara itu, Prancis justru menegaskan tak memiliki hubungan dengan pemerintahan baru Taliban. Prancis kecewa dan menyebut Taliban berbohong. Hal ini dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian.

Mereka mengatakan akan membiarkan beberapa orang asing dan warga Afghanistan pergi dengan bebas dan (berbicara) tentang pemerintahan yang inklusif dan representatif, tetapi mereka berbohong, kata Le Drian di France 5 TV.

Prancis menolak untuk mengakui atau memiliki hubungan apa pun dengan pemerintah ini. Kami menginginkan tindakan dari Taliban dan mereka akan membutuhkan ruang bernafas ekonomi dan hubungan internasional. Terserah mereka, tegasnya.

Prancis telah mengevakuasi sekitar 3.000 orang dan telah mengadakan pembicaraan teknis dengan Taliban untuk memungkinkan keberangkatan tersebut. Le Drian, yang menuju ke ibu kota Qatar, Doha, pada Minggu (12/9), mengatakan masih ada beberapa warga negara Prancis dan beberapa ratus warga Afghanistan yang memiliki hubungan dengan Prancis yang tersisa di Afghanistan.

Artikel Asli