Kebutuhan Kredit Untuk UMKM Bakal Meningkat

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 08:46
Kebutuhan Kredit Untuk UMKM Bakal Meningkat

Pemerintah terus menyalurkan kredit untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Penyaluran kredit ini diharapkan bisa memberikan dukungan besar terhadap pemulihan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, penyaluran kredit ke UMKM saat ini masih minim.

Pemerintah menargetkan kewajiban kredit UMKM di perbankan minimal 30 persen dari total penyaluran kredit pada 2024, ujar Airlangga dalam keterangan resminya, kemarin.

Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan, untuk mencapai target tersebut diperlukan tambahan kredit UMKM sebesar Rp 980 triliun, dengan posisi kredit UMKM tahun 2024 mencapai Rp 2.000 triliun.

Dukungan ini akan membantu Indonesia untuk rebound , sehingga target pertumbuhan di kisaran 3,7 persen sampai 4,5 persen dapat tercapai di tahun 2021, katanya.

Disebutkan Airlangga, jumlah UMKM saat ini telah mencapai 99,9 persen dari total pelaku usaha dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Jadi, secara keseluruhan, UMKM telah berkontribusi sebesar 61,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau senilai Rp 8.573,89 triliun.

Hingga akhir semester II-2021, program penempatan dana telah berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 406,64 triliun melalui bank Himbara (Himpunan Bank-Bank Negara), bank syariah dan BPD. Total outstanding restrukturisasi kredit mencapai Rp 777,31 triliun.

Untuk diketahui, sesuai ketentuan yang tercantum pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015, porsi kredit UMKM telah disiapkan 20 persen. Namun, Bank Indonesia akan mulai mengatur kenaikan secara bertahap.

Bank harus mencapai rasio kredit UMKM sebesar 20 persen pada 2022, lalu 25 persen pada 2023, dan 30 persen pada 2024. Terkait ini, Presiden Jokowi juga secara langsung telah memberikan arahan kepada perbankan.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengatakan, penyaluran kredit sangat tergantung kepada iklim usaha.

Menurutnya, jika penularan Covid-19 berhasil ditanggulangi sampai dengan 2024. Bukan tak mungkin rasio kredit UMKM sebesar 30 persen dapat tercapai.

Jika sampai 2024 pemerintah mampu menanggulangi penularan Covid-19 dengan baik, maka kebutuhan kredit bagi UMKM juga meningkat, ujarnya.

Dia yakin, penyaluran kredit UMKM akan mendorong geliat perekonomian. Apalagi, UMKM mendominasi struktur bisnis nasional.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, agak sulit mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebab, sebagian besar bank di Indonesia lebih memilih segmen kredit korporasi dan konsumsi yang pasarnya sangat besar. Misalnya, kredit kendaraan bermotor, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kartu kredit.

Jika melihat data, rata-rata bank di Indonesia hanya menyalurkan pembiayaan ke UMKM sebesar 20 persen dari total penyaluran kredit. Bahkan, ada bank yang mengalirkan kreditnya ke UMKM jauh di bawah 20 persen, jelasnya.

Menurut Eko, bank juga harus melakukan pembinaan ke UMKM agar bisa berkembang. Sayangnya, banyak bank yang tidak melakukan itu.

Akhirnya, daripada repot mengurusi pembinaan UMKM, bank lebih memilih masuk ke segmen kredit konsumsi atau korporasi. [KPJ]

Artikel Asli