Saat Penceramah tak Luput dari Godaan Setan, Ini Modusnya

republika | Nasional | Published at 13/09/2021 08:21
Saat Penceramah tak Luput dari Godaan Setan, Ini Modusnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Iblis senantiasa menggencarkan tipu dayanya terhadap manusia termasuk kepada para penceramah, pemberi nasihat, dan penutur kisah.

Dikutip dari buku Talbis Iblis karya Ibnu Al Jauzi dengan pentahqiq Syekh Ali Hasan Al Halabi, Ibnu Al Jauzi, mengatakan pada masa lalu, yang menjadi penceramah dan pemberi nasihat adalah para ulama dan ahli fiqih.

Maka itu Abdullah bin Umar RA pernah hadir di majelis Ubaid bin Umair, lantas Umar bin Abdul Aziz pun pernah hadir di majelis sang pemberi nasihat.

Namun kemudian peran mulia ini menjadi hina ketika orang-orang jahil berani mengambil alih, sehingga mereka yang memiliki kedudukan tidak lagi mau hadir di majelis mereka. Justru orang-orang awam dan para wanitalah yang menyukai majelis seperti itu.

Para penceramah, pemberi nasihat, serta penutur kisah tidak membekali diri dengan ilmu syar'i. Mereka juga lebih memilih cerita-cerita dan atau kisah-kisah yang membuat orang-orang jahil dan awam terkagum-kagum. Akibatnya, bermuncullah berbagai macam bidah.

Mereka memalsukan hadits-hadits targhib wa tarhib (motivasi dan ancaman). Iblis membuat talbis atas mereka sehingga mereka menyatakan, "Kami bermaksud memberi anjuran kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari keburukan."

Ini merupakan pelanggaran terhadap syariat. Pasalnya dengan perbuatan demikian, mereka menganggap syariat Islam itu masih kurang dan perlu disempurnakan. Mereka melupakan sabda Rasulullah

"Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, silakan dia mengambil tempat duduknya di neraka."

Di antara talbis Iblis lainnya adalah mereka sengaja mencari-cari kalimat yang bisa memotivasi jiwa dan bisa menggairahkan hati. Mereka membuat-buat berbagai seni berbicara.

Anda dapat melihat mereka mendendangkan syair-syair ghazal yang bercerita tentang mabuk cinta. Iblis memperdaya mereka sehingga mereka berkata, "Maksud kami tidak lain ingin menasihati mereka agar cinta kepada Allah Azza wa Jalla".

Padahal kebanyakan yang datang ke majelis mereka adalah orang-orang awam, yang hati mereka sarat dengan hawa nafsu. Karenanya, tersesat dan menyesatkanlah para penceramah, pemberi nasihat, dan para penutur kisah itu.

Sebagian dari mereka ada yang menampakkan kesan penghayatan dan kekhusyuan melebihi apa yang ada dalam hatinya. Itu terjadi karena banyaknya orang yang datang kepada mereka, yang tentunya menuntut kepura-puraan.

Sehingga, jiwa mereka pun berusaha mengkreasi tangisan dan kekhusyuan berlebih. Siapa saja di antara mereka ada yang berdusta, niscaya dia merugi dunia akhirat. Dan siapa saja yang jujur, maka kejujurannya tidak terlepas dari riya yang menodainya.

Di antara mereka itu ada yang mengajak manusia untuk bersikap zuhud terhadap dunia serta melaksanakan sholat malam, tapi dia sendiri tidak menjelaskan kepada kalangan awam tentang hakikat zuhud dan sholat malam.

Sehingga terkadang ada seseorang dari mereka yang bertaubat lalu menyendiri atau pergi ke gunung, sementara keluarganya dia tinggalkan tanpa jaminan nafkah.

Sebagian mereka menjelaskan kepada manusia tentang perlunya berharap kepada Allah SWT serta tamak atas apa yang ada di sisi-Nya. Namun dia tidak memadukannya dengan sikap yang bisa menjadikan seseorang takut kepada Allah SWT serta bersikap waspada.

Akibatnya, orang-orang semakin berani untuk berbuat kemaksiatan. Apa yang dia katakan itu didukung dengan kecenderungannya kepada dunia, yang terlihat dari kendaraannya yang mewah dan pakaiannya yang mahal. Maka, dia merusak hati manusia dengan perkataan dan perbuatannya.

Artikel Asli