Dibunyikan NU Gibran Untuk Gubernur DKI Bukan Mission Impossible

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 07:50
Dibunyikan NU Gibran Untuk Gubernur DKI Bukan Mission Impossible

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka terus digoda untuk maju sebagai Gubernur DKI di Pilkada 2024. Setelah didorong-dorong orang parpol, kini gantian Nadhlatul Ulama (NU) yang ikut menjagokan Gibran. Kalau lihat makin banyaknya dukungan, Gibran untuk Gubernur DKI bukan mission impossible .

Dukungan itu terjadi, ketika putra sulung Presiden Jokowi itu, ikut menghadiri acara donor darah dan plasma konvalesen Pimpinan Wilayah (PW) NU DKI, Sabtu (11/9). Selain Gibran, acara itu juga dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, Ketua Umum PMI DKI Jakarta, Rustam Effendi dan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo.

Gibran datang dengan setelan batik lengan panjang, namun dibalut rompi warna hijau lumut tua. Rompi dengan logo NU di dada kiri dan bendera merah putih di dada kanan ini juga dikenakan Wagub DKI.

Gibran tiba lebih awal dari Riza. Bos Markobar ini juga ikut menyambut kehadiran Riza dan menyaksikannya dipakaikan rompi NU. Namun, politisi Gerindra itu mula-mula gak ngeh kalau yang menyambut dan menyalaminya itu adalah Gibran. Karena tertutup masker.

Beberapa saat kemudian, baru ngeh kalau itu adalah putra orang nomor 1 di Indonesia. Spontan, kedua tangannya ia langsung memegang erat bahu Gibran.

Meskipun bukan di wilayah kekuasaannya, Gibran tetap dikasih panggung oleh NU DKI untuk memberikan sambutan. Namun, kapasitas Gibran berbicara bukan sebagai Wali Kota Solo, melainkan Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Nasional Karang Taruna.

Dalam sambutannya, Gibran tak segan-segan memuji penanganan Covid-19 di Jakarta. Bahkan, Gibran tak malu mengakui, Jakarta selalu jadi rujukannya dalam setiap rapat dengan anak buahnya di Pemkot Solo.

Usai Gibran, giliran Ketua Umum PWNU DKI, Samsul Maarif yang bicara. Dalam sambutannya itu, Samsul berkali-kali sampaikan pujian terhadap Gibran. Bahkan, Gibran diberi panggilan istimewa, yakni Gus Gibran.

Gus adalah gelar Jawa yang populer di kalangan pesantren, bermakna bagus, tampan, atau pandai. Bisa juga menjadi gelar putra dari seorang Kyai yang belum cukup disebut Kyai.

Samsul bilang, panggilan Gus Gibran itu keluar sendiri dari mulutnya secara spontan. Kendati demikian, Gus Gibran itu bagi dia punya arti tersendiri. Generasi muda sudah waktunya menjadi pemimpin, kata Kyai Samsul.

Ia tak segan-segan menyebut Gus Gibran sudah waktunya naik kelas. Dari Wali Kota menjadi Gubernur di Ibu Kota. Layak memimpin Jakarta, dukungnya.

Selain Kyai Samsul, Ketua Satgas Donor Darah dan Plasma Konvalasen PWNU DKI KH Asyik Samsul Huda juga memanggil Gibran dengan gelar Gus. Keduanya lah yang pertama kali menyematkan gelar Gus kepada ayah Jan Ethes ini.

Apa tanggapan PDIP, selaku partai tempat Gibran bernaung? Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul tak terlalu mempersoalkan soal dijagokannya Gibran untuk maju di Pilgub DKI.

Ya monggo saja, tapi kalau partai belum ada pikiran apapun ke sana (Pilkada, red), kata Bambang ketika dikonfirmasi Rakyat Merdeka , kemarin.

Karena Pilkada, menurutnya, masih jauh. Sekitar 3 tahun lagi. Sementara sebelum Pilkada, ada 2 hajatan yang tak kalah penting untuk dipersiapkan. Yakni Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang bakal digelar pada 21 Februari 2024.

Yang terdekat, adalah tahapan persiapan partai peserta Pemilu 2024, pada April 2022. Sekitar 6-7 bulan lagi.

Kemudian bicara soal Pilkada, kalau nggak salah 29 November 2024. Masih sangat jauh. Sehingga partai belum berpikir ke sana, jelasnya.

Jika pun kemudian ada yang berminat ingin dijagokan PDIP dalam kontestasi Pilkada, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah ini bilang, prosedurnya masih sama seperti sebelumnya. Ada proses penjaringan dan penyaringan.

Tapi road map kita itu setelah Pileg dan Pilpres. Setelah Pileg dan Pilpres baru berpacu ke situ, Pilkada, terang dia.

Soal tenggang waktu setelah Pileg dan Pilpres menuju Pilkada, sekitar 10 bulan, menurut Bambang, lebih dari cukup untuk melakukan serangkaian persiapan Pilkada 2014 yang serentak dilakukan.

Karena PDI Perjuangan punya institusi organisasi sebagaimana kewenangan masing-masing. Tinggal koordinasi. Tingkat kabupaten/kota ya di DPC, untuk provinsi di level DPD. Gak ada masalah, tandasnya.

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof Siti Zuhro menilai DKI sebetulnya tak kekurangan orang yang berkualitas untuk dijadikan Gubernur. Baik dari kader partai maupun non kader.

Masalahnya, pilkada itu mahal. Siapapun yang ingin ikut dalam kompetisi dan kontestasi harus memastikan isi tasnya atau uangnya banyak, kata Prof Siti kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Namun, peneliti senior yang karib disapa Wiwik ini memberi catatan untuk karir politik Gibran. Menurutnya, ada yang dirugikan jika sosok yang baru saja ikut pilkada serentak 9 Desember 2020 kembali bertarung di Pilkada 2024.

Model lompat-lompat dalam memimpin daerah sangat merugikan, selain kurang etis, juga menunjukkan tidak memiliki komitmen dan ingkar sumpahnya sendiri ketika dilantik sebagai kepala daerah, kritiknya.

Pengamat politik asal Solo, Agus Riewanto menilai, peluang Gibran untuk maju di Pilgub DKI sangat terbuka. Mengingat, waktu menuju Pilkada DKI masih sekitar 3 tahun lagi. Sehingga, banyak persiapan yang bisa dilakukan Gibran jika memang serius ingin lompat ke jenjang politik nasional.

Kata dia, saingan Gibran dari internal PDIP saat ini hanya 1, yakni Menteri Sosial Tri Rismaharini. Menurutnya, hanya Gibran dan Risma dari PDIP yang memiliki peluang besar untuk maju di Pilgub DKI.

Saya katakan, siapa pun, termasuk Gibran, memungkinkan untuk menjadi Gubernur Jakarta. Ya, karena di politik itu tidak ada yang tidak mungkin kan. Bisa saja itu terjadi, walau di sana sudah banyak calon lain, kata Agus.

Seperti diketahui, wacana Gibran sebagai Gubernur DKI pertama kali disuarakan PAN dan PKB. Bahkan, dukungan itu disampaikan langsung oleh ketua umum partai masing-masing. Yakni Ketum PAN, Zulkifli Hasan dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar saat keduanya bertemu langsung dengan Gibran.

Namun, saat itu, Gibran tidak memberikan jawaban pasti soal pinangan 2 ketum parpol untuk maju di Pilkada DKI. Gibran mengaku masih fokus dengan tugas-tugasnya sebagai Wali Kota Solo.

Saya nyelesain yang di Solo dulu. Urusan DKI ya nanti aja. Ngurus yang di Solo dulu aja, kata Gibran. [SAR]

Artikel Asli