Serius Perangi Perubahan Iklim Menteri LHK Ngarep Perjanjian Paris Rule Book Bisa Rampung

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 06:39
Serius Perangi Perubahan Iklim Menteri LHK Ngarep Perjanjian Paris Rule Book Bisa Rampung

Pemerintah Indonesia sangat serius dalam isu penanggulangan perubahan iklim. Untuk itu,pemerintah berkomitmen penurunan emisi 29 persen hingga 41 persen pada tahun 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengungkapkan, penurunan emisi terbesar ditargetkan dari sektor kehutanan dan land use serta sektor energi.

Hal itu disampaikan Siti dalam pertemuan membahas tentang penyelenggaraan Conference of the Parties (COP) 26 di Glasgow, Inggris secara daring, Jumat (10/9) malam.

Dalam pertemuan itu, mantan Sekjen Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini berharap, kepentingan Indonesia dapat diakomodasi dalam Paris Rule Book . Tujuannya, agar Indonesia lebih maksimal menghadapi perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia sangat berharap terselesaikannya Paris Rule Book melalui adopsi keputusan yang substansial, yaitu artikel 6 Perjanjian Paris, kata Siti di Jakarta, kemarin.

Ada pun sejumlah kepentingan nasional yang harus diakomodasi, seperti kerangka waktu umum untuk Nationally Determined Contributions (NDC), tranparansi atau masalah metodologi berdasarkan Perjanjian Paris, kerugian dan kerusakan, tujuan global untuk adaptasi, dan aspek pendanaan.

Siti mengatakan, Indonesia terus mendukung semangat menjaga kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat celcius. Kemudian, mendorong implementasi menuju net-zero emisi dengan memperhatikan prinsip-prinsip tanggung jawab umum yang berbeda sesuai kemampuan masing-masing negara.

Target NDC Indonesia yang cukup ambisius ini dibuktikan dengan kerja lapangan sebagai implementasi, terang Arifin.

Siti menargetkan, penurunan emisi hingga 41 persen pada 2030. Target itu akan dicapai dalam isu lingkungan.

Penurunan emisi harus dibaca dalam kerja keras implementasi, memperkuat upaya adaptasi sekuat mitigasi, dan perluasan objek baru, ujar dia.

Sasaran objek itu, yakni ekosistem marine laut terutama mangrove dan terumbu karang. Kemudian dukungan blue carbon serta dukungan kerja sama, finansial dan teknologi, termasuk dengan dunia usaha.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mendukung upaya penanggulangan perubahan iklim melalui pengurangan emisi dari sektor energi.

Pihaknya telah menyiapkan peta jalan atau road map pengurangan batubara secara rinci dari waktu ke waktu yang cukup detail.

Pihaknya akan menggenjot pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) pada pembangkit listrik, juga alat transportasi serta peralatan rumah tangga.

Target bauran energi sebesar 23 persen pada tahun 2025. Dan akan terus ditingkatkan hingga 2026-2030, tandasnya.

Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Patricia Espinosa menyatakan, langkah-langkah Indonesia sangat impressif dan patut diapresiasi.

Capaian-capaian yang telah Indonesia kerjakan dalam penanggulangan perubahan iklim patut menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia, kata Patricia.

Dia melihat, Pemerintah Indonesia sangat serius dalam isu penanggulangan perubahan iklim. Karena pencapaian yang dilakukan Indonesia tidaklah mudah, diperlukan kerja sama teknis yang baik lintas sektor.

Dan juga dukungan politik yang kuat pada setiap penerbitan kebijakan-kebijakan terkait penanggulangan perubahan iklim.

Untuk diketahui, jelang Konferensi Iklim COP 26 Glasgow, Menteri Siti menggelar pertemuan daring bersama Menteri ESDM Arifin Tasrif dengan Sekretaris Eksekutif UNFCCC Patricia Espinosa.

Langkah koordinasi ini juga diikuti 4 wakil Menteri, yaitu Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Wakil Menteri Keuangan Suahazil Nazara, Wakil Menteri BUMN Pahala Mansyuri dan Wakil Menteri LHK Alue Dohong

Hadir juga Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arief Havas Oegroseno, Duta Besar Indonesia untuk Inggris Desra Percaya, dan juga National Focal Point Indonesia untuk UNFCCC Laksmi Dhewanti, juga para Dirjen dan Kepala Badan serta direktur dari empat kementerian tersebut.

Pertemuan ini membahas tentang penyelenggaraan Conference of the Parties (COP) ke 26/ COP 26 di Glasgow, Inggris 31 Oktober 12 November 2021, kata Siti.

Dijelaskan lebih rinci, pembahasan yang dilakukan menyangkut penjelasan tentang skenario, isu utama dan krusial tentang perubahan iklim, serta harapan kepada negara anggota di dunia.

Sebaliknya, semua peserta diskusi juga mendengarkan kemajuan agenda dan aksi perubahan iklim di Indonesia dalam agenda lintas kementerian yang cukup solid di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, yang memberikan atensi besar mengenai agenda GREEN dalam membangun Indonesia.

Siti mengatakan, delegasi Indonesia mengapresiasi kerja keras tim Sekretariat UNFCCC yang sedang mempersiapkan gelaran COP 26 ini.

Indonesia sangat serius mempersiapkan diri menjelang keikutsertaanya pada COP 26, katanya. [NOV]

Artikel Asli