Suksesi Trah Pandawa

rm.id | Nasional | Published at 13/09/2021 06:15
Suksesi Trah Pandawa

Ada pepatah kuno mengatakan, orang yang diberitakan sakit padahal sehat justru akan diberi kesehatan prima dan umur panjang. Maka orang yang sedang sakit dimaknai mendapat ganjaran dari Sang Pencipta. Itulah yang terjadi dengan Ibu Megawati minggu lalu. Berita tentang kondisi kesehatan Ketua Umum PDIP sempat berseliweran di sosial media. Spekulasi atas kesehatan Ibu Megawati reda setelah muncul dalam pembukaan rapat virtual.

Isu kesehatan seorang pemimpin selalu dikaitkan dengan suksesi, Mo. Apalagi sebagai ketua umum partai berkuasa, celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar sebetulnya kurang semangat untuk nimbrung persoalan transformasi kepemimpinan nasional. Semar sedang prihatin dengan terbakarnya Lapas di Tangerang pekan silam. Salut kepada Polri dan jajarannya yang telah berhasil mengidentifikasi korban kebakaran. Sehingga spekulasi kebakaran lapas tidak ke mana-mana. Seperti biasa kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani pagi yang cerah di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok kelobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman suksesi kepempinan trah satria Pandawa.

Kocap kacarito, Prabu Puntodewa semasa hidupnya sudah berpesan. Anak cucu Pandawa yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat berhak atas tahta kerajaan Hastina. Hal ini penting jangan sampai setelah Pandawa mukswa atau wafat, anak cucu Pandawa saling berebut kekuasaan. Puntodewa tidak ingin setelah lengser Hastina mengalami era The end of leadership, tidak memiliki pemimpin yang amanah.

Anak Pandawa yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat adalah Abimanyu. Abimanyu merupakan anak Arjuna dari perkawinannya dengan Dewi Sumbadra. Abimanyu gugur dalam perang Baratayuda. Satu-satunya keturunan Abimanyu yaitu Parikesit. Bambang Parikesit merupakan anak Abimanyu dari perkawinannya dengan Dewi Utari dari kerajaan Wirata. Maka setelah perang Baratayuda selesai tahta kerajaan Hastina diberikan kepada Parikesit.

Sempat terjadi penolakan dengan diangkatnya Parikesit sebagai raja Hastina. Penolakan berasal dari faksi Panca Kusuma yang tidak lain cucu dari Puntadewa. Panca Kusuma merasa lebih berhak atas suksesi kerajaan Hastina. Kertiwindu anak Sengkuni ikut bermain menjadi pemicu penolakan Parikesit. Strategi adu domba antar cucu Pandawa sengaja diembuskan Kertiwindu untuk balas dendam tewasnya Kurawa.

Parikesit sempat bimbang menghadapi penolakan Panca Kusuma. Dalam keadaan tidak menentu, muncullah Semar sebagai pamong para satria Pandawa. Panca Kusuma dipanggil bersama Parikesit untuk menjelaskan duduk persoalannya. Panca Kusuma tidak berwenang atas kerajaan Hastina. Karena Panca Kusuma sudah mendapat tahta kerajaan Amarta dan Pancala peninggalan Prabu Drupada kakek buyutnya. Panca Kusuma bisa menerima dan legowo setelah mendapat penjelasan dari Semar.

Itulah kalau suksesi kepemimpinan dimaknai sebagai transaksional, celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. Betul, Tole. Kepemimpinan transaksional selalu ada pamrih yaitu aku dapat apa? Padahal kepemimpinan sejati tidak tergantung kepada kekuasaan. Yang mana rakyat dan anak buah patuh kepada pemimpin karena jabatan dan kekuasaan. Kesinambungan kepemimpinan nasional bisa terwujud jika pemimpin bisa melayani rakyat. Bukan sebaliknya yaitu pemimpin yang dilayani. Pemimpin masa depan adalah pemimpin institusi yang memiliki integritas, visioner, jujur, dan inspiratif, ucap Semar. Oye

Artikel Asli