Kisah Pembelotan Tentara AS, Melatih Taliban dan Jadi Mualaf

republika | Nasional | Published at 13/09/2021 05:41
Kisah Pembelotan Tentara AS, Melatih Taliban dan Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, -- Kisah tentang Taliban penuh warna-warni. Kali ini kisah seorang tentara Amerika Serikat (AS) yang ditangkap Taliban pada 2010 lalu dan kemudian menjadi "pelatih" militer pejuang Taliban.

Tentara AS ini melatih Taliban merakit bom dan keterampilan penyergapan. Informasi pembelotan memalukan ini menjadi berita besar pada Agustus 2010 termasuk yang ditulis media-media di Indonesia pada 22 Agustus 2010 mengutip the Sunday Times .

SersanBowe Bergdahl merupakan anggota militer AS yang bertugas di Afghanistan Timur dan dikabarkan hilang pada Juni 2009. Ia menjadi satu-satunya tentara AS yang ditawan di Afghanistan saat itu.

Seorang deputi komandan Taliban di distrik Paktika, sebuah wilayah di Afghanistan, Haji Nadeem, mengungkapkan Bergdahl (24) berganti nama menjadi Abdullah setelah memeluk Islam.

photo
Mullah Khairullah Khairkhwa (kiri), mantan Gubernur Herat barat dan satu dari lima Taliban yang dibebaskan dari penjara AS di Teluk Guantanamo sebagai imbalan atas tentara AS Bowe Bergdahl, dan sekarang anggota kantor politik Taliban di Qatar duduk bersama Mullah Abdul Salam Hanafi, saat mereka berbicara kepada wartawan di Kandahar, Afghanistan, 17 Agustus 2021 (dikeluarkan 18 Agustus 2021). - (EPA-EFE/STRINGER).

Bergdahl mengajari Nadeem cara membongkar telepon selular dan mengubahnya menjadi remote control untuk bom pinggir jalan. Nadeem mengatakan, tentara AS itu juga memberikan pelatihan dasar penyergapan.

''Hampir semua keterampilan yang diajarkannya sudah kami ketahui. Beberapa rekan saya mengira ia hanya berpura-pura menjadi Muslim untuk menyelamatkan dirinya,'' ujarnya.

Intelijen Afghanistan juga percaya Bergdahl alias Abdullah bekerja sama dengan Taliban dan bertindak sebagai penasihat bagi para pejuang di sebuah wilayah suku-suku di Pakistan. Nadeem memberikan sedikit bocoran bagaimana Bergdahl ditangkap dan ditawan.

Setelah meninggalkan posnya di Yahya Khel, sebuah distrik dari Paktika, Bergdahl bersama seorang tentara Afghanistan diketahui berada dekat sebuah desa. Sebuah kelompok yang terdiri dari delapan pejuang Taliban lalu menyergap mereka dan menewaskan tentara Afghanistan.

photo
Bowe Bergdahl (kanan)berdiri bersamaseorang pejuang Taliban. - (AP/Voice Of Jihad Website)

Bergdahl dirobohkan lalu diperintahkan mengenakan pakaian lokal Afghanistan. Para penculiknya lalu membuang semua pakaian dan perlengkapannya, karena curiga ia dipasangi alat penyadap. Pemerintah AS cemas sang serdadu telah dibunuh, tetapi Nadeem meyakinkan bahwa Bergdahl betah bersama mereka.

Pada April silam, sebuah video yang menggambarkan permohonan Bergdahl untuk dibebaskan telah dirilis oleh Taliban. Dalam rekaman itu Bergdahl mengatakan ia ingin kembali ke keluarganya di Idaho dan menyatakan perang di Afghanistan itu tidak pantas dibayar dengan banyak nyawa yang telah terbunuh atau yang tertawan di penjara.

Kembali ke Amerika dan Dicap Penghianat

Bowe Bergdahl belum bisa tenang setelah bebas dari tahanan Taliban. Pejabat militer Amerika Serikat mengatakan Bergdahl diselidiki terkait kepergiannya tanpa izin meninggalkan pos tugas. Tindakan sang prajurit membuat rekan sepeleton mempertaruhkan nyawa untuk mencarinya.

Bergdahl bebas setelah AS dan Taliban menyepakati penukaran tahanan. Pemerintahan Barack Obama sepakat untuk melepaskan petinggi Taliban yang berada di Penjara Guantanamo, Kuba.

Beberapa rekan Bergdahl di peleton ingin sersan yang terkenal pendiam itu bertanggung jawab atas tindakannya membahayakan rekan-rekannya. Ia dituduh bertanggung jawab atas kematian enam tentara yang mencarinya ketika itu.

Rekan-rekan Bergdahl marah karena pemerintah Barack Obama malah merayakan kepulangannya. ''Seharusnya, ia dibawa ke pengadilan militer,'' kata salah satu rekan korban.

Seorang pejabat Pentagon yang tak disebutkan namanya mengatakan pada kantor berita AP, Bergdahl menjauh dari unit militernya sebelum ditangkap Taliban pada 30 Juni 2009.

Seperti dikutip New York Times , sebelum ditangkap Taliban, tengah malam pada 30 Juni 2009, Bergdahl meninggalkan sebuah catatan di tendanya. Catatan tersebut bertuliskan kekecewaannya pada tentara angkatan darat.

Ia mengatakan, tak ingin lagi menjalankan misi Amerika di Afghanistan dan akan pergi memulai kehidupan baru. Kemudian, Bergdahl membawa tasnya yang berisi air, pisau, buku, dan peralatan menulis.

Namun, ia meninggalkan senjata dan pelindung tubuhnya. Hal ini mengejutkan rekan-rekannya, mengingat area di luar pos cukup berbahaya. Penyelidikan terhadap menghilangnya Bergdahl pun dilakukan.

Presiden Donald Trump termasuk sosok yang sangat marah atas "penghianatan" Bergdahl ini. Trump menyesalkan tindakan Berghdal yang membahayakan militer AS dan telah menghianati negaranya.

Trump juga menjadikan sosok kasus penghianatan Bergdahl sebagai bahan kampanye presidennya. Komentar-komentar Trump ini dinilai ikut mempengaruhi proses pengadilan Bergdahl.

Dari ruang sidang militer, pada Oktober 2017, Bergdahl menyatakan pengakuan bersalah di hadapan hakim militer di Fort Bragg, North Carolina.

Pada November 2017, ia dijatuhi hukuman pemecatan secara tidak hormat dan didenda 1.000 dolar AS per bulan dari gajinya selama sepuluh bulan, tanpa waktu penjara.

Pada Februari 2021, Bergdahl mengajukan petisi di pengadilan federal yang meminta hukuman militernya dihapus.

Pengacara Bergdahl mengajukan dokumen di Pengadilan Distrik AS di Washington. Mereka meminta peninjauan atas kasus tersebut dan menuduh sistem pengadilan militer gagal memahami dampak komentar mantan Presiden Donald Trump dan mendiang Senator John McCain.

Artikel Asli