Terkekang PPKM Level 4, Ini Alasan Kasus Kematian Banjarbaru Melebihi Provinsi dan Nasional

apahabar.com | Nasional | Published at 09/09/2021 13:11
Terkekang PPKM Level 4, Ini Alasan Kasus Kematian Banjarbaru Melebihi Provinsi dan Nasional

apahabar.com, BANJARBARU Case Fatality Rate (CFR) atau kasus kematian di Banjarbaru yang melebihi provinsi dan nasional menjadi penyebab Kota Idaman itu terkekang PPKM level 4.

Per Rabu (8/9) kemarin, CFR Banjarbaru nyaris 4 persen, sementara provinsi hanya 3,3 persen dan nasional 3,31 persen.

Adapun total kasus kematian di Banjarbaru menyentuh angka 346 pasien dari total jumlah pasien sampai saat ini sebanyak 8.669 pasien. Itu menurut data Covid-19, Rabu (8/9) sore.

Dikonfirmasi, Koordinator Tim Surveilens Epidemiologi Penanggulangan Wabah Corona Virus Disease Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Edi Sampana, tak membantah.

Menurut Edi, tingginya angka CFR itu dipicu aktifnya testing yang dilakukan oleh petugas terhadap pasien meninggal.

Memang jika melihat perkembangannya, angka CFR kita lebih tinggi dari provinsi dan nasional. Tetapi sebetulnya kita kelihatan tinggi mungkin karena RSD Idaman rajin sekali melakukan swab kepada jenazah, baik itu berstatus suspek atau probable Covid-19, rinci Edi, Kamis (9/9).

Aktifnya kegiatan swab bahkan kepada jenazah yang terdeteksi mengidap Covid-19 ini, kata Edi, mungkin tak begitu masif dilakukan oleh fasilitas kesehatan lainnya yang ditunjuk jadi rujukan penanganan Covid-19.

Mungkin dibanding RS di daerah lain yang jadi rujukan kita di Banjarbaru sangat rajin, karena pada awalnya RD rujukan di Kalsel kan cuman di Banjarbaru, RS Ulin, RS Ansyari Saleh, RS Kandangan dan RS Pleihari, nilainya.

Jika menilik dari perkembangan angka CFR jauh ke belakang hingga awal-awal pandemi. Kota Banjarbaru, seingat Edi, pernah mencapai angka CFR sampai 7,92 persen yang merupakan angka tertinggi.

Juli 2020 itu sampai 7,92 persen dan yang terendah ada di awal-awal pandemi di angka 1,67 persen. Untuk beberapa pekan ke belakang kita cenderung di angka 3 persen lebih. Artinya tingkat keganasan penyakit Covid-19 ini cukup tinggi, karena dari total 8669 pasien, 3,99 persen di antaranya wafat, terangnya.

Edi sendiri berharap tingginya persentase CFR bisa ditekan ke depannya dengan pelbagai upaya yang idealnya atau minimal tidak melebihi angka provinsi dan nasional.

Paling tidak mendekati lah dari angka provinsi atau nasional, karena kita tidak mungkin juga mengurangi intensitas swab. Ini sangat riskan dan berpotensi jadi lonjakan kasus karena tidak terdeteksi. Jadi hasil tinggi bukan berarti menunjukkan jelek, ini bahkan kita sangat aktif dalam mengetes, tuntasnya.

Artikel Asli