Amnesty: Pengungsi yang Kembali ke Suriah Disiksa

republika | Nasional | Published at 09/09/2021 13:05
Amnesty: Pengungsi yang Kembali ke Suriah Disiksa

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Pengungsi Suriah yang kembali ke negara mereka mengalami berbagai penyiksaan, kekerasan seksual, dan penculikan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad.

Kelompok hak asasi manusia global, Amnesty International, dalam sebuah laporan berjudul You're going to your death, mendokumentasikan bagaimana 66 orang yang kembali ke negaranya, termasuk 13 anak-anak, menghadapi pelanggaran HAM mengerikan oleh petugas intelijen rezim Assad. Amnesty International juga menyampaikan lima kasus di mana orang meninggal dalam tahanan dan mengatakan nasib 17 orang yang hilang lainnya masih belum diketahui.

Kelompok HAM itu memperingatkan bahwa pengungsi yang dipaksa kembali ke Suriah akan menghadapi nasib yang sama, untuk itu mereka menyerukan tindakan tegas dari masyarakat internasional.

Pertikaian militer mungkin telah mereda, tetapi kecenderungan pemerintah Suriah untuk melakukan pelanggaran HAM yang mengerikan masih berlanjut. Penyiksaan, penghilangan paksa, dan penahanan sewenang-wenang yang memaksa banyak warga Suriah mencari suaka di luar negeri melanda Suriah saat ini, kata Marie Forestier, peneliti hak-hak pengungsi dan migran di Amnesty International.

Setiap pemerintah yang mengklaim Suriah sekarang aman dengan sengaja bermaksud mengabaikan kenyataan mengerikan di lapangan, membuat para pengungsi sekali lagi takut akan nyawa mereka.

Kami mendesak pemerintah Eropa untuk memberikan status pengungsi kepada orang-orang dari Suriah, dan segera menghentikan praktik apa pun yang secara langsung atau tidak langsung memaksa orang untuk kembali ke Suriah, ujar LSM itu.

Amnesty International meminta pemerintah Lebanon dan Yordania untuk melindungi pengungsi Suriah dari tindakan deportasi atau pemulangan paksa lainnya, sejalan dengan kewajiban internasional mereka.

Laporan itu mengatakan otoritas Damaskus telah berulang kali menargetkan pengungsi yang kembali ke rumah, menuduh mereka melakukan pengkhianatan atau mendukung terorisme. Lembaga ini juga mendokumentasikan 24 kasus di mana pria,perempuan dan anak-anak menjadi sasaran sebagai akibat langsung dari persepsi ini, dan menjadi sasaran pelanggaran HAM termasuk pemerkosaan atau bentuk kekerasan seksual lainnya, penahanan ilegal, dan penyiksaan atau perlakuan buruk lainnya.

Orang-orang yang kembali ke rumahnya dianiaya karena hanya berasal dari wilayah yang berada di bawah kendali oposisi Suriah, tambah laporan itu.

Artikel Asli