Siapkan Uji Percontohan PTMT (Lagi)

radarjogja | Nasional | Published at 09/09/2021 11:44
Siapkan Uji Percontohan PTMT (Lagi)

RADAR JOGJA Pada November-Desember 2020 dan Mei-Juni 2021, sudah digelar uji percontohan pelaksanaan PTMT, tapi siswa urung kembali ke sekolah karena kasus positif Covid-19 naik. Kini seiring penurunan level PPKM di DIJ, uji percontohan kembali disiapkan.

Pemprov DIJ mentargetkan awal Oktober bisa menggelar uji percontohan kembali. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ, Didik Wardaya mengatakan, simulasi pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) secara terbatas segera dilakukan di sejumlah SMA, SMK negeri dan swasta di DIJ. Ada sekitar 24 sekolah yang sudah menyatakan kesiapannya.

Sebelumnya itu kan ada 10 sekolah (yang sudah melaksanakan uji percontohan PTMT), tambah beberapa sekolah yang menyatakan siap. Paling nggak akhir bulan ini sambil ikuti perkembangan atau awal Oktober (uji percontohan kembali), katanya kepada wartawan kemarin (8/9).

Didik menjelaskan, sebelum uji percontohan kembali itu dilaksanakan Disdikpora tetap melakukan pemetaan terhadap masing-masing sekolah terkait capaian vaksinasi untuk peserta didik. Data per 6 September lalu, capaian vaksinasi pelajar terutama SMA, SMK di DIJ di angka sekitar 52 persen. Banyak yang mengajukan. Tapi kan kita tetap memetakan juga sekolah mana yang sudah divaksinasi minimal dosis pertama, ujarnya.

Didik menyebut, total keseluruhan siswa di DIJ baik SMA, SMK, SLB ada sekitar 144 ribu peserta disik. Sementara jumlah SMA di DIJ sekitar 165 sekolah, SMK 220 sekolah baik negeri dan swasta.

Menurutnya, dari aspek kesiapan sekolah baik fasilitas, sarana prasarana penunjang protokol kesehatan (prokes) Covid-19 sejauh ini tidak mengalami kendala. Sebagian besar sekolah relatif menyatakan kesiapannya. Terlebih, masing-masing sekolah juga sudah terbentuk satuan gugus tugas yang bertugas memantau pelaksanaan prokes nantinya. Ini telah disiapkan jauh sejak sebelum lebaran Mei 2021 lalu. Artinya kami kordinasi dengan sekolah-sekolah mereka juga sudah cukup siap ya, jelasnya.

Terdapat ketentuan penyelenggaraan pendidikan dalam PPKM level 3 yang harus diikuti. Bisa dijalankan online maupun tatap muka terbatas maksimal kapasitas 50 persen per kelasnya. Jika rerata dalam satu kelas terdapat 36 siswa, maka dibatasi hanya 18 siswa setiap kelasnya.

Hanya, untuk SLB bukan menggunakan batasan prosentase, melainkan batasan dalam satu kelas maksimal lima orang. Disebut-sebut untuk SLB ini relatif sedikit siswanya. Sehingga, dimungkinkan dalam satu kelas hanta ada dua siswa. Sebenarnya bisa dijalankan juga toh mereka sudah divaksinasi. Itu yang perlu kita tata. Nanti akan mempelajari InGubnya, kemudian akan kami tindak lanjuti, tambahnya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, kesiapan sekolah dari aspek penunjang prokes juga tidak ada masalah. Rencananya, pekan depan sebagian sekolah terutama SD dan SMP sudah siap dilakukan simulasi atau uji percontohan kembali untuk sekolah tatap muka. Minggu depan 13 (September) kayaknya sebagian dari mereka sudah kita minta untuk simulasi PTM. Ini untuk seluruhnya, SD dan SMP. Cuma ini masih simulasi, katanya.

Selain itu, sekitar 62 persen orang tua siswa juga sudah menyatakan kesanggupan untuk siap sekolah tatap muka. Data survei itu tepatnya diambil saat kondisi Covid-19 memuncak Juli lalu. Teman-teman Disdikpora (kota) sudah melakukan survei dan menanyakan kepada orang tua apakah dan siapa yang setuju untuk dilaksanakan PTMT. Itu 62 persen menyatakan mereka pengen segera PTMT itu dilakukan, imbuhnya.

Sekretaris Disdikpora Kota Jogja, Dedi Budiono menambahkan, sejauh ini sudah mengintruksikan ke sekolah agar segera menghubungi orang tua, atau wali murid, untuk meminta persetujuan kembali, seandainya KBM luring digelar dalam waktu dekat ini. Pihak sekolah diminta harus mampu memberikan keyakinan, terkait segala persiapan yang sudah ditempuh.

Sehingga, orang tua tak keberatan anaknya kembali belajar di sekolah. Kalau kapannya kan kita belum bisa memastikan. Tetapi, kepala sekolah sudah diinstruksikan supaya menghubungi semua orang tua siswa, katanya.
Sementara itu, Plt Kepala Disdikpora Gunungkidul Ali Ridlo menyatakan, secara resmi PTMT masih menunggu aturan turunan dari Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri). Aturan turunan yang dimaksud, berasal dari instruksi gubernur hingga instruksi bupati.

Persetujuan wali murid, kata dia, menjadi syarat penting pelaksanaan PTMT. Jika orang tua murid memilih opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring tetap akan difasilitasi. Pihaknya tidak bisa memaksakan jika wali murid belum mengizinkan anak datang ke sekolah. Bagaimana dengan vaskinasi Covid-19 untuk pelajar? Sekretaris Disdikpora Gunungkidul Sudya Marsita mengatakan, saat ini pemkab terus menggenjot capaian vaksinasi remaja atau usia 12 tahun ke atas, termasuk pelajar.

Sedang Kepala Disdik Sleman Ery Widaryana mengatakan, vaksinasi untuk siswa SMP Selasa (7/9) telah mencapai 72,48 persen dari total siswa SMP, 39.495 siswa. Dengan target,12 September selesai. Selanjutnya, tinggal menyasar anak-anak yang belum divaksin.Capaian vaksinasi pelajar ini telah melebihi angka herd immunity 70 persen. Kami sudah mengundang semua kepala sekolah, ketua kelompok kerja Kepaka sekolah kejuruan (K3SK) kapanewon untuk SD. Dimulai dari pengawas untuk koordinasi mempersiapkan semuanya, terang Ery.

Hal ini kata Ery, jika sudah mengantongi izin dari bupati, maka pelaksanannya sesuai kesepakatan sebelumnya. Tatap muka bersifat terbatas. Diselingi dengan daring. Dan diutamakan bagi siswa yang telah tervaksin. Tak hanya pelajar SMP. Pelajar SD yang sudah memenuhi umur juga dilakukan pendataan dan harus divaksin. Sejauh ini ada 1.100-an siswa SD yang sudah memenuhi syarat vaksinasi. Kesiapan PTMT juga didukung capaian vaksinasi bagi guru dan tenaga pendidik. Yakni mencapai 92-94 persen.

Terpisah Wartini, 42, warga domisili Mlati ini mengaku siap menyambut PTM meski nantinya sifatnya terbatas. Menurutnya, dengan diberlakukannya PTMT dapat mengurangi beban siswa dan beban orang tua. Karena kalau ngajari orang tua yang kesulitan ditambah ilmunya pas-pasan. Anak bingung orang tua ikut bingung, ujar ibu dari dua siswa SMP itu.

Seorang wali murid di wilayah Kapanewon Patuk Andiana mengatakan, mulai minggu depan anaknya masuk sekolah. Pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas karena durasinya hanya sekitar dua jam. (gun/mel/wia/bah)

Artikel Asli