Tak Kunjung Buka, Merasa Sia-Sia Kantongi CHSE

radarjogja | Nasional | Published at 09/09/2021 09:42
Tak Kunjung Buka, Merasa Sia-Sia Kantongi CHSE

RADAR JOGJA Pemerintah pusat hanya menetapkan 20 objek wisata (obwis) di wilayah PPKM Level 3 yang dapat beroperasi. Hal ini ternyata justru memupuk rasa putus asa pelaku pariwisata. Padahal mereka sudah mengurus sertifikat cleanliness, health, safety, dan environment sustainability (CHSE) dari Kemenparekraf sejak tahun lalu.

Salah satu kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang mulai pesimis, pariwisata di Bumi Projotamansari dapat bangkit adalah Pokdarwis Pantai Goa Cemara. Kecewa itu kemarin-kemarin. Sekarang sudah kebal, sudah putus asa, ujar salah seorang anggota Pokdarwis Pantai Goa Cemara, Fajar Subekti kemarin (8/9).

Diketahui, level pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Bantul turun ke level tiga. Berikut adanya satu obwis di Bantul yang diperbolehkan beroperasi oleh pemerintah pusat. Namun, hal itu bukan dianggap sebagai harapan. Melainkan, hanya dianggap sebagai istilah baru yang menggantikan istilah lama. Meskipun PPKM sudah turun level, itu kayak, apa iya besok terus buka. Teman-teman yang dagang, parkir, dan event percaya nggak percaya. Ah, paling besok diperpanjang lagi, atau besok cuma beda nama, bebernya penuh tanya.

Keputusasaan ini terbangun setelah dua tahun, pelaku wisata di Pantai Goa Cemara kesulitan mengisi perut. Sekitar 60 persen pedagang pun gulung tikar. Sementara hampir semua pengelola event di Pantai Goa Cemara berhenti berkegiatan. Sudah beberapa kali (ganti istilah, Red) dan dua tahun cukup untuk membuat seseorang bangkrut. Membuat kami pelaku wisata untuk percaya, bahwa kegiatan wisata bisa menghasilkan, sudah kendor, paparnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul, Annihayah ditemui di kantornya meminta pelaku pariwisata di Bumi Projotamansari bersabar. Sebab baru Watu Lumbung Resort yang menjadi obwis uji coba pembukaan pariwisata. Yang dipilih adalah kewenangan dari Kemenparekraf. Semoga teman-teman pelaku wisata bersabar. Setelah ini akan ada tim dari reviewers antar kementerian. Mudah-mudahan mendapat kabat baik, harapnya.

Di Kota Jogja, Taman Pintar yang termasuk dalam 20 obwis yang boleh buka. Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Retno Yuliani mengatakan, pada dasarnya secara umum kesiapan sarana prasarana dan SDM tidak terjadi kendala. Implementasi penerapan prokes CHSE juga sudah disiapkan dengan matang. Sementara ini masih menunggu QR Code aplikasi pedulilindungi yang sedang dalam proses penyusunan, katanya.

Selain itu, hasil rapat dengan Kemenparekeraf kemarin ada beberapa hal yang perlu di-review ulang. Sehingga masih menunggu informasi berikutnya. Meski begitu, ada perbedaan diera new normal kali ini. Teranyar, ada pengecualian pengunjung yakni anak berusia di bawah 12 tahun masih dilarang berkunjung ke taman pintar. Karena, wajib vaksin minimal diberikan kepada anak di atas usia 12 tahun. Sesuai juknis iya (dilarang), jadi semoga ketika QR code sudah ada nanti bisa langsung diuji cobakan tapi kami masih menunggu info berikutnya dari Kemenparekeraf, tambahnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menyebut, sebagian besar pengunjung Tampin adalah siswa SMP ke atas. Umur 14-16 tahun. Untuk pengunjung keluarga sekitar 35 persen. Sedang pengunjung rombongan 65 persen. Pengunjung di bawah 12 tahun ada tapi sekitar 10 persen. Tetapi nanti kita menyesuaikan dengn ketentuan dalam PPKM Level 3, ungkapnya.

Sedang di Sleman, Bupati Kustini Sri Purnomo mengatakan, uji coba pembukaan obwis Candi Ratu Boko akan digelar 13 September mendatang. Menurutnya, uji coba pembukaan tempat wisata ini sejalan dengan rencana Pemkab Sleman telah menyiapkan skenario pembukaan obyek wisata.
Tak jauh beda pada pemberlakuan pembukaan mal, kata dia, penggunaan aplikasi peduli lindungi untuk pegawai dan pengunjung akan ditindaklanjuti oleh Dispar Sleman.

Kustini mengimbau kepada pengelola obwis lain untuk bersabar. Meski saat ini hanya satu obwis yang mengantongi izin, pihaknya tetap berupaya mengusulkan obwis lain yang sudah memenuhi syarat atau 20 obwis lainnya.Apabila uji coba ini berhasil dan level PPKM semakin turun, maka semakin banyak obwis yang diijinkan buka, katanya. Kendati begitu, kata Kustini, pelaksanaannya harus dibarengi dengan prokes. Untuk meminimalisir persebaran Covid-19. (fat/mel/wia)

Artikel Asli