Presiden Jokowi Minta Jangan Lepas Masker, Meski Kasus Corona Sudah Turun

radartegal | Nasional | Published at 09/09/2021 09:00
Presiden Jokowi Minta Jangan Lepas Masker, Meski Kasus Corona Sudah Turun

Seluruh asosiasi di bidang ekonomi dan bisnis diminta tidak terlalu euforia menyikapi trend penurunan kasus COVID-19 di Tanah Air. Pertumbuhan ekonomi suatu negara saat ini bergantung pada penanganan COVID-19.

Meski penanganan COVID-19 di Indonesia sudah mengalami perbaikan, pelaku ekonomi tidak boleh lengah. "Posisi kita sudah cukup baik. Tetapi juga jangan senang-senang dulu. Bekerja ya. Tetapi jangan terlalu euforia. Kemudian melepas masker. Jangan. Masker wajib terus dipakai," tegas Presiden Joko Widodo saat menerima perwakilan para ketua asosiasi di bidang ekonomi dan bisnis di Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/9).

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden Jokowi meminta pelaku ekonomi dan bisnis membantu pemerintah mengingatkan masyarakat bahwa pandemi COVID-19 belum berakhir.

"Tolong bantu pemerintah mensosialisasikan kepada masyarakat. Pandemi COVID ini belum berakhir. Karena itu, semua pihak harus terus waspada," ujar Airlangga.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi wajib dijaga. Sebab hal ini berbanding terbalik dengan penanganan COVID. Apabila kasus COVID-nya tinggi, ekonominya rendah. Sebaliknya, apabila COVID-nya rendah, ekonominya akan menggeliat.

Dalam pertemuan tersebut, para pengusaha menyampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi. Mulai dari relaksasi restrukturisasi kredit perbankan, kenaikan biaya logistik, hingga bantuan fiskal untuk para pengusaha yang bergerak di sektor ritel.

Pemerintah, lanjut Airlangga, akan mengkaji regulasi terkait. Sehingga menjadi lebih fleksibel. Tujuannya agar para pengusaha terus semangat meningkatkan kegiatan usahanya. Denga begitu, pertumbuhan ekonomi nasional meningkat.

Angka rata-rata kematian akibat COVID-19 di Indonesia sudah berada di bawah angka 1.000. Ini terjadi dalam kurun waktu 29 Agustus hingga 5 September 2021.

"Rata-rata kematian harian pada pekan sebesar 563 kasus. Sebagai catatan, selama lonjakan kasus hingga akhir Agustus. Lalu, kasus kematian konsisten berada di kisaran 1.000 kematian per hari," kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito di Jakarta, Selasa (7/9).

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan. Target pemerintah, lanjutnya, menihilkan kematian menjadi tidak ada sama sekali.

"Perkembangan COVID-19 yang kian membaik di Indonesia terjadi saat beberapa negara tetangga mengalami perkembangan yang kurang baik," imbuhnya.

Indonesia saat ini menempati peringkat 20 angka kasus COVID-19, artinya ada penurunan ranking. Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Jepang, Filipina dan Thailand yang masih berada di urutan 11 sampai 18. (rh/zul)

Artikel Asli