LP Tangerang Over Kapasitas: Sel Buat, 600 Orang, Dihuni 2.072 Tahanan, 49 Tahun Instalasi Listrik Nggak Pernah Dibenerin, Kunci Sel Telat Dibuka 41..

rm.id | Nasional | Published at 09/09/2021 08:05
LP Tangerang Over Kapasitas: Sel Buat, 600 Orang, Dihuni 2.072 Tahanan, 49 Tahun Instalasi Listrik Nggak Pernah Dibenerin, Kunci Sel Telat Dibuka 41..

Kebakaran maut di Lapas Kelas I Tangerang menjadi ujian berat bagi Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly. Akibat insiden itu, 41 narapidana tewas terbakar di dalam sel, 8 orang mengalami luka bakar berat, dan 72 lainnya luka ringan.

Kebakaran itu terjadi di Blok C, Rabu dini hari kemarin, sekitar pukul 1.50 WIB. Dinas Kebakaran langsung menerjunkan seluruh unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Namun, karena besarnya kobaran, regu petugas pemadam kebakaran kesulitan menjinakkan api. Setelah 2 jam berselang, si jago merah berhasil dipadamkan.

Pagi-pagi, korban mulai dievakuasi. Para pejabat juga mulai berdatangan ke lokasi. Di antaranya, Wamenkumham Eddy Hiariej, Dirjen Pemasyarakatan Reynhard Silitonga, Kepala Kanwil Kemenkumham Banten Agus Toyib, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, dan Wali Kota Tangerang Arief Firmansyah. Mereka melakukan koordinasi untuk evakuasi dan pengamanan.

Bersamaan dengan itu, pengamanan di sekitar Lapas semakin meningkat. Petugas Polisi yang berseragam lengkap maupun yang berpakaian preman, berjaga di sekitar lokasi. Ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya napi yang kabur dengan memanfaatkan situasi. Petugas juga memberlakukan buka tutup lalu lintas.

Sekitar pukul 10.30, Yasonna tiba di lokasi. Turun dari mobil, dia langsung menuju lokasi kebakaran. Langkahnya panjang-panjang. Ajudan dan stafnya terburu-buru mengikuti dari belakang. Tak ada komentar dari Yasonna saat itu. Menteri asal PDIP itu hanya melambaikan tangan ke arah wartawan dan memberi isyarat. "Saya cek dulu ke dalam," katanya, sambil bergegas masuk Lapas.

Sekitar 1 jam kemudian, Yasonna muncul lagi untuk memberikan keterangan pers. Humas Kemenkumham pun memberikan foto-foto saat Yasonna meninjau lokasi sisa kebakaran di dalam Lapas. Dari foto-foto tersebut, tak banyak yang tersisa dari bangunan yang terbakar. Bangunan hanya menyisakan tembok dan jeruji besi yang berwarna hitam karena terbakar. Bagian atap sudah tak nampak lagi. Sementara, lantai penuh dengan puing yang belum dibereskan.

Yasonna lalu memberikan keterangan lengkap. Mulai dari kronologis kejadian, dugaan penyebab kebakaran, dan langkah yang dilakukan. "Saya menyampaikan turut belasungkawa dan berduka cita yang sedalam-dalamnya terhadap seluruh keluarga dari 41 orang korban musibah kebakaran yang meninggal," katanya, mengawali pemaparan.

Kata dia, Lapas yang terbakar berada di Blok C 2, yang berbentuk paviliun yang kamar-kamarnya terkunci. Penguncian kamar tersebut merupakan prosedur tetap alias protap di Lapas.

Saat awal kebakaran, petugas mencoba membuka kunci-kunci kamar. Namun, karena api begitu cepat membesar, ada beberapa kamar yang belum sempat dibuka karena api semakin besar. Petugas tidak sanggup lagi membuka karena membahayakan keselamatannya, ucapnya.

Yasonna lalu menerangkan, Lapas Tangerang sudah melebihi kapasitas atau over capacity . Lapas tersebut dihuni sebanyak 2.072 orang atau kelebihan kapasitas 400 persen. Termasuk di Blok C2, sebanyak yang berpenghuni 122 napi. Napi-napi tersebut berada di 19 kamar hunian berkapasitas 38 orang. Kebanyakan adalah napi kasus narkoba.

Soal penyebab kebakaran, kata Yasonna, dugaan sementara karena korsleting instalasi listrik. Namun, untuk pastinya, menunggu hasil penyelidikan Polisi.

Yasonna juga menyinggung soal bangunan tua. Lapas Tangerang dibangun pada 1972. Berarti sudah berusia 49 tahun. Sejak awal pembangunan, belum ada perbaikan instalasi listrik. Sementara, penambahan daya terus dilakukan.

"Kita nggak mau berspekulasi, tapi sementara yang kita lihat masih sangat kasat mata, yaitu dugaannya adalah karena arus pendek," ujarnya.

Setelah insiden nahas ini, Yasonna membentuk lima tim untuk membantu penanganan. Tim yang dikomandoi Dirjen Pemasyarakatan itu ditugaskan membantu identifikasi korban, pemulasaraan jenazah, pemulihan keluarga narapidana, tim koordinasi dengan pihak terkait, dan humas untuk menyampaikan informasi perkembangan penanganan kasus.

Untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran, Polisi mulai memeriksa saksi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Adi Hidayat mengatakan, pihaknya mulai mengumpulkan bukti dan memeriksa 20 saksi. Saksi-saksi itu terdiri petugas lapas yang piket saat kebakaran, petugas lapas yang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP), dan napi selamat yang menempati Blok C2.

"Karena diduga terjadi tindak pidana, maka kami mengumpulkan alat bukti," ungkap Tubagus, kemarin.

Sementara itu, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menyoroti kondisi Lapas Tangerang yang terbakar dalam keadaan kelebihan kapasitas. Dalam catatan ICJR, lapas tersebut hanya mampu menampung 600 orang napi, tetapi per Agustus 2021 jumlahnya mencapai 2.087 orang, ucapnya.

Kejadian ini menjadi sorotan DPR. Anggota Komisi III DPR Syarifuddin Sudding meminta Yasonna bertanggung jawab penuh. Kata dia, Yasonna tidak boleh menyalahkan Dirjen dan Kepala Lapas. Kan kebijakannya di Menkumham," kata Sudding, kemarin.

Sudding mengkritik banyak masalah kompleks terkait kondisi Lapas saat ini. Mulai dari isu kelebihan kapasitas, peredaran narkoba, hingga tak manusiawinya perlakuan terhadap napi.

Ia menilai, kebakaran di Lapas Tangerang menjadi salah satu akumulasi persoalan yang kerap menimpa lapas saat ini. Padahal, Komisi III DPR sering menyuarakan pembenahan Lapas. "Saya kira Presiden perlu evaluasi terhadap menterinya. Saya kira terlalu lama nyaman di situ," tegas Sudding. [BCG]

Artikel Asli