Komunitas Film Anak Kampung, Aktif Membantu Anak-Anak Melalui Film

jawapos | Nasional | Published at 09/09/2021 08:00
Komunitas Film Anak Kampung, Aktif Membantu Anak-Anak Melalui Film

Pandemi Covid-19 memunculkan banyak permasalahan pada anak-anak. Komunitas Film Anak Kampung (KFAK) merasa prihatin dan berupaya membantu mereka. Menjadi pemain film punya tantangan tersendiri.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

SEBUAH film pendek berjudul 1.000 Keping ditonton 1.200 kali selama dua pekan. Jumlah penontonnya berpotensi bertambah. Sebab, hingga saat ini arek-arek Suroboyo masih berusaha menyebarluaskan film berdurasi 25 menit tersebut.

Film 1.000 Keping merupakan karya teranyar KFAK. Film pendek yang telah diunggah di YouTube itu bercerita tentang kehidupan sekelompok pemusik jalanan. Mereka adalah anak-anak pemain musik angklung yang tidak memiliki tempat untuk menyalurkan hobi.

Mereka terpaksa bermain di pinggir jalan untuk menarik simpati. Persoalan muncul saat aksi anak-anak itu diketahui petugas satpol PP. Pergelaran musik pun dibubarkan. Anak-anak dibawa ke kantor kecamatan untuk diinterogasi. Mereka lantas dilarang untuk bermain di pinggir jalan.

Dalam cerita, kami menghadirkan pejabat yang memberikan solusi. Tokoh diperankan Camat Asemrowo Bambang Udikoro, ungkap Ketua KFAK Samsul Muarif Setiawan saat diwawancarai Jawa Pos.

Menurut dia, film 1.000 Keping dibuat bersama pemerintah Kecamatan Asemrowo. Makanya, kami melibatkan hampir seluruh staf di kelurahan tersebut, tambah Samsul.

Menurut dia, film pendek itu diproduksi dalam waktu singkat. Persiapan syutingnya juga minim. Tidak ada proses make-up untuk artis. Mereka tampil dengan wajah polosan.

Meski tanpa banyak persiapan, Samsul menegaskan bahwa proses pembuatannya tidaklah ngawur. Tetap ada skenario yang harus dilakukan artis. Mereka juga diwajibkan memahami alur. Sebab, kata Samsul, tujuan pembuatan film tidak hanya untuk hiburan. Ada pesan-pesan untuk anak dan Pemerintah Kota Surabaya. Film kami putar dari kampung ke kampung. Kebetulan, anggota komunitas berasal dari banyak kelurahan, ungkapnya.

Samsul menuturkan, ada banyak film yang akan diproduksi KFAK. Film-film itu memiliki ciri khas. Yakni, berbahasa Suroboyo dan bertema masalah sosial.

Tema yang diangkat beragam. Selain mengisahkan anak yatim piatu gara-gara Covid-19, KFAK menggarap pelajar yang putus sekolah. Film mengungkap alasan anak tersebut berhenti belajar.

Untuk mendapatkan kisah yang utuh, mereka diprofil dulu. Anak-anak diwawancarai terkait kisahnya. Mereka juga ditanya mengenai keperluannya untuk belajar.

Menurut dia, bukan hanya Bambang yang terlibat dalam syuting. Sejumlah lurah dan camat lainnya juga ikut membuat film. Mereka bermain di cerita berbeda.

Karena melibatkan pejabat, Samsul mengakui bahwa proses pengambilan gambar tak mudah. Jadwal harus menyesuaikan kelonggaran pegawai pemerintahan. Alhamdulillah, responsnya baik. Ada camat yang minta dibuatkan film lagi, ungkap Samsul.

Menurut alumnus Unesa tersebut, selama ini proses pembuatan film sebenarnya tidak hanya melibatkan pejabat. KFAK juga mengajak pekerja informal untuk belajar bersama di bidang seni. Misalnya, buruh, tukang becak, dan nelayan.

Yang lebih penting, KFAK juga mengajak anak-anak yang bermasalah untuk bermain film. Ada tontonan yang dibuat bersama anak penghobi tawuran. Tentunya bukan hal mudah mengajak mereka bermain film.

Solusinya, mereka juga berperan sebagai anak nakal di film. Tugasnya, perang-perangan, ujar Samsul, lantas tersenyum.

Artikel Asli