Lapas, Bukan Sekadar Make up

rm.id | Nasional | Published at 09/09/2021 06:31
Lapas, Bukan Sekadar Make up

Empat puluh satu napi tewas terbakar di Lapas Tangerang, kemarin. Kenapa ini terus terjadi?

Overkapasitas. Itu salah satu alasan utama. Alasan ini pula yang terus mengemuka ketika berbicara mengenai Lapas.

Alasan lainnya, bangunan yang sudah tua. Atau, jumlah aparat yang minim. Atau, paradigma peradilan yang lebih mengedepankan hukuman fisik di balik dinding penjara. Ada juga masalah fasilitas. Seperti listrik.

Lapas Tangerang misalnya. Sejak dibangun tahun 1972, seperti diungkap Menkumham Yasonna Laoly, instalasi listriknya tak pernah diperbarui. Hanya tambah daya, ujar Yasonna yang juga mengingatkan supaya menunggu hasil resmi penyelidikan polisi.

Tampak sepele. Hanya masalah listrik. Tapi bisa sangat fatal. Sangat serius. Masalah pemasyarakatan, jauh lebih kompleks lagi. Sayangnya, sampai sekarang belum juga tuntas.

Kita tengok ke belakang. Sebelum Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas, ada istilah bui atau penjara. Penjara berasal dari kata penjera. Tempat untuk membuat narapidana jera atau kapok.

Menjelang akhir Orde Lama, 1963, muncul istilah pemasyarakatan. Ide ini dicetuskan Menkumham Sahardjo. Orde Baru kemudian mengubah istilah bui atau penjara menjadi Lembaga Pemasyarakatan, Lapas.

Banyak pemicunya. Salah satunya: grup band DLloyd. Pada 1974, band asuhan BUMN pelayaran Djakarta Lloyd ini meluncurkan album. Salah satu lagunya, Hidup di Bui. Lagu itu cukup popular.

Liriknya, antara lain, apalagi penjara Tangerang, masuk gemuk pulang tinggal tulang. Karena kerja secara paksa. Tua muda turun ke sawah.

Orde Baru tak suka lirik itu. Dinilai mengkritik dan menjelek-jelekkan pemerintah. Pemerintah bisa dianggap tak becus mengurus penjara dan penghuninya. Lirik tersebut harus dihapus. Lagu itu kemudian dilarang. Resmi. Oleh Direktorat Jenderal Radio, Televisi dan Film, Departemen Penerangan.

Namun, seniman tak pernah kehabisan kreativitas. DLloyd kemudian mengubah penjara Tangerang menjadi penjara zaman perang. Masih ada rangnya. Mirip-miriplah.

Istilah diganti, lagu dilarang, substansi masih begitu-begitu saja. Kemarin, Lapas Tangerang terbakar: 41 orang meninggal. Di antaranya warga Afrika Selatan dan Portugal. Kapan persoalan Lapas dan peradilan akan beres?

Sejauh ini, RUU Pemasyarakatan masih dibahas di DPR. Belum jadi UU. DPR sekarang tampaknya menjadi yang paling tidak produktif. Bukan hanya RUU Pemasyarakatan, RUU lainnya juga masih lambat.

Apakah Lapas harus ganti istilah lagi? Sekarang, bukan lagi sekadar make up supaya terlihat cantik. Tapi memperbaiki substansi atau isinya. Secara mendasar dan menyeluruh. Konkret dan jelas. Segera.

Bukan sekadar make up , menabur pupur dan gincu.

Artikel Asli