Islam dan Demokrasi di Mata Profesor Jepang

republika | Nasional | Published at 09/09/2021 02:24
Islam dan Demokrasi di Mata Profesor Jepang

REPUBLIKA.CO.ID,TOKYO -- Profesor Universitas Chiba di Jepang, Keiko Sakai menulis sebuah artikel yang mengulas soal Islam dan demokrasi. Pakar sejarah politik Irak dan politik Timur Tengah Modern ini menyampaikan Islam tidak selalu bertentangan dengan demokrasi.

"Timur Tengah telah lama dianggap sebagai wilayah berbahaya. Namun, baru sejak awal abad ke-21 serangan teroris melonjak secara global, terutama dari sekitar 2004, dan banyak terjadi di Timur Tengah dan Asia Selatan. Sebelum itu, Timur Tengah tidak memiliki banyak konflik atau serangan teroris," kata dia dikutip dari laman Nikkei , Rabu (8/9).

Menurut Keiko, serangan teror 11 September 2001 di AS benar-benar berbeda dari masalah Timur Tengah yang diketahui sebelumnya, terutama antara Israel dan Palestina. Bagi kelompok bersenjata yang berasal dari Timur Tengah, AS adalah musuh semata-mata karena merupakan pendukung utama Israel. Mereka menyerang fasilitas AS di negara mereka tetapi tidak memiliki gagasan untuk menyerang daratan AS.

Gagasan menyerang langsung daratan AS berakar pada Perang Teluk. Orang-orang yang menentang kehadiran pasukan AS di Arab Saudi mengadakan protes di negara mereka dan menghadapi hukuman berat, termasuk pengusiran. Kejadian seperti itu menimbulkan pemikiran di benak mereka bahwa mereka terasing karena Amerika, negara adidaya, mendominasi dunia.

Osama bin Laden, yang memprakarsai serangan 9/11, dan kelompok al-Qaida-nya percaya bahwa komunitas Islam adalah korban penganiayaan oleh Eropa dan AS dan memutuskan mereka harus menyelamatkan para korban. Dengan demikian jaringan militan dalam skala global terbentuk di luar negara asal mereka. Kelompok Negara Islam (ISIS), sebuah kelompok radikal yang bercita-cita menjadi rumah bagi umat Islam yang terasing untuk bersandar, dapat dianggap sebagai perpanjangan dari jaringan ini.

Artikel Asli