Lapas yang Lebih Manusiawi

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 09/09/2021 01:12
Lapas yang Lebih Manusiawi

S udah menjadi rahasia umum bahwa manajemen lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia sangat buruk. Narapidana dengan bebasnya bisa memiliki telepon genggam ( hand phone , HP). Dengan HP tersebut, ia bisa melakukan penipuan terhadap orang-orang di luar penjara. Dari dalam Lapas, para penghuni juga bisa bertransaksi narkoba. Bahkan ada yang menjadi pengedar atau bandar kakap.

Lapas kita juga sangat kelebihan penghuni. Kelebihan kapasitasnya tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua kali lipat. Di Lapas Kelas I Tangerang yang terbakar Rabu (8/9) dini hari yang menewaskan 41 narapidana misalnya, kapasitasnya cuma 600 orang tetapi dihuni 2.072 narapidana. Dengan kata lain, penghuni lapas tersebut 345 persen dari kapasitas yang seharusnya. Lapas-lapas lain kondisinya juga tidak jauh berbeda.

Over capacity itu lah yang membuat terjadinya praktik jual beli kamar di lapas. Narapidana yang banyak duit, bisa membeli ruangan khusus yang dihuni beberapa orang saja, bahkan bisa untuk dia seorang. Dilengkapi dengan ruang pendingin, kulkas, kasur empuk layaknya hotel berbintang.

Para tahanan dan narapidana juga manusia yang berhak atas kondisi penjara yang layak, berhak diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat. Lembaga pemasyarakatan ataupun ruang tahanan harus menyediakan ruang, penerangan, udara, dan ventilasi yang memadai.

Karena itu, lapas di tanah air secara umum membutuhkan perbaikan menyeluruh. Kebakaran di Lapas Tangerang semakin menunjukkan urgensi untuk memperbaiki penjara di Indonesia. Lapas Kelas I Tangerang tidak memiliki fasilitas untuk mengantisipasi bencana alam maupun nonalam.Harusnya ada prosedur tetap bagi narapidana jika penjara mereka terbakar.

Banyaknya korban meninggal karena terkunci dalam ruang tahanan saat kebakaran. Hal ini menunjukkan tidak ada protap jelas bagaimana evakuasi warga binaan seharusnya dilakukan. Situasi ini semakin menambah deretan panjang bukti jika lapas di Tanah Air memang kurang manusiawi.

Salah satu langkah yang dapat segera diambil pemerintah untuk menangani masalah tersebut adalah dengan mengubah orientasi politik kebijakan dalam menangani kejahatan ringan, termasuk yang terkait penggunaan narkotika.Tidak semuanya harus dipenjara.

Negara Belanda sudah melakukannya, mengutamakan rehabilitasi bagi pengguna narkoba. Dan juga melakukan sistem pamantauan pergelangan kaki elektronik yang memungkinkan seseorang kembali masuk ke dunia kerja.

Sebuah studi di 2008 menemukan fakta bahwa sistem pemantauan pergelangan kaki berhasil mengurangi tingkat kejahatan hingga setengah dibandingan dengan penahanan tradisional di penjara. Daripada membuang-buang waktu di sel penjara yang membutuhkan biaya untuk mengurusnya, penjahat yang dihukum diberi kesempatan berkontribusi kepada masyarakat.

Semua langkah ini membuat tingkat penahanan yang luar biasa rendah. Rata-rata tingkat penahanan sebanyak 69 per 100.000 orang. Akibatnya banyak penjara ditutup karena kekurangan penghuni. Hingga 2016 lalu sudah 24 penjara di Belanda ditutup.

Artikel Asli