Kebiasaan Buruk yang Picu Risiko Stroke Hingga 90 Persen

republika | Nasional | Published at 09/09/2021 01:00
Kebiasaan Buruk yang Picu Risiko Stroke Hingga 90 Persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola hidup memainkan peran besar dalam mempengaruhi risiko stroke dan penyakit jantung. Bahkan mayoritas dari penyakit arteri, jantung, dan strok dilandasi oleh pilihan pola hidup yang tidak baik.

Menurut studi, sekitar 90 persen dari risiko serangan jantung, strok, atau penyakit arteri perifer berkaitan dengan gaya hidup yang buruk. Sebagian di antaranya adalah merokok, pola makan yang kurang baik, minim aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol.

Selain itu, studi yang dimuat dalam European Society of Cardiology ini merekomendasikan olahraga sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menurunkan risiko-risiko tersebut. Anjuran yang direkomendasikan adalah olahraga berintensitas sedang sebanyak 150 menit per pekan atau olahraga berintensitas tinggi sekitar 75 menit per pekan.

Beberapa contoh olahraga berintenstias sedang adalah bersepeda dan berlari. Contoh dari olahraga berintensitas ebrat adalah burpees, battling rope , atau HIIT.

Studi juga menyoroti penitngnya pola makan yang sehat untuk menurunkan risiko penyakit jantung. Salah satu pola makan atau diet yang direkomendasikan adalah diet Mediterania. Diet ini berfokus pada sayur, buah, kacang, ikan, hingga lemak sehat seperti lemak tak jenuh.

"Diet Mediterania berkaitan dengan kondisi kesehatan kardiovaskular yang lebih baik," jelas peneliti dalam studi tersebut, seperti dilansir Fit and Well , Rabu (8/9).

Menjauhi kebiasaan minum alkohol dan merokok juga tak kalah penitng. Kebiasaan meminum alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko strok seiring waktu. Alkohol juga bersifat diuretik dan dapat menyebabkan dehidrasi, sehingga turut merusak ginjal dan kulit.

Berhenti dari kebiasaan merokok dinilai sebagai upaya pencegahan penyakit kardiovaskular yang berpotensi paling efektif menurut European Society of Cardiology . Upaya ini dapat menurunkan risiko serangan jantung dan kematian secara signifikan.

Artikel Asli