Loading...
Loading…
Etika Politik Nabi Muhammad SAW Merintis Toleransi (1)

Etika Politik Nabi Muhammad SAW Merintis Toleransi (1)

Nasional | rm.id | Senin, 06 September 2021 - 06:00

Sulit mencari padanan tokoh toleransi sebelum Nabi Muhammad SAW. Beberapa orientalis pengagum Nabi Muhammad seperti Philips K Hitti, Michel Hart, dan Thomas Carlyle, bahkan sangat terkesan dengan sikap toleransi Nabi Muhammad SAW.

Di antara mereka menyebutnya sebagai The Father of Tolerance terhadap Nabi Muhammad SAW. Mereka terkesan ketika Nabi Muhammad SAW menyelesaikan beberapa kasus antar umat beragama, seperti pada kasus perebutan kembali kota Mekkah ( Fathu Makkah ). Nabi meninggalkan tradisi perang Arab Jahiliyah, pihak yang kalah laki-lakinya dibunuh, perempuannya dijadikan budak. Nabi meninggalkan tradisi itu lalu memberikan kemerdekaan kepada kaum laki-laki dan perempuan.

Toleransi dalam arti menjalin hubungan yang harmonis antara berbagai komponen warga bangsa/ negara merupakan salah satu ciri khas ajaran Islam. Banyak ayat dan hadis yang menyatakan dukungan toleransi secara terbuka dengan berbagai komunitas masyarakat. Islam tetap menghargai agama, etnik, dan berbagai perbedaan yang terjadi di masyarakat.

Relasi antar umat beragama bukan hal asing bagi Nabi. Banyak contoh sejarah yang dilakukan Nabi yang sangat menakjubkan. Ia banyak ditolong dan menolong agama lain. Ketika Nabi masih remaja, melakukan misi perdagangan ke Syiria. Di sana, ia bertemu seorang pendeta yang melihat tanda-tanda ajaib di bahu Muhammad. Sang pendeta memintanya agar lebih baik segera kembali karena anak ini kelak akan menjadi orang besar, menjadi Nabi.

Peristiwa lain ketika Nabi baru saja mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira. Ia dipertemukan dengan seorang pendeta kenalan isterinya, dan sang pendeta menerjemahkan pengalaman Nabi Muhammad sebagai awal dari misi kenabiannya. Nabi Muhammad sejak awal kenabiannya sudah akrab dengan pendeta.

Original Source

Topik Menarik