Loading...
Loading…
Fahri Hamzah Sebut Politisi Terpilih Bukan karena Kualitas, Tapi dari Isi Tasnya

Fahri Hamzah Sebut Politisi Terpilih Bukan karena Kualitas, Tapi dari Isi Tasnya

Nasional | radartegal | Senin, 06 September 2021 - 04:00

Biaya politik di Indonesia sangat mahal. Nilainya bisa mencapai triliunan rupiah untuk pemilu presiden (pilpres), pemilu legislatif (pileg), dan pemilihan kepala daerah (pilkada).

Hal ini menjadi bumerang bagi sistem demokrasi dan keberadaan partai politik (parpol).

"Hal itu melahirkan praktik-praktik korup yang dilakukan para politisi atau pejabat yang terpilih. Karena keterpilihan mereka tidak ditentukan kualitas dan kapabilitasnya. Tapi isi tas atau besaran dana politik yang bersumber dari kantong pribadi maupun penyandang dana," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah di Jakarta, Minggu (5/9).

Menurutnya, tidak mengherankan apabila ketika para politisi atau pejabat terpilih dalam jabatan tertentu, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana mengembalikan biaya politik yang telah dikeluarkan. Tujuannya agar balik modal.

Hampir tidak ada klaster politik yang tidak ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kasus terbaru adalah seorang anggota DPR RI dengan istrinya yang menjabat Bupati Probolinggo.

Fahri menyebut kerusakan sebuah negara demokrasi, bisa dilihat setidaknya dari tingkah laku parpolnya. Terutama yang masuk dalam lingkaran kekuasaan.

"Segera dilakukan pembenahan agar parpol dan sistem demokrasinya sehat. Partai politik itu sebenarnya lembaga pemikiran untuk mengintroduksi cara berpikir dalam penyelenggaraan negara. Namun sekarang justru menjelma menjadi mesin kekuasaan," urai mantan Wakil Ketua DPR RI ini.

Negara yang beres, sistem politiknya harus bebas korupsi. Sehingga sistemnya harus ditata dan dikelola dengan baik. Termasuk soal pembiayaan politik.

"Saya juga tidak mau kalau calon anggota legislatif dibiayai partai. Karena kalau dia bersalah, partai politik akan mengambil kepemilikannya," terang Fahri.

Dia menilai pembiayaan politik yang mahal sebenarnya bisa disiasati dan ditekan seminimal mungkin. Misalnya menggelar pertemuan secara virtual dibandingkan bertemu tatap muka. (rh/zul)

Original Source

Topik Menarik